Sekilas Info

OPINI

Mama Tado Di Rumah Jua

satumalukuID/Pixabay Ilustrasi di rumah saja

Kalau ada pihak yang paling senewen selama anjuran untuk tetap tado di rumah nih, itu pasti katong, mama-mama. Corona datang mewabah dan tetiba semua aktifitas di luar rumah otomatis terbatasi. Bapa-bapa kantoran dan anak-anak sekolah, semua work from home & study from home. Mama-mama yang selama ini bekerja dan aktifitasnya di luar rumah pun, seperti terjebak untuk jadi full time mom. 24 hours ngurus rumah, anak-anak deng dong pung bapa.

Mungkin dampaknya tak begitu terasa bagi mama-mama yang selama ini total jadi IRT. Tapi par mama-mama wanita karir dong nih it's feels and seems like Bancana. Batul ka seng Mom's? Hehehe.

Jadi akang pung carita bagini Mom's..

Selama ribuan tahun, bapa-bapa dong "menjajah" mama-mama. Hegemoni patriarki yang memarjinalisasi dan mengsubordinasikan perempuan ini, kemudian melahirkan paham feminisme, gerakan emansipasi dan upaya persetaraan serta perlakuan yg adil atas semua gender.

Seharusnya ini membalikan keadaan menjadi menguntungkan bagi perempuan, apapun pilihan peran dan posisi dalam lingkungan sosialnya (cerita lengkapnya nanti ktong bahas lain waktu). Bahkan ketika mereka memutuskan untuk tetap di rumah dan 'hanya' jadi Ibu rumah tangga sekali pun.

Tapi apa daya. Di era modern nih, katong mengalami pergeseran nilai dan kehilangan esensi perjuangan kaum perempuan itu sendiri. Mungkin dari sisi emansipasi dan diterimanya perempuan di segala bidang karir, makin hari makin menunjukan kemajuan. Tapi di sisi lain peran ibu penuh waktu yg melahirkan, mangasah dan mengasuh generasi dunia malah dianggap sepele dan tidak keren.

Selama kurang lebih empat (4) atau lima (5) dekade katong didoktrin untuk jadi perempuan kantoran. Ale tatinggal jao di belakang kalo hanya tado di rumah dan urus anak.

Beta ingat persis, jamannya beta masih anak-anak hingga remaja, beta sering dengar orang tatua nasehatkan ini voor dong pung anak perempuan.. "Skolah bae-bae ana. Supaya eso lusa ale dapa karja di kantor. Lalu kaweng bae-bae dan laki deng dia pung keluarga tar anggap enteng Ale. Ale seng mau toh, hanya manganga tamang-tamang pake pantofel deng bibir merah. Sementara ale cuma gendong anak deng mamasa sampe muka tua di dapur toh?"

Nah, kalimat inilah yang beta kira menjadi asal muasal katong mama-mama jaman now nih, semacam kena alergi berat untuk jadi full time mom. Segera samua berlomba-lomba skolah tinggi supaya karja di kantor. Punya penghasilan sendiri. Tiap hari bisa eksen deng pantofel. Pake lepenstik samulu, baju rapih, kele tas, bisa lunch dan ada happy hours deng tamang-tamang saat pulang kantor. Serta yang paling penting bisa eksis di media sosial. Anak-anak di rumah tinggal opor par pembantu atau suruh mama manto jaga sa.

Dan tiba-tiba korences datang serang katong samua. Mendesak mama-mama dong sampe toro ka blakang, bale ka katong pung peran sejati. Jadi mama seutuhnya di rumah. Jadi koki, jadi dokter, jadi perencana keuangan, jadi tukang dongeng, jadi anana dong pung konsultan par sagala masalah dan hal ihwal, jadi guru dan lain sebagainya.

Samua taparego, lalu sadar. Betapa sesungguhnya tidak sesederhana itu menjadi Ibu rumah tangga penuh waktu. Banyak skill dan ketrampilan yang harus dimiliki. Termasuk manejemen waktu dan emosi. Juga kreatifitas tanpa batas. Label terkebelakang dan not cool yang disematkan selama ini ternyata keliru.

Mama tado di rumah jua. Jadilah sumber kasih sayang. Pengasuh profesional dan guru yang utama untuk katong voor anak-anak. Stop mengganggap sepele dan merasa inferior atas peran ini. Corona membawa banyak hikmah, dan 'mama tado si rumah' adalah satunya.. Salam.

Puncak Madu Tulehu, 16 Ramadhan 1441 Hijriah

Penulis: Nona Pelu Papilaya, mama tiga anak yang hobby masak dan menulis.

Penulis: Nona Pelu Papilaya
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!