Sekilas Info

KESEHATAN

DPRD Maluku Soroti Dugaan Penolakan Pelayanan Rumah Sakit kepada Pasien Non Covid-19

Foto: ANTARA/ Daniel Leonard Rapat DPRD Maluku menyoroti penolakan pasien dari sejumlah rumah sakit di Kota Ambon terhadap pasien non-COVID-19.

satumalukuID - Tim pengawas Covid-19 DPRD Maluku menyoroti penolakan sejumlah rumah sakit  di Kota Ambon terhadap pasien selain Covid-19, hingga ada yang meninggal tanpa penanganan medis.

"Faktanya di lapangan ada pasien yang tidak berkaitan dengan virus corona ditolak dengan alasan keterbatasan tenaga dokter maupun tidak adanya ruang isolasi, sehingga perlu ada penjelasan dari pihak rumah sakit," kata Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimury di Ambon, Senin.

Penegasan tersebut disampaikan Wattimury saat memimpin dapat kerja tim pengawas Covid-19 DPRD Maluku bersama Kadis Kesehatan provinsi dan tiga direktur rumah sakit swasta di Kota Ambon.

Menurut dia, pihak rumah sakit setidaknya bersifat lebih transparan dalam memberikan informasi kepada setiap pasien yang datang untuk meninap dan mejalani perawatan medis.

Hal senada juga disampaikan wakil Ketua DPRD Maluku, Abdul Asis Sangkala.

"Ada salah satu RS swasta di Kota Ambon juga melakukan penolakan pasien demam berdarah dengue, dan bukan saja rumah sakit swasta lainnya yang menolak pasien hendak bersalin," ujar Asis Sangkala.

Direktur RS Sumber Hidup, dr. Maytha Pesik mengatakan, selama memberikan pelayanan berusaha untuk tidak pernah menolak satu pun pasien yang masuk, bahkan pasien Covid-19 juga dilayani, walau pun dengan fasilitas yang agak minim.

"Kami mengapresiasi tim pengawas Covid-19 DPRD provinsi telah mengundang RS swasta untuk mendengar suara kami dan terima kasih atas bantuan APD dari Dinkes kepada kami dengan estimasi pemakaian sekitar satu minggu," ujarnya.

Untuk informasi penolakan pasien, dia mengaku sangat miris dengan pemberitaan di media sosial dan ada pemberitaan yang dilakukan tanpa adanya konfirmasi.

"Kami hanya menutup pelayanan apabila ruang instalasi gawat darurat dilakukan sterilisasi atau penyemprotan disinfektan, itu pun hanya dua jam dan walaupun menutup UGD namun posko skrining kami tetap jalan dan letaknya di depan UGD," jelas dr. Maytha.

Skrining ini dilakukan untuk mengetahui kondisi seorang pasien apakah kondisinya dapat dilakukan perawatan, isolasi mandiri, atau kalau memiliki gejala Covid-19 maka diarahkan ke RS rujukan.

Untuk pasien non Covid-19, seperti ibu-ibu bersalin tetap diterima namun mengalami peningkatan jumlah pasien akibat penutupan pelayanan di beberapa RS lainnya.

Jadi untuk pasien yang belum waktunya menjalani persalinan diarahkan untuk pulang, itu pun sudah melalui pemeriksaan bidang akibat banyaknya pasien bersalin.

"Ada dua media sosial yang membawa-bawa nama RS Bhakti Rahayu, satunya pasien anak dan yang lainnya pasien dewasa sama sekali tidak benar, malahan kami yang mengarahkan pasien tersebut untuk mendapatkan fasilitas pelayanan di RS rujukan, dan kami juga kebingungan kalau RS rujukan menolak pasien lalu mau dibawa ke mana," ujarnya.

RS Bhakti Rayahau tidak mungkin menerima pasien kalau tidak memiliki fasilitas perawatan yang memadai, seperti keterbatasan dokter ahli paru-paru, ruang isolasi, atau pun alat ventilator, sehingga rujukan ini dilakukan setelah berkoordinasi dengan Dinkes Kota Ambon.

Baca Juga

error: Content is protected !!