Sekilas Info

OPINI

Musik Tradisional Tifa dan Suling Bambu Diantara Realitas dan Harapan

satumalukuID/Embong Salampessy Ilustrasi peniup suling

Suatu Perspektif Tentang Eksistensi Musik Tradisi dalam konteks Ambon Sebagai Kota Musik Dunia

Introduksi

Ancaman Covid 19, yang dikenal sebagai wabah global, membuat semua orang merasa khawatir, dan sangat berhati-hati untuk beraktivitas. Semua orang hanya boleh melakukan kegiatan berdasarkan protokol kesehatan pemerintah, atau yang berhubungan dengan kebutuhan pokoknya saja. Lebih dari itu masyarakat disarankan memilih hanya tinggal dan bekerja dari rumah (stay at home).

Banyak orang semakin tidak mempunyai ruang kesempatan melakukan berbagai kegiatan, seperti yang lazimnya dilakukan sebelum ancaman Covid 19 ini. Di sana-sini sudah tidak terdengar lagi orang menabuh tifa. Bunyi  suling yang sering mengalur merdu di mana-mana, sepertinya untuk sementara tidak akan terdengar juga. Karena memang aktifitas semua orang lebih terfokus pada upaya mencegah serta menangani bencana berskala global, yang sungguh mengancam hidup manusia ini.

Terhadap realitas yang disebutkan di atas, menurut penulis kiranya perkara Covid 19 tidak lalu mendominasi dan melemahkan ketersediaan ruang, dan secara kreatif menyisihkan waktu dan kesempatan untuk menabuh, toki atau pukul tifa, serta meniup suling bambu di keseharian kehidupan kita.

Artinya di rumah-rumah tinggal atau lingkungan tempat kita berada, sambil menunggu situasi abah ini kondusif, kita bisa  menghabiskan waktu dengan bunyi tifa dan suling bambu. Ini bisa mewarnai berbagai dinamika pergulatan kita dalam membangun suatu aktifitas di rumah tinnggal kita pada setiap hari.

Kebudayaan suatu masyarakat adalah merupakan induk dari suatu kesenian rakyat. Eksistensi kesenian setiap daerah di Indonesia, dimulai sejak adanya suku-suku bangsa tersebut. Kesenian sebagai produk kebudayaan telah hidup menyatu dengan masyarakatnya, serta melewati suatu perjalanan panjang, sejak masa pra-Hindu, zaman Hindu, zaman Islam, masa desiminasi dan perdagangan Barat, bahkan sampai pada zaman kemerdekaan.

Demikian juga dalam konteks di Maluku secara makro dan Kota Ambon secara mikro. Bahwa seni-seni musik tradisi merupakan bagian yang integral dari kehidupan masyarakat. Musik tradisi tifa dan suling bambu, adalah merupakan musik tradisi yang begitu melekat dalam keberadaan hidup masyarakatnya.

Suling bambu yang pada awal kehadirannya di Maluku pada zaman desimansi Belanda pada akhir abad 17, dan musik tifa golongan musik membranofon (sumber bunyinya membran atau selaput kulit) (M.Soeharto, 1989 : 52) yang berasal dari wilayah Indocina Kuna (F.X. Suhardjo Parto, 1996 : 11).

Adalah jenis alat musik tradisi yang perlu diapresiasi, dipelihara dan dilestarikan selalu dalam seluruh eksistensi masyarakat pendukungnya, di tengah-tengah hegemoni musik Barat yang begitu gencar pertumbuhan dan perkembangannya belakangan ini.

Pengaruh musik barat terhadap seni-seni tradisi kita masyarakat Kota Ambon sebagai kota musik dunia, perlu dilihat sebagai suatu sumbangan yang sangat berarti bagi pengembangan musik-musik tradisi kita. Sebab musik tradisi yang terkadang dilihat begitu sederhana perlu direvitalisasi, inovasi dan dikembangkan menuju tahap mantap dan terpercaya dalam peradaban masyarakat pendukungnya.

Seperti disebutkan Yohanes Mardimin, bahwa: Seni tradisi juga bukanlah barang mati, seni tradisi secara kronologis selalu berubah untuk mencapai tahap mantap menurut tata nilai hidup pada zamannya. Dengan demikian seniman dituntut untuk selalu pandai menyesuaikan diri. Pelestarian seni-seni tradisi tidak mempunyai keharusan untuk mempertahankannya seperti semula, perubahan sebagai arahan bukan berarti merombak, melankan membenahi salah satu atau beberapa bagian yang dirasa tidak memenuhi selera masa kini. (Yohanes Mardimis, 2002 : 146).

Berdasarkan konsep tersebut maka, dirasa perlu memberikan ruang untuk komunitas orkes tifa, dan suling bambu, turut memberi warna dalam konteks berkesenian di Kota Ambon.

Artinya kebiasaan untuk setiap orang mengalami hal menabuh tifa, (toki atau pukul tifa), dan meniup suling bambu, mesti selalu dibiasakan secara terus menerus berlangsung dalam aktifitas masyarakatnya.

Komunitas tiup suling bambu dan tabuh tifa pada kalangan masyarakat yang tergabung dalam sanggar kesenian di desa-desa, negeri, dan kampung-kampung harus semakin dihidupi dan malah dikembangkan secara sistimatis. Sehingga tetap produktif, biar pun kita sementara menghadapi virus yang sangat mengancam hidup.

Dalam suasana Covid 19 yang membuat semua orang bekerja dan beraktivitas dari rumah, lalu kemudian memberikan peluang bagi seniman, musisi, elemen masyarakat, pemerhati musik, seniman pelatih sanggar sanggar seni, dalam wilayah kota musik dunia ini. Supaya semakin kreatif dapat memprakarsai komunitas anak-anak usia sekolah, ramaja, pemuda untuk tabuh tifa, dan tiup suling bambu secara terus menerus.

Karena dengan menabuh tifa terjadi suatu stimulasi ritmis yang dapat digunakan secara efisien, sebagai pembuka jalan atau pencatat struktur ketepatan waktu, koordinasi spasial, memotivasikan gerakan ritmis (Thaut, 1985, dalam Jhohan, 2006 : 154). Stimulasi ritmis juga dapat mempengaruhi aktifitas otot. Otot dapat menjadi lebih aktif dan bekerja lebih efisien ketika gerakan disinkronisasikan dengan irama (selanjutnya menurut Jhohan, 2006 : 154).

Budaya menabuh tifa dan tiup suling bambu adalah sebuah tradisi yang sudah lazim dalam kultur orang Maluku pada umumnya, dan Ambon secara khusus. Orang Ambon di Pulau Ambon, desa dan kampung-kampung di Kecamatan Sirimau, Nusaniwe, Baguala, Teluk Ambon dan Kecamatan Leitimur selatan, kebiasaan tiup suling bambu, dan tabuh tifa adalah bagian yang sangat integral dari hidup masyarakatnya.

Tanpa event masyarakat sudah terbiasa memainkan alat-alat musik ini secara spontan. Karena itu mari kita hidupkan lagi, supaya bunyi (sound) tifa dan suling bambu itu, dapat kembali memberi roh dan energi baru musik tradisi dalam atmosfir berkesenian musik, dalam konteks Ambon City of Music.

Musik tradisi merupakan kekuatan alam yang berada di dalam manusia. Namun kekuatan alam tersebut tidak mencerminkan alam luar, walaupun dayanya di dalam alam manusia dan di alam luar sama saja. Maka dari itu musik tidak merupakan semacam gambaran alam luar. Yang ditonjolkan dengan bunyi-bunyian itu, adalah keinginan manusia sendiri. Bunyi-bunyi sendiri adalah sesuatu yang mati, dan yang hidup di dalam bunyi itu adalah keinginan manusia dalam bunyi itu (Ernst Kurth, dalam Dieter Marck, 1995 : 34-35).

Musik tifa dan suling bambu tidak hanya menjadi penghias, atau ornamen pelengkap di rumah-rumah tinggal kita semata-mata, melainkan tifa dan suling bambu yang hampir dimiliki oleh kebanyakan orang, harus ditabuh, ditiup selalu. Sehingga menjadi hidup lagi dalam arena berkesenian musik tradisi di kota kreatif berbasis musik.

Penetapan Ambon Sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO

Suatu realitas yang begitu urgensi dalam ranah sejarah dan kehidupan industri musik di tanah air, bahwa tepat pada 31 Oktober 2019, Kota Ambon ditetapkan sebagai kota musik dunia oleh UNESCO. Suatu penantian yang berujung dengan penetapan UNESCO ini boleh terjadi, karena kerja keras dari Pemerintah Kota Ambon dan seluruh elemen masyarakat yang terkait, dan khususnya sumber daya manusia yang tergabung dalam Ambon Music Office yang dipimpin oleh Ronny Loppies. Termasuk dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) RI.

Syarat utama untuk diakui sebagai salah satu kota musik dunia ini, maka ada lima ( 5 ) pilar utama yang mesti dipenuhi, antara lain: Melatih sumber daya manusia di bidang musik, instruktur musik, adanya studio rekaman, sekolah musik, dan nilai-nilai sosial budaya yang dihasilkan melalui musik (Ronny Loppies, 2019, 2020).

Syarat-syarat yang disebutkan, semuanya telah terpenuhi sehingga kota Ambon dapat diakui dan ditetapkan UNESCO oleh Audrey Azoulay, sebagai kota kreatif berbasis musik. Sebagai warga kota kita semua bersyukur atas kasih karunia dari Tuhan Yang Maha Esa ini, boleh kita nikmati bersama sebagai warga kota Ambon.

Rasa syukur kita akan menjadi hidup ketika secara kreatif ada inovasi, revitalisasi, pengembangan dan bahkan harus selalu produktif dalam kehidupan berkesenian musik kita di kota kreatif berbasis musik ini. Melalui musik apakah musik barat atau musik tradisi, harus bisa menjadi bagian yang turut mewarnai kehidupan kita bersama. Dengan begitu kita sudah bertanggungjawab mengawal kesepakatan dan komitmen kita dengan pihak UNESCO tentang lima (5) pilar utama seperti yang disebutkan.

Tradisi memainkan alat musik seperti yang dimaksud dalam konteks tulisan ini, tifa dan suling bambu, tidak harus menunggu moment atau suatu even tertentu. Namun memainkan tifa dan suling bambu harus lahir secara spontan dan sukalela dari semua komponen masyarakat. Artinya semua orang merasa wajib atau berkeinginan yang luhur tanpa direkayasa, untuk dapat memainkan alat musik miliknya sendiri.

Sebagai suatu konsekwensi dari kota yang bertajuk kota kreatif berbasis musik, ruang selebar-lebar disiapkan supaya melalui bermusik secara kreatif keberpihakan kita kepada pengrajin musik dan kelompok tradisi ini boleh hidup (pembuat suling bambu dan tifa).

Kelompok sanggar seni atau organisasi kesenian musik yang begitu banyak bertumbuh dan berkembang di kota kreatif berbasis musik, silahkam mengagas suatu even festival menabuh tifa (toki/pukul tifa) dalam kelompok orkestrasi menabuh tifa dengan berbagai pola rithem.

Budaya suling bambu, saya apresiasi untuk Moluccas Bamboowind Orchestra (MBO) oleh Rence Alfons, yang sudah menghidupkan kembali peniup-peniup suling bambu kita, yang lahir dari kebiasaan tradisi, sehingga menjadi lebih kreatif dan produktif. Tinggal dipikirkan bagaimana inovasi berikutnya. Dalam hal untuk memasukan suatu unsur budaya dan seni dalam proses pewartaan, hanya mungkin jika budaya dan seni itu menjadi milik manusia setempat yang sungguh mencintai dan memilikinya (Mathias Supriyanto, 2002: 69).

Demikian juga, rasa keindahan orang akan mencapai puncaknya bilamana pada suatu karya seni, dapat tergabung pengungkapan perasaan yang kuat dan perpaduan setulusnya yang sempurna (Erich Kahler, 1997: 72).

Tentang berbagai nilai sosial yang didapat dari berbagai khasanah musik tradisi tifa dan suling bambu sebagai kearifan orang di Ambon, perlu untuk mendapat suatu kajian. Tifa dan suling bambu (ditiup secara horisontal / melintang), merupakan musik tradisi Ambon yang secara konfensional sudah menjadi instrumen yang begitu melekat dalam tradisi lokal orang-orang di Ambon.

Sebab itu Tjejep Rohadi menyebutkan, kesenian merupakan salah satu unsur universal dari kebudayaan, dan dalam pengertian ini tersirat bahwa kesenian telah menyertai kehidupan manusia sejak manusia itu mengembangkan potensi kemanusiaannya. Kesenian menyertai di mana-pun dan kapan-pun, manusia itu berada. Betapapun sederhana dan terbatasnya kehidupan manusia, ia senantiasa menyisihakan waktunya, untuk mengekspresikan dan menikmati keindahan (Thetjep Rohendi, 2000 : 114).

Karena itu mendorong terjadinya kebiasaan menabuh tifa, meniup suling bambu dalam konteks orang Ambon, adalah suatu kebiasaan yang tidak semata-mata untuk mencapai suatu ekspresi dan kenikmatan keindahan. Namun bagaimana ekspresi tentang keindahan itu sendiri dicapai ketika
seberapa jauh peranan dari instrumen musik tradisi itu, dapat mentransformasikan berbagai nilai dan
makna sosialnya bagi suatu kemanusiaan.

Secara tegas Read mengatakan, sebenarnya pekerjaan seniman mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk menyenangkan. Dengan demikian secara sederhana seni musik tradisi dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang sedemikian itu memuaskan kesadaran keindahan kita, dan rasa indah ini terpenuhi, bila kita bisa menemukan kesatuan atau harmoni dalam hubungan bentuk-bentuk dari kesadaran persepsi kita (Herbert Read, 2000 : 1-2).

Beberapa pilar sebagai syarat utama pada awal penetapan kota Ambon sebagai kota kreatif berbasis musik oleh UNESCO, memang telah terpenuhi. Diantaranya studio musik yang berada di area kampus Universitas Pattimura (Unpatti) dan Pusat Studi Etnomusikologi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sekolah yang menyediakan jurusan musik di SMK Neg 7, serta Fakultas Seni Keagamaan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon dengan Program Studi Pendidikan Seni Musik dan Musik Gereja. Adalah lembaga akademik yang turut berkontribusi bagi ketersediaan sumber daya yang handal dibidang musik.

Demikian juga ada beberapa kelompok music private, yang pengajarnya adalah merupakan alumni prodi musik IAKN dan Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ISI Surakata, Universitas Imanuel Yogyakarta, bahkan Program Studi Seni Pertunjukan Duta Wacana Salahtiga, turut berkontribusi bagi ketersediaan sumber daya musisi di kota Ambon dan sekitarnya.

Selain itu secara natural begitu banyak musisi yang mempunyai potensi dan kapasitas musik yang tidak diragukan lagi kemampuan musikalitasnya. Semuanya ini menjadi warna untuk memboboti atmosfir berkesenian musik dalam konteks Ambon sebagai kota musik dunia.

Berbagai peristiwa kesenian musik di kota ini sementara dirancang dan terus didorong adalah, melibatkan masyarakat kesenian dari negeri dan kampung-kampung dari berbagai kecamatan se-Kota Ambon, untuk dapat mempunyai kesadaran yang memadai untuk berapresiasi, dan mencintai berbagai kesenian musik tradisi secara sukarela, spontan, dan militansi serta fanatis terhadap daya
kepemilikannya.

Dalam konteks ini, tifa dan suling bambu atau alat instrumen tradisi lain yang tidak disebutkan, adalah alat musik tradisi milik kita sebagai orang Ambon. Masyarakat harus digelisahkan supaya dapat berpatisipasi aktif terlibat secara bersama, diminta ataupun tidak diminta untuk mendorong suasana musikalitas di kota ini dapat berjalan dengan baik.

Memainkan atau menabuh tifa, meniup suling bambu, adalah sebuah keharusan secara spontan, tanpa direkayasa oleh siapaun juga. Tegasnya masyarakat memainkan alat musik itu secara sukarela, dibayar ataupun tidak dibayar, memainkan musik tradisi tifa dan sulimg bambu adalah sebuah peradaban sebagai masyarakat yang hidup dalam kota kreatif berbasis musik.

Secara pribadi penulis memberi apresiasi bagi Pemerintah Kota Ambon, telah menggagas penerbitan kurikulum lokal musik tradisi, dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, pada dinas pendidikan kota Ambon. Sebuah langkah maju, kebijakan ini sebagai bentuk dukungan supaya masyarakat kota ini lewat anak-anak usia sekolah sebagai generasi melinial, tidak terjebak dengan dominasi modernisasi yang cenderung menawarkan hal-hal baru, dan dapat membuat generasi Ambon menjadi lupa dengan apa yang menjadi miliknya sendiri.

Bahwasannya pada suatu saat orang memandang perlu untuk menyelenggarakan apresiasi seni jelas menunjukan bahwa disaat itu terjadi kepincangan, yaitu adanya jarak antara seni dan masyarakat. Gejala itu nampaknya suatu hal yang melekat pada dunia modern ini (Soedarso,Sp, 78).

Harapan

Dalam hal berkesenian tradisi, semua pekerjaan seniman atau musisi itu mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk menyenangkan. Artinya seorang seniman, musisi, merasa suatu kepuasan batinnya, apabila karya hasil garapannya itu, disenangi orang, dinikmati khalayak ramai dan berguna bagi masyarakat.

Dengan demikian secara kesenian musik, dalam konteks Ambon sebagai kota kreatif berbasis musik, dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan.

Selanjutnya pendapat Read, Bentuk yang sedemikian itu, memuaskan kesadaran keindahan kita dan rasa indah ini, dapat terpenuhi bila kita bisa menemukan kesatuan atau harmoni dalam hubungan bentuk-bentuk dari kesadaran persepsi kita.

  1. Seni musik tradisi itu diciptakan oleh manusia dan untuk manusia.
  2. Seni musik tradisi tidak dapat direkayasa, atau diimajinasi begitu saja.
  3. Dalam karya seni musik tradisi, diperlukan sangat faktor komunikasi.
  4. Capaian kehadiran seni musik tradisi, tidak semata-mata untuk kepentingan estetika keindahan, tetapi banyak aspek sosial lain yang menjadi target capaiannya kelak.
  5. Untuk menangkap nilai-nilai yang terkandung dalam seni musik tradisi, dibutuhkan orang-
    orang yang mencintai seni musik tradisi dan mengerti seni tradisi. (Wahono, 2000 : 19)
  6. Seni musik tradisi bukanlah kegiatan bersifat jasmani semata, tetapi juga kegiatan rohani
  7. Secara ideal orkes perkusi tifa dengan berbagai fariasi pola rithem, pada waktunya nanti
    akan ada, dalam konteks kita di kota Ambon sebagai kota kreatif yang berbasis musik.

Terima kasih, Hormat


Penulis: Agus. C.W. Gaspersz, dosen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon dan seniman, tinggal di Ambon.

Baca Juga

error: Content is protected !!