Sekilas Info

OPINI

Bagaimana Masa Depan Kota Kreatif Pasca Covid-19?

Mendengarkan istilah kota kreatif, maka pikiran kita akan mengarah kepada keruwetan kreativitas yang terjadi di kota itu. Dimulai dari hiruk pikuknya lalu lintas, dan berbagai aktifitas masyarakat, yang bekerja tunggang langgang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Berbagai aktifitas kreatif melimpah ruah pada berbagai sudut kota. Ada musik, kuliner dan seni pertunjukkan, serta berbagai aktifitas kreatif lainnya. Apakah maraknya wabah Covid-19 dan bagaimana penyelesaiannya ini, akan turut membatasi atau bahkan mematikan kreatifitas yang ada?

Yang jelas kota kreatif sementara berjalan pada kebuntuan, atau mengalami tsunami pada berbagai aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Terkhusus ekonomi, yang bersumber dari hasil kreatifitas komunitas atau masyarakat kreatif, yang berujung pada apa yang disebut dengan ekonomi kreatif (Creative Economic).

Wabah Covid-19 telah memporak-poranda aktifitas kota kreatif yang harusnya dipenuhi oleh:

  1. sejumlah pelaku ekonomi kreatif, yang leluasa berkarya dari penciptaan ide dan konsep, bagi kelangsungan kehidupan secara pribadi komunitas atau masyarakat. Sehingga menghasilkan kualitas kota yang terus berkembang, dan menjadi kota-kota yang inklusif dalam penuangan ide;
  2. Kota yang memberlakukan pengelolaan pemerintahan, yang dimulai dari bawah ke atas (bottom-up management) sehingga menjadi masukan pagi pemerintah, dalam pengambilan kebijakan-kebijakan berorientasi komunitas (regulations based on community) dan
  3. Kota yang memainkan rantai nilai kreatifitas yang secara skematis dan memainkan harmoni dimulai dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi. Rantai nilai kreatifitas ini pasti diputuskan oleh ketidakpastian wabah Covid-19.

Isu wabah Covid-19 dalam rangkaian trend line menunjukkan kepastian, yang tidak pasti kapan dapat terselesaikan. Ketidakpastian menimbulkan kegoncangan pada ketakutan masyarakat akan kendali ekonomi yang berpihak kepada mereka.

Stay at home menakutkan berbagai pihak terutama di kalangan masyarakat yang memiliki penghasilan ekonomi lemah. Mereka harus berjalan keluar rumah dan mencari sesuap nasi.

Apakah dengan kapasitas yang ada pada mereka harus berjualan secara virtual atau online? Bagi komunitas kreatif di kota kreati akan sangat berpengaruh.  Tidak adanya pertunjukan musik sudah menggoncangkan kesejahteraan mereka. Harus ada karya yang dinikmati banyak orang yang bisa meraup uang untuk kelanjutan kehidupan (sustainable of living).

Vendor-vendor pertunjukan merasa mati akal, dan mungkin saja harus berpindah pada aktifitas lainnya yang bisa mendapatkan uang secara cepat, serta keluar dari kapasitas mereka sebagai vendor pertunjukan. Investasi peralatan yang begitu mahal, bisa menjadi besi tua dan aus karena tidak terhubungankan dengan listrik.

Jumlah event dan tempat pertunjukan yang tidak tersedia telah mematikan para performer.  Penyanyi-penyanyi café tidak dapat berkarya, pemilik cafepun mulai mencoba beralih bisnis karena kurangnya pengunjung.

Sudah dipastikan bahwa perencanaan kota ke depan akan sangat mengalami perubahan total. Penempatan bangunan dari tata ruang kota haruskah mengalami perubahan yang berorientasi kepada kesehatan dan aspek lingkungan hidup?

Pola pikir masyarakat tentang pentingnya kesehatan harus mengalami perubahan. Dimana pemerintah harus memberikan fasilitas kesehatan yang canggih, serta juga menyediakan berbagai fasilitas peralatan kesehatan di berbagai sudut kota. Atau mengeluarkan regulasi yang mengatur pola hidup sehat serta penegakan hukum yang jelas terhadap para pelanggarnya?

Penempatan ruang pasar yang higienis pun, perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah? Tempat pembuangan sampah, pengolahan sampah dan tempat sanitasi, perlu mendapatkan perhatian dalam perancangan kota dan arsitek kota.

Rancangan kota kreatif tidak lagi berorientasi hanya pada pandang fisik, yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga yang tidak dapat dilihat oleh mata. Selama ini perhatian kota kreatif lebih banyak mengarah kepada rancangan visual yang sarat ide dengan idiom-idiom budaya atau konsep modernisasi saja.

Sudah waktu rancangan-rancangan ide pada setiap ornamen bangunan memerhatikan aspek kesehatan. Ruang terbuka yang memberikan gap pencahayaan matahari, perlu juga dirancang untuk kondisi indoor.  Ini membutuhkan ide-ide kreatif dari perancang dan pengambil kebijakan di kota.

Keseimbangan kota sudah harus menjadi sesuatu yang penting untuk menyelaraskan keseimbangan antara manusia dan lingkungan, yang bermuara pada keseimbangan kesehatan di kota kreatif.  Pada akhirnya bagi kota kreatif, tindakan-tindakan kreatif sudah harus menggeliat untuk melawan kebuntuan atau dampak wabah ini di masa kini dan masa depan. Bagi masyarakat kreatif, kondisi di bawah tekanan akan dan harus  mencari solusinya, karena ide dan kreatifitas sudah pasti berasal dari Tuhan. Sehingga masa depan kota kreatif akan mampu mengimbangi tekanan Covid-19 dengan kreatifitas.

Penulis: Ronny Loppies, adalah Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music.

 

Penulis: Ronny Loppies
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!