Sekilas Info

OPINI

Katong Taparego Samua

Foto: satumalukuID/Freepik.com Ilustrasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sebenarnya konsep lockdown atau pembatasan sosial, atau apa pun namanya itu, sudah dikenal katong pung orang tatua dolo-dolo saat Ramadan tiba. Memang bukan dalam rangka menghindari wabah, tapi para tetua di kampung-kampung Muslim jaman dulu, mengkhususkan Ramadan untuk beribadah sebulan penuh dan membatasi diri dari aktifitas lain.

Stok pangan sudah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Semacam ada aturan 11 bulan adalah waktu mencari atau mengumpulkan kebutuhan materi, dan saat bulan puasa tiba maka mereka lebih banyak di rumah atau di masjid. Berfokus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta.

Ada pun yang disiapkan adalah bahan-bahan makanan kering dan diawetkan. Seperti sagu, umbi-umbian, kelapa, termasuk minyak kelapa yang dibuat sendiri, ikan kering, cumi kering, serta rebung yang dikeringkan. Lalu ada stok kayu bakar dan lain sebagainya.

Hasil alam melimpah ruah, dan pada zamannya sagu lempeng dan lain-lain, adalah pangan pokok yang selalu dikonsumsi tiap hari. Beras atau nasi adalah "tamu" dan dianggap barang mewah. Hanya yang berkelebihan lah, yang bisa mengkonsumsi nasi. Itu pun hanya pada hari Jumat.

Luar biasanya, katong pung orang tatua dolo-dolo santuy dan enjoy menikmati hidup seperti itu. Simpel dan tak banyak gaya-gayaan. Jaman dulu mata pencaharian mereka cuma bertani dan melaut. Apa pun yang didapat mereka nikmati dengan rasa syukur.

Lahan ditanami sagu, ubi-umbian, sayur mayur, cengkeh, pala dan lain-lain. Pun laut sepenuhnya menjadi sumber pemenuhan kebutuhan protein hewani. Hanya beberapa depa dari bibir pantai, dong su bisa cigi bubara, gaca, kawalinya dan teman-temannya.

Sekarang jaman berubah. Untuk memenuhi kebutuhan pokok katong generasi yang skarang ini tak lagi mengandalkan alam. Mostly hanya mau jadi pegawai dan beberapa lebih memilih berdagang, atau jadi pengusaha dan sisanya memilih menjadi pengangguran seumur hidup.

Lalu apa kabar petani dan nelayan? Stop! Buat anana skarang itu bukan pilihan. Soalnya menggarap lahan untuk ditanami umbi-umbian bukanlah hal keren. Memancing di laut pun hanyalah hobby untuk mencari hiburan. Bahan pangan pun 80% masih bergantung pada suplai dari daerah lain.

Tak heran jika saat wabah Covid melanda seperti sekarang ini, katong taparego samua. Masih enak yang jadi pegawai. Lalu yang punya profesi lain selain itu bisa apa? Mau lockdown atau pembatasan sosial juga pasti worry. Siapa yang nanti kasih makan dorang?

Padahal jika saja lebih awal katorang sadar untuk kembali menggarap lahan-lahan tidur dan memanfaatkan hasil laut, pun membiasakan lidah dengan makanan tradisional Maluku, Insya Allah katong masih punya ketahanan pangan dan bisa survive dari kondisi sulit ini.

Well...Ramadan kali ini semoga membawa hikmah voor katong samua. Menjalani ibadah puasa dalam kondisi bumi diselimuti wabah. Saatnya kembali ke alam dan kearifan lokal yang ada. Hopefully everything will be better soon. Aamiin.

Penulis: Nona Pelu Papilaya, mama tiga anak yang hobby masak dan menulis.

Penulis: Nona Pelu Papilaya
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!