Sekilas Info

OPINI

POSITIF

Foto: satumalukuId/Freepik.com

Kata yg punya nilai berbeda dalam beberapa kasus berbeda pula.

Seorang ibu muda keluar ruang periksa dokter kandungan dengan senyum yang diumbar ke siapa saja. Digandeng erat tangan suaminya. Mereka berdua baru saja mendengar kata "positif".

Masih ingat film "Speed" produksi 1994 bergenre thriller? Laga yang disutradarai oleh Jan de Bont sebagai film debutannya. Beberapa bintang yang bermain dalam film ini antara lain Keanu Reeves, Dennis Hopper, Sandra Bullock, Joe Morton, Alan Ruck, dan Jeff Daniels.

Pemeran utama film "Speed" sangat mempengaruhi tampilan anak muda saat itu. Salah satunya adalah gaya rambut sang aktor, menjadi trend. Saya juga ikut gaya rambut itu. Hehehhe.. Praktis, murah, bisa minta teman yang cukur.

Sang aktor memerankan polisi yang harus mengandalkan naluri. Kabel mana yang digunting. Positif atau negatif.

Karena salah menggunting, bom yang dipasang dibawah bis akan meledak, menghancurkan bis, membagi-bagi daging penumpang bis dan seabreg kerusakan yang ditimpakan di bandara tempat film ini dibuat.

Lalu, semalam saya chatting dengan dua teman.

Kata "positif" dan "negatif" menjadi kata yang favorit dalan chattingan kami. Dan ini sensi sekali.

Chatting berhubungan dengan Corona.

"Kita begitu tertekan dengan kata positif sekarang", kata teman itu.

Satu orang yang positif corona mempengaruhi banyak langkah kebijakan. Anda pasti ingat di pertengahan Maret, beberapa hari menjelang pasien 01 dan 02 menghebohkan Indonesia.

Dua hari bantahan, sekelas presiden dan pejabat negara, masih menolak kata positif Corona.

Dan ketika kata positif pada pasien 01 dan 02 diumumkan oleh presiden, pikiran kita berubah 180°.

Kali ini bukan menteri kesehatan atau menko yang umumkan bro. Mr Presiden. Artinya pentingggggg sekaliii.

Beberapa hari kemudian, ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi diumumkan positif, dia meminta istirahat sebagai menteri, agar bisa diobati maksimal.

Begitu pun ketika Profesor Idrus Paturusi dinyatakan positif covid-19. Beredar catatan yang dibuatnya, melalui anak prof. Isinya menyatakan ia positif dan meminta maaf bahwa melaluinya ada saja orang yang tertular.

Saya mengikuti tulisan-tulisan berikutnya tentang proses sembuh Prof Idrus. Prof orang tabah. Dia memberi testimoni yang menyemangati (semoga tidak salah tulis.. hhhh), bahwa Covid itu bisa disembuhkan.

Prof Paturusi adalah dokter ahli, mantan Rektor Universita Hasanuddin Makassar, dan juga mantan Komisaris Utama PT Semen Tonasa.

Anda pasti pernah ikut membaca atau dengar Wali Kota Bogor, yang meminta ijin untuk istirahat, sementara tidak aktif karena terserang covid. Bima Arya.

Mereka orang-orang hebat yang dimiliki Indonesia.

Di Maluku juga, kita bangga, pasien kasus 02 Covid-19, ”Oma" yang berumur di atas 70 tahun bisa sembuh.

Mereka-mereka yang pernah dinyatakan terpapar positif Covid-19 dan berasal dari berbagai latar belakang itu, bisa lepas dari Corona. Memberikan banyak gambaran, bahwa Corona Bukan air. Siapa saja bisa tertular.

Lihat menteri, profesor, wali kota, bahkan di luar sana, setingkat perdana menteri dan orang-orang utama di negaranya.

Ketika kata positif melekat pada seseorang hari ini, maka sejumlah orang yang pernah berinteraksi cepat mengecek diri. Positif atau negatif.

Tidak perlu ragu. Ini juga cara berpikir positif. Sehingga tidak tertular ke yang lain.

Kita di Maluku boleh bersyukur, jumlah yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, masih di bawah angka "panik".

Buktinya pasar masih berdesak-desakan. Buktinya kendaraan di jalan masih rame, pake acara macet lagi.

Ah…cara berpikir pada satu paragraf di atas NEGATIF. Jangan ditiru. Membahayakan. Ikut anjuran pemerintah dan ahli... "stay at home". Supaya anda tidak positif.

Iya... Mari berpikir dan bertindak positif, supaya anda tidak positif.

Penulis: Fuad Mahfud Azus, guru mengaji, tinggal di Hunuth Durian Patah, Kota Ambon.

Penulis: Fuad Mahfud Azus
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!