Sekilas Info

REMPAH REMPAH

Era Ellyas Pical dan Corona

3 MEI 1985. Tepat 35 tahun. Istana Olahraga (Istora) Jakarta disesaki sekitar 17.000 penonton. Plus jutaan pemirsa televisi di seluruh nusantara yang sudah menanti di depan layar TVRI saat itu. Indonesia menanti sejarah. Ambon Maluku menunggu kebanggaan.

Ya. Momen itu adalah duel perebutan gelar juara dunia tinju kelas bantam junior IBF. Yakni antara juara bertahan asal Korea Selatan, Ju Do Chun, melawan penantangnya jagoan Indonesia asal Maluku, Ellyas Pical.

Harapan besar Indonesia melahirkan juara dunia tinju profesional untuk yang pertama kalinya, sangat didambakan dari Ellyas Pical yang sejak karier tinju di amatir hingga profesional, selalu mampu mengalahkan petinju-petinju asal Korea Selatan. Baik di President Cup maupun di OPBF, badan tinju prof Asia Pasifik.

Di tinju amatir nasional. Ellyas Pical sangat setia membela Maluku. Ia jaminan emas pada kelas terbang di Kejurnas, PON hingga STE. Dia adalah bagian dari "the dream team" tinju Maluku yang merajai Indonesia era 1970-1990 an betsama Herry Maitimu, Charles Thomas, Lutfy Mual, Yohanes Matuankota, Noce Thomas, Jeffry Manusama, Max Auty, Polly Pesireron, Wiem Gomies dan Benny Keliombar disusul era Nico Thomas dkk. Mereka ditangani pelatih legendaris Teddy van Room dan Otje Tehupeiory. Prestasi mereka bukan saja kelas nasional. Namun diataranya sukses di SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Asia hingga tembus Olimpiade. Dan saat pindah ke tinju prof menjadi juara Asia Pasifik bahkan dunia

Dalam catatan Wikipedia. Ellyas Pical tercatat sebagai petinju Indonesia pertama yang mampu merebut gelar juara profesional di luar negeri. Yaitu ketika meraih juara kelas bantam junior OPBF setelah mengalahkan Hi-yung Chung asal Korea Selatan dengan kemenangan angka 12 ronde pada 19 Mei 1984 di Seoul, Korea Selatan.

Laki-laki yang lahir 24 Maret 1960 di Negeri Ullath Pulau Saparua Maluku Tengah ini, memiliki pukulan hook dan upper cut kiri yang terkenal cepat dan keras.  Oleh pers, pukulan tersebut dijuluki sebagai "The Exocet", merujuk pada nama sebuah rudal milik Prancis yang digunakan oleh Argentina dalam Perang Malvinas yang berkecamuk pada masa jaya Pical saat itu.

Sang juara juara bertahan, Ju Do Chun datang ke Jakarta dengan optimis mampu mengkanvaskan Ellyas Pical di ronde ke 3. Pasalnya, sebelum melawan Ellyas, dia sudah mampu mengalahkan lima penantang yang coba merebut sabuk gelar juaranya.

Karena itu. Arena tinju Istora saat itu meriah. Apalagi setelah Ellyas Pical yang berjubah hitam dan "kain berang" alias ikat kepala merah melilit di kepalanya menuju ring  tinju didampingi pelatihnya Simson Tambunan. Diiring puluhan anak Maluku sambil tetiaki yel yel  "Elly Elly Elly..." Suasana menjadi terlihat angker. Ibaratnya akan menjadi "kuburan" bagi sang juara dunia dari Korsel itu. Sedangkan Ju Do Chun di sudut lain hanya "warming up" ringan. Menggerakan badan dan tangannya sambil "shadow boxing" atau pukul bayangan.

Pertarungan itu dipimpin wasit Joe Curtez dari Amerika Serikat. Wasit inilah yang kemudian sangat terkenal di dunia tinju profesional. Lantaran memimpin beberapa duel antara para petinju legendaris di berbagai kelas, baik di WBA, WBC maupun IBF.

Apa yang terjadi di atas ring saat pertarungan dimulai? Ronde satu dua dan tiga duel keduanya lancar. Di ronde ke empat, tangan kidal pembawa petaka Ellyas meluncur melalui kombinssi  pukulan ke bagian rusuk Chun. Petinju Korsel itu tersungkur. Namun bangkit lagi dan melanjutkan pertarungan hingga ronde ke tujuh.

Tiba lah ronde ke delapan. Ronde bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kebanggaan untuk orang Maluku. Istora bergemuruh, teriakan histeris dan haru nyaring terdengar. "Elly Elly Elly" membahana. Ini terjadi setelah pukulan hook kiri keras Ellyas Pical mendarat telak di rahang kanan Ju Do Chun. Lawannya tersungkur tidur di atas kanvas. Hitungan wasit Joe Curtes tidak didengar lagi dan pertarungan dinyatakan berakhir TKO untuk Ellyas Pical.

Indonesia akhirnya punya juara dunia tinju untuk pertama kalinya. Setelah kesempatan hilang ketika petinju asal Timor Timur (waktu itu masih provinsi di  Indonesia) Thomas Americo kalah angka dari petinju Amerika Serikat, Soul Mamby di perebutan gelar juara kelas welter junior WBC.

Ellyas Pical spontan menjadi pahlawan bangsa. Ibunya yang sederhana dengan khas kebaya Ambon dan disapa Mama Anna pun ikut terkenal. Dia membanggakan kita semua. Euforia pasca kemenangannya di kota Ambon membuat warga konvoi kendaraan dan turun ke jalan jalan sambil berteriak namanya.

Dalam beberapa kesempatan bertemu Elly, beta bercerita dengan dia soal masa jayanya. Ada hal mendasar yang dia sampaikan untuk mencapai sukses. Apa itu? "Katong harus disiplin dan punya semangat. Dan jangan takut lawan. Dia latihan, beta juga latihan. Pokoknya konsentrasi baku pukul saja. Kalah dan menang itu biasa. Tapi generasi sekarang payah. Belum juara sudah tidak disiplin dan pikir fasilitas. Dulu katong juara dulu baru dapat hadiah he he," tuturnya, suatu saat di Ambon.

35 tahun telah berlalu momen bersejarah itu. Beta ingat persis ketika itu siang hari 3 Mei 1985, di ruang kelas 3 IPS 6 dan kelas-kelas lainnya di SMA Negeri 2 Ambon yang sementara gunakan kompleks SMP Negeri 6 karena sekolah di jalan Pattimura direnovasi. Kami akan mendengar pengumuman lulus dari bangku SMA. Waktu itu beta adalah ketua kelas dan sebelum diumumkan kelulusan, oleh wali kelas diminta beta berdoa mewakili Kristiani dan satu teman lagi Moh Djefry Lessy (kini Sekwan DPRD Seram Bagian Barat) wakili komunitas Muslim.

Ada hal nasionalisme terungkap dalam doa bera kala itu. Yaitu sempat meminta Tuhan untuk menguatkan perjuangan Ellyas Pical sebentar malam di hari tersebut. Selain tentunya berdoa untuk kelancaran pengumuman lulus. "Eh ale tadi sadar kaseng berdoa Ellyas Pical," ungkap sahabat sekelas Karel Sahulata yang kini menetap di Jakarta dengan dialek Ambon. Beta cuma bisa tersenyum sebab doa itu antara sadar dan tidak sih ha ha...

Nah. 35 tahun berlalu juga bertepatan dengan pengumuman kelulusan siswa siswi SMP dan SMA di tahun ajaran 2020. Namun berbeda jauh sekali situasinya. Dulu kita tegang ujian. Betdebar menunggu pengumuman lulus. Kini tak ada ujian nasional. Tak ada keceriaan masa remaja di sekolah. Semua libur. Pengumuman lulus disampaikan melalui saluran SMS atau WA. Maka cerita lucu bertebaran di medsos. Apabila para lulusan tersebut reuni disebut saja Angkatan Corona he he he

Penyebabnya hanya satu. Karena datangnya wabah pandemik virus Corona atau Covid 19 yang melanda planet bumi. 200 an lebih negara terpapar virus mematikan tersebut, termasuk Indonesia. Virus itu bahkan melumpuhkan negara-negara super power seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman hingga tak luput juga Jepang, Korea Selatan, India, Iran dan Arab Saudi.

Covid 19 lebih "super power" dari kekuasaan dimanapun. Dia bisa menjangkit siapa saja entah presiden, perdana menteri, raja, pangeran, menteri, jenderal, artis, olahragawan, walikota, bupati sampai rakyat biasa. Bahkan melumpuhkan perekonomian suatu negara hingga mengubah cara ibadah penganut agama.

Covid 19 tidak peduli. Dana pembangunan pun sebagian besar dialihkan untuk penanganannya. Dampak keterpurukan ekonomi tak terelakkan. Jarak sosial akhirnya pun harus dilakukan. Stay at Home. Tado di Rumah. Corona benar-benar menjadi monster yang tidak kelihatan nyata, tapi ada di sekitar kita. Dia mampu membuat peradaban baru manusia.

Jadi. Ellyas Pical di 35 tahun lalu spektakuler. Harus dibanggakan dan dikenang. Legenda bangsa ini. Namun untuk Covid 19 semoga cepatlah berlalu. Enyahlah dari kami. Go to hell. Tuhan beserta kita. (*)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!