Sekilas Info

Maluku Rawan Gempa dan Tsunami di Dunia, BMKG Tambah 14 Alat Baru Cepat Sebar Informasi

satumalukuID- Maluku merupakan bagian dari wilayah jalur aktif gempa bumi. Kondisi fisiografinya sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik utama di dunia. Yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Tiga lempeng tektonik itu bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan lainnya. Aktivitas ini menjadikan wilayah Maluku sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di Indonesia, bahkan di dunia.

Demikian diungkapkan Kepala BMKG Stasiun Geofisika Ambon, Sunardi, dalam siaran persnya yang diterima satumalukuID, Selasa (16/6/2020). Menurutnya, sebagai salah satu daerah rawan, pihaknya kemudian menambahkan sebanyak 14 unit peralatan berteknologi baru. Alat untuk penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami secara cepat itu bernama Warning Receiver System (WRS) NewGen.

Belasan peralatan WRS NewGen ini terpasang di Ambon sebanyak 3 unit, Kepulauan Tanimbar 3, dan masing-masing 1 unit dipasang di Buru, Buru Selatan, Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru.

Sejak Tahun 2008 silam, BMKG telah memasang sebanyak 275 peralatan WRS. 13 diantaranya berada di Wilayah Maluku. Namun, mengingat peralatan tersebut masih sangat dibutuhkan Pemerintah Daerah dan kantor Lembaga/Kementerian terkait, sehingga di tahun 2020 ini, pihaknya kembali memasang WRS generasi terbaru di 315 lokasi. 14 titik diantaranya berada di Maluku.

“WRS generasi baru ini menggunakan teknologi terbaru yang memiliki nama baru yaitu “WRS NewGen” dan berbeda dengan WRS sebelumnya. WRS NewGen merupakan terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami. Alat ini akan memberikan informasi gempa secara lebih cepat karena bersifat real time,” kata Sunardi.

Dia berharap, pemasangan peralatan tersebut lebih meningkatkan performa penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami dari BMKG Pusat Jakarta ke kantor unit pelaksana teknis BMKG, Pemerintah Daerah, Lembaga/Kementerian, Media, dan lembaga lainnya yang terkait penanganan bencana.

“Dengan adanya percepatan penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami, maka akan dapat mempercepat respon dalam penanganan bencana, sehingga dapat memberikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana,” ujarnya.

Sunardi menjelaskan, wilayah Maluku selain sangat dipengaruhi aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik utama di dunia, daerah ini juga memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, Maluku memiliki 2 sumber gempa subduksi laut Banda Bagian Utara dan laut Banda Bagian Selatan.

Selain itu, wilayah Maluku juga memiliki tidak kurang dari 30 segmentasi sesar aktif dari total 295 segmentasi sesar aktif yang telah terpetakan. Berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks tersebut, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalamannya.

Hasil monitoring BMKG Stasiun Geofisika Ambon menunjukkan, selama periode 2011-2019, rata-rata dalam setahun, gempa terjadi sebanyak 1.000 hingga 1.500 kali. Gempa terajadi signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 60 kali. Tidak kurang dari 40 kali kejadian tsunami pernah terjadi di Maluku. Salah satu tsunami dahsyat terjadi pada tahun 1.674 di Ambon yang mengakibatkan lebih dari 2.000 korban jiwa.

“Sebagai salah satu implementasi dari tugas dan kewajiban BMKG yaitu menyediakan informasi gempa dan peringatan dini tsunami, maka pihaknya melaksanakan kegiatan pemasangan alat WRS di berbagai wilayah rawan gempa dan tsunami di Indonesia termasuk Maluku,” pungkasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!