Sekilas Info

OPINI

Perambahan Hutan dan Pendemi Corona (Zoonosis)

satumalukuID/Pixabay Ilustrasi hutan tropis

Saya pernah membuat sebuah lagu berjudul “Pesta Binatang”. Dalam imajinasi saya, hewan-hewan hutan hidup berdampingan dengan aman satu sama lainnya pada habitatnya di hutan. Sesekali mereka berkumpul melaksanakan pesta di suatu tempat, dan hal itu menyulitkan pemburu-pemburu liar untuk mencarinya. Akankah hewan-hewan ini “stay at home” dengan nyaman tanpa terganggu oleh apa pun?

Membaca topik di atas pastilah muncul pertanyaan besar pula, apa hubungannya antara perambahan hutan dengan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)? Karena membicarakan hutan maka konteks pemikiran kita hanya akan mengarah kepada kehadiran sekumpulan pohon, yang terdistribusi pada luasan tertentu, yang memiliki dampak ekonomi dari perdagangan kayu dan hasil hutan non kayu. Termasuk jasa lingkungan, misalnya yang bermanfaat untuk mengurangi emisi karbon ke udara.

Tulisan ringkas ini mencoba menggambarkan hasil ikutan yang ada di dalam hutan, dan dampak perambahan hutan secara tidak terkendali (deforestasi) terhadap hadirnya pandemi Covid-19, atau munculnya berbagai virus yang menyerang manusia. Kebanyakan epidemi yang meluas menjadi pandemi, dimulai dengan apa yang disebut sebagai ‘zoonosis’, dimana suatu penyakit membuat lompatan dari habitatnya atau tempat penampungan hewan ke manusia.

Perambahan hutan secara besar-besaran akan membuka peluang kemungkinan terkoneksinya dan terkontaminasinya manusia secara langsung dengan hewan-hewan, yang pada awalnya tidak saling terganggu. Hewan-hewan (satwa liar) ini memiliki patogen yang sudah pasti akan mencari korban baru yaitu manusia. Ketika hutan dihancurkan, maka berbagai penghuni hutan tersebut akan berusaha menemukan habitat atau tempat baru, dimana pada akhirnya kontak langsung dapat terjadi dengan manusia.

Dalam perjalanan saya ke Korea di tahun 2019, saya menyaksikan begitu banyak hewan-hewan hutan yang diperjual belikan di pasar-pasar tradisional baik secara mentah mapun yang sudah dimasak.  Darimana mereka berasal?

Kera di Pulau Bacan (Yakis Bacan) tidak lagi memiliki rumah untuk tinggal. Mereka kehilangan arah dan sepertinya putus asa, karena tidak memiliki rumah dan akhirnya tersesat di lingkungan masyarakat atau manusia. Rumah baru ini membuka peluang patogen hewan liar melompat dari satwa liar ke manusia.

Perburuan liar di dalam hutan, perdagangan kayu besar-besaran, dan konsumsi satwa liar memunculkan zoonosis baru. Zoonosis adalah berbagai penyakit dan infeksi yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Zoonosis tidak membuat hewan sakit, namun membuat manusia sakit. Ditemukan ada berbagai jenis penyakit zoonosis. Hewan bisa membawa kuman berbahaya, seperti bakteri, jamur, parasit, dan virus, yang kemudian berpindah pada manusia hingga menyebabkan timbulnya penyakit.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 61 persen dari semua penyakit yang terjadi pada manusia berasal dari zoonosis. 75 persen penyakit baru yang ditemukan dalam dekade terakhir ini juga oleh zoonosis. Beberapa jenis penyakit zoonosis yang dapat terjadi seperti  Coronavirus memiliki banyak jenis, yaitu SARS-CoV, MERS-CoV dan Novel Coronavirus yang saat ini mewabah. SARS- CoV berasal dari kelelawar dan musang yang dimana ketika dikonsumsi manusia dapat menyebabkan gangguan pada pernapasan. Lalu, MERS-CoV yang dapat ditularkan melalui kontak atau mengkonsumsi unta atau kelelawar. Baru-baru ini, Novel Coronavirus awalnya berasal dari konsumsi hewan liar seperti ular dan kelelawar. Coronavirus dapat menyebabkan pneumonia dengan gejala batuk berdahak, demam, dan kesulitan bernapas.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention)  memperkirakan, tiga perempat penyakit menular manusia berasal dari satwa liar – mungkin ada 1,6 juta potensi virus zoonosis. MERS kemungkinan berasal dari unta dromedaris; campak dan TB dari sapi, AIDS dari primata, flu burung dari burung. Sekitar 99,8% genom SARS serupa dengan Coronavirus musang (banyak musang dibantai setelah SARS melanda. “Flu Spanyol” tahun 1918, diduga dari peternakan babi midwestern Amerika Serikat. Setelah dilacak, COVID-19 tampaknya berasal dari kelelawar melalui trenggiling.

Data kerusakan hutan tropis pada tahun 2018 mencapai 120 ribu kilometer persegi atau setara 30 lapangan bola. Sedangkan pada tahun 2019, Forest Watch Indonesia melaporkan bahwa seluas 1,47 Juta hektare hutan hilang tiap tahun.

Selanjutnya terlepas dari persoalan izin kawasan hutan yang menjadi polemik, karena saat ini dikelola Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang sebelumnya dikelola oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (Kementerian KLHK). Yang jelas hutan semakin berkurang karena terjadi alih fungsi dan tumpang tindih regulasi dan kebijakan. Dimanakah penghuni-penghuni hutan ini harus mencari rumah? Atau biarkan saja satwa-satwa ini beradaptasi dengan manusia atau menularkan penyakit kepada manusia karena tidak higienis dalam pengelolaannya. Atau membiarkan saja perburuan liar berjalan secara alamiah karena itu kebutuhan masyarakat? Bagaimana dengan perdagangan satwa liar dari hutan yang marak di mana-mana?

Belajar dari pengalaman pandemi Covid-19 dan virus-virus yang lain sebelumnya, sudah saatnya hutan dalam manfaat dan fungsi yang multi aspek besar, terutama yang berhubungan dengan kesehatan manusia haruslah menjadi perhatian kita bersama ke depan.

Penulis: Ronny Loppies, Direktur Ambon Music Office dan dosen pada Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon.

 

Penulis: Ronny Loppies
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!