Sekilas Info

PENANGANAN COVID 19

Pandemi Covid-19 Momentum Kebangkitan Pangan Lokal, Pattiasina: Jangan Pandang Enteng

satumalukuID- Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda dunia berdampak besar terhadap berbagai bidang kehidupan. Salah satunya adalah persoalan pangan yang akan menjadi masalah serius karena terganggunya produksi, distribusi dan kesulitan lapangan pekerjaan. Situasi ini harus menjadi momentum untuk membangkitkan pangan lokal.

Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Engelina Pattiasina, mengatakan, dalam situasi seperti ini, perlu adanya pengelolaan secara baik, dan terukur. Persoalan pangan, lanjut dia, jangan dianggap enteng, karena ini berkaitan langsung dengan persoalan perut.

“Saya kira, mulai mengelola lahan untuk mengembangkan pangan lokal dapat menjadi jalan keluar untuk pemenuhan pangan. Jadi jangan pandang enteng,” kata Engelina Pattiasina kepada wartawan melalui telepon genggamnya, Minggu (17/5/2020).

Secara nasional, Presiden Joko Widodo, kata Engelina, telah menginstruksikan untuk mengelola lahan gambut dan belum melirik kekuatan pangan lokal.

Menurutnya, pemerintah perlu menginstruksikan pengembangan pangan lokal, baik di level nasional maupun daerah.

“Kalau kita mau impor, apakah ada negara yang mau melepas stok pangannya dalam situasi seperti saat ini? Tidak ada jalan lain, kecuali kita membangkitkan pangan lokal yang selama ini tidak mendapat perhatian serius,” terangnya.

Dia mengatakan, saat ini belum terlambat untuk mengantisipasi kebutuhan pangan beberapa bulan ke depan. Karena, sejumlah umbi-umbian sudah bisa dipanen dalam periode tiga bulan.

“Sekarang waktu yang tepat untuk membangkitkan pangan lokal. Tapi, kepedulian pimpinan nasional dan daerah diharapkan melahirkan gerakan nasional untuk mewujudkan kedaulatan pangan,” tegasnya.

Engelina melihat upaya pemerintah memberikan bantuan paket sembako, hanya membantu dalam situasi darurat dan bertahan beberapa hari, atau tidak akan bertahan selama sepekan atau satu bulan.

“Kita butuh upaya nyata untuk beberapa bulan ke depan. Saya kira, orang pertanian tidak kesulitan untuk menemukan varietas umbi atau pangan lain, yang bisa dipanen beberapa waktu ke depan,” katanya.

Dia berharap dorongan untuk kembali ke pangan lokal bisa lebih heboh dari pada pembagian sembako dan bantuan tunai lainnya.

“Kita butuh langkah nyata dan keinginan politik untuk mewujudkan kedaulatan pangan," ungkap lulusan Ekonomi Politik dari Universitas Bremen, Jerman ini.

Terkait persoalan pangan tersebut, Engelina mengaku pernah menggagas sebuah pertemuan untuk membangkitkan kepedulian terhadap pangan lokal. Pertemuan itu berlangsung di Universitas Pattimura, Kota Ambon, beberapa waktu lalu.

Dorongan tersebut, lanjut dia, dilakukan dengan harapan terwujudnya kedaulatan pangan, bukan sekedar ketahanan pangan.

“Kalau ketahanan, kan bisa pangan darimana saja asalkan bisa memenuhi kebutuhan. Tapi, kedaulatan pangan, kita mampu untuk memproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan sendiri,” sebutnya.

Dia menilai, pergeseran pola makan yang terjadi selama ini telah menjadikan beras sebagai makanan pokok di seluruh Indonesia. Akibatnya, makanan pokok sagu, umbi-umbian, jagung dan kacang-kacangan tidak mendapat perhatian serius.

“Daerah yang tidak memiliki persawahan tetapi menjadikan beras sebagai makanan pokok, tentu sangat riskan,” sebutnya.

Olehnya itu, untuk membangkitkan pangan lokal, lanjut dia, tidaklah cukup menunggu kesadaran rakyat, tetapi butuh dorongan besar dari pemimpin agar mengarahkan energi dalam membangkitkan pangan lokal.

“Situasi saat ini sudah darurat, jadi tidak boleh direspon dengan cara yang biasa-biasa saja. Kalau keliru, nasib rakyat akan menjadi taruhan. Ini tentu tidak kita harapkan,” harapnya.

Lantas, apa yang dapat dilakukan, kata Engelina, setiap pemimpin di berbagai level bisa mengeluarkan instruksi untuk menanam pangan lokal sesuai kewenangannya.

“Bantu rakyat untuk olah lahan. Kalau kita lakukan sekarang, beberapa bulan ke depan, sudah dapat dipanen,” katanya.

Engelina mengaku, apabila dalam situasi saat ini dijadikan sebagai momentum untuk membangkitkan pangan lokal, maka hal tersebut bukan saja sekadar solusi dalam situasi darurat, tapi juga akan menjadi solusi jangka panjang dalam pemenuhan pangan.

Di sisi lain, dalam pengelolaan pangan lokal. dia berharap pada setiap daerah perlu melibatkan perguruan tinggi. Sebab, pekerjaan tersebut pasti memiliki ahli dan penelitian mengenai pangan lokal.

“Mungkin saja ada banyak penelitian, program tapi tidak dilaksanakan dengan baik. Ini saat yang bagus untuk mengimplementasikan program pangan lokal, gandeng perguruan tinggi, dan Lembaga penelitian,” kata dia.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!