Sekilas Info

KASUS PEMBUNUHAN

Usai Menganiaya Kakeknya Hingga Meninggal, Pengacara di Kei Dibantai Dua Saudaranya Sendiri

Ilustrasi Penganiayaan

satumalukuID - Terungkap fakta baru kasus pembunuhan keji di dalam kebun tanah warisan, Desa Faan, Jalan Tool Bandara Ibra, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Rabu (6/5/2020) pukul 15.00 WIT.

Dalam kasus itu, sedikitnya terdapat empat orang meninggal dunia. Keempat warga Kei tersebut, adalah satu keluarga yang saling membunuh. Satu diantaranya Alex Sangur, yang diketahui berprofesi sebagai seorang pengacara.

Kapolres Maluku Tenggara, AKBP. Alfaris Pattiwael, mengungkapkan, sebanyak delapan orang pelaku penganiayaan hingga matinya orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Tujuh mendekam di rumah tahanan Polres Maluku Tenggara, sementara satu meninggal dunia.

"Sebetulnya ada delapan pelaku, tapi satu pelakunya meninggal. Dia meninggal karena dibunuh. Namanya Alex Sangur," ungkap Alfaris kepada satumalukuID, Kamis malam (7/5/2020).

Sebelum dibunuh, Alfaris mengaku, Alex Sangur, diketahui terlebih dahulu menganiaya kakeknya sendiri, Hermanus Rumangun, hingga meninggal dunia. Kakek 69 tahun yang merupakan om dari ibu angkat Alex yaitu Efelin Rumangun (67) ini dianiaya hingga tewas. Perbuatan Alex dilihat oleh dua anak korban yaitu Tedy Rumangun dan Brian Rumangun.

"Melihat itu (Alex menganiaya Herman), dua anaknya menghadang dia. Terjadilah baku potong antara dia (Alex) sama anaknya Herman ini, yaitu Teddy Rumangun dan Brian Rumangun. Mereka ini yang memotong Alex setelah Alex membunuh bapaknya mereka," katanya.

Alex, tambah orang nomor 1 Polri di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual ini, merupakan anak angkat dari Efelin Rumangun yang juga meninggal dalam kasus pembantaian tersebut. Alex, lanjut Alfaris, selain sebagai korban, dia juga salah satu tersangka dalam kasus tersebut.

"Jadi Alex ini sebagai tersangka, dia juga sebagai korban. Pelaku utamanya ada tiga. Satunya Alex dan duanya adalah Tedy dan Brian (Anak dari Herman yang dibunuh Alex). Jadi tersangka yang kami tahan itu ada tujuh orang dengan pasalnya berlapis-lapis yang sesuai dengan perbuatan mereka," jelasnya.

Tujuh tersangka saat ini, lanjut dia, disangkakan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan, Pasal 338 pembunuhan, Pasal 340 pembunuhan berencana, Pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan matinya orang.

Selain itu, penyidik juga menyertakan Undang-Undang Darurat nomor 12 tahun 1951 tentang senjata tajam Pasal 2 ayat 1.

"Termasuk pelaku penyerta di situ yang membantu melakukan (penganiayaan) Pasal 55 dan 56 kita sertakan juga. Jadi semuanya ada punya peran. Baik yang membantu maupun yang menyuruh melakukannya," pungkasnya.

Tujuh tersangka yang telah diamankan adalah Tedy Rumangun, Brian Rumangun, Lukas Latuperissa, Janter Rumyaan, Weli Rumangun dan Thomas Ohoiledjaan, serta satu anak dibawah umur yaitu GR.

Sementara empat korban yang ditemukan meninggal di dalam kebun tanah warisan adalah Efelin Rumangun (67), Hermanus Rumangun (69), Falen Rumangun (40) dan Alexander Sangur (32).

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!