Sekilas Info

Lagi, Mahasiswa Demo Ingin Pulang di Kampung Halaman, Sekda Maluku: Bupati Bilang Sabar Dulu Pak

satumalukuID/Ian Toisutta Aliansi mahasiswa Kabupaten SBB menggelar unjuk rasa, di Amvon, Kamis (14/5/2020). Dua hari sebelumnya, Selasa (12/5/2020), mahasiswa asal Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kepulauan Aru, juga menggelar hal serupa. Mereka ingin pulang ke kampung halaman masing-masing.

satumalukuID- Dua kali sudah, aliansi mahasiswa dari berbagai daerah di Maluku menggelar aksi demontrasi di depan Kantor Gubernur Maluku, Kota Ambon. Intinya mereka ingin pulang ke kampung halaman masing-masing setelah seluruh jalur transportasi ditutup untuk penumpang.

Mahasiswa yang menggelar unjuk rasa hari ini Kamis (14/5/2020) adalah dari aliansi mahasiswa Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Dua hari sebelumnya, yaitu Selasa (12/5/2020), mahasiswa asal Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kepulauan Aru, juga menggelar hal serupa.

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku, yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Makuku, Kasrul Selang, mengaku, pihaknya maupun Pemerintah Daerah, bukannya enggan memperbolehkan para mahasiswa pulang ke daerah asal mereka. Namun pihaknya harus lebih dulu mengkoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten di daerah asal para mahasiswa tersebut.

"Dua kali kita di demo oleh adik-adik mahasiswa. Kami menerima mereka untuk mendengar aspirasinya. Kami luruskan kita tidak punya keinginan untuk tidak memulangkan. Cuma ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan,” kata dia kepada wartawan.

Berbagai pertimbangan matang, tambah Kasrul, harus difikirkan. Salah satunya berkoordinasi dengan pemerintah Daerah tempat asal para mahasiswa tersebut berdiam. Sebab, mereka saat ini berada di daerah yang telah terpapar Covid-19. Di sisi lain, daerah tempat tinggal mereka di sana, masih memiliki keterbatasan medis.

“Mereka ini dari Ambon, daerah yang sudah terpapar. Mereka akan ke sana yang dalam tanda kutip tidak tertular penyakit, sementara fasilitas kesehatan mereka (di sana) terbatas. Sebenarnya dasar kita itu. Kita tidak bermaksud tahan-tahan di sini. kita harus komunikasikan dengan Pemerintah di sana," ungkapnya.

Dari hasil koordinasi yang telah dilakukan, tambah Kasrul yang juga merupakan Sekretaris Daerah Maluku ini, beberapa Bupati meminta waktu agar mereka dapat menyiapkan tempat karantina, sebelum para mahasiswa tersebut dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

"Beberapa Bupati minta waktu dulu, sabar dulu pak, mereka datang 200 sampai 300 orang, kita akan karantina. Misalnya di Dobo, kalau mau menyeberang ke pulau-pulau atau desa sekitar, warga tidak mau terima kalau mereka belum dikarantina. Kalau karantina di Dobo, maka butuh persiapan, kalau tiba-tiba muncul 100 sampai 300 orang. Begitu juga untuk daerah lain,” kata dia.

Kasrul mengakui, hasil koordinasi dengan Bupati Seram Bagian Timur (SBT), pihaknya telah siap menerima para mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Kota Ambon. Para mahasiswa akan diterima dengan menggunakan prosedur tetap yaitu karantina.

“Tadi terakhir dengan Bupati SBT sudah bersedia terima adik-adik mahasiswa. Tentunya dengan protap sampai di sana dikarantina dan seterusnya. Dan kedua persoalan transportasi angkutan penumpang yang saat ini ditiadakan, kecuali transportasi logistik," tutupnya.

Untuk diketahui, aksi demo digelar puluhan mahasiswa asal SBB siang tadi di depan Kantor Gubernur Maluku, Jalan Pattimura Kota Ambon. Aksi berjalan selama beberapa menit kemudian dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian. Selain tidak mengantongi ijin, mereka juga dibubarkan karena telah menimbulkan kerumunan massa yang tidak sesuai dengan himbauan pemerintah. Kendati dibubarkan paksa, tidak terlihat adanya perlawanan berlebihan.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!