Sekilas Info

Unhas Makassar Bahas Pandemi pada Masa Hindia Belanda, Di Gowa Sebanyak 60 Ribu Jiwa Melayang

Foto: ANTARA/HO Mahasiswa program Bina Desa FIB Unhas selain menggelar seminar, juga membagikan bahan pokok untuk mahasiswa dan masyarakat yang terdampak wabah COVID-19.

satumalukuID - Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Pandangan Kearifan Lokal dan Sejarah Pandemi pada Masa Hindia-Belanda" yang merupakan program bina desa tematik COVID-19.

Wakil Dekan Bidang Perencanaan dan Keuangan FIB Unhas sekaligus pemateri Dr Andi Muh Akhmar MHum, Rabu, mengatakan pengalaman masyarakat Bugis-Makassar terhadap wabah yang pernah terjadi pada abad ke-16 dan 17, pada era Kerajaan Gowa.

Wabah penyakit cacar dan radang paru kala itu menewaskan kurang lebih 60.000 jiwa dalam jangka waktu 40 hari di kerajaan Gowa.

"Kerajaan Bone juga pernah menghadapi pandemi kolera bersamaan menghadapi gempuran Belanda pada abad ke-17," katanya.

"Namun, pandemi ini pula yang menghentikan gempuran Belanda saat itu. Ada pula wabah yang paling menakutkan di Sulawesi Selatan yakni kusta," lanjut Akhmar.

Apa yang dilakukan masyarakat kala itu hampir serupa dengan masyarakat saat ini. Melokalisir satu wilayah dan meramu minuman seperti jahe, gula dan garam untuk menangkal kolera.

Pemateri Meta Sekar Pujiastuti MA PhD, menjelaskan terkait refleksi COVID-19 melalui pandemi flu Spanyol tahun 1918 pada masa Hindia-Belanda.

Refleksi ini memberi pandangan tentang pandemi. Dalam ilmu sejarah, ada asumsi bahwa sejarah akan berulang, ada pola-pola yang sama saat sebuah pandemi terjadi.

"Saya menelusuri apakah ada sebuah ramalan atau prediksi tentang apa yang terjadi hari ini. Ternyata ada Michael Osterholm, Laurie Garret seorang jurnalis yang meramalkan akan ada kejadian besar di tahun 2020, Bill Gates juga mengatakan ditahun 2015 bahwa akan ada kejadian luar biasa ditahun 2020," ujarnya.

"Apakah pandemi COVID-19 ini yang mereka maksud, entahlah tapi semoga prediksi atau ramalan-ramalan mereka cukup wabah ini saja," jelas Meta.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unhas Prof Dr drg A Arsunan Arsin, MKes turut memberikan pandangan dalam seminar tersebut sekaligus closing statement berakhirnya sesi seminar.

Beliau mengemukakan pendapatnya dari aspek epidemiologi. Virus adalah satu-satunya kuman yang punya target saat menyerang tubuh manusia. Ia tidak akan berhenti bila belum mencapai target. Begitu juga dengan COVID-19.

Epidemiologi merupakan ilmu tentang wabah, mempelajari berbagai sejarah hadirnya wabah dari masa ke masa. Namun hal yang sama terjadi adalah bahwa virus ini menyebar karena ada perjalanan dan perpindahan orang dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.

"Cara untuk memutus rantai penularannya dengan PSBB, lockdown. Tapi intinya tetap kembali pada manusianya. Jika kita semua disiplin dengan aturan maka kita bisa lebih cepat memutus rantai sebaran COVID-19," sebutnya.

"Manusia adalah media traveling virus, maka cara memotong proses penularannya adalah mengatur perilaku manusia, dengan cara dirumah saja, jaga jarak, dan jaga kebersihan," sambung Prof Arsunan.

Selain seminar, Bina Desa FIB Unhas juga dirangkaikan dengan pembagian bahan pokok untuk mahasiswa dan masyarakat yang terdampak wabah COVID-19. Para penerima ini telah didata sebelumnya.

“Kegiatan ini sebagai wujud pengabdian masyarakat, sebuah hal yang wajib dilakukan perguruan tinggi saat masa-masa pandemi seperti ini," jelas Ketua Panitia Bina Desa Tematik Covid-19 FIB Unhas Burhan Kadir.

Penulis: Abdul Kadir/Ant
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!