Sekilas Info

IN MEMORIAM

Glenn Fredly, Inisiator Bersuara Lembut Berdarah Ambon

Foto: satumalukuID/Tiara Salampessy Glenn Fredly Deviano Latuihamallo (Lahir: Jakarta, 30 September 1975, Meninggal: Jakarta, 8 April 2020).

Saya bertatap muka secara langsung dengan Glenn Fredly, pertama kali terjadi di tahun 2010. Pertemuan ini menggoreskan beberapa catatan penting, bahwa Glenn seseorang yang sangat humble dan fleksibel dalam berkomunikasi dengan siapa pun, terutama dalam mengutarakan berbagai mimpi atau visinya yang futuristik.

Glenn penuh ide dan berinisiatif dalam membangun relasi. Ini membuat semua orang yang ditemuinya akan sangat bersemangat, untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari masalah politik, ekonomi, dan sudah pasti musik. Terutama pada konteks mengembangkan industri musik, yang bermuara pada visi besar dia untuk mensejahterakan musisi dan komunitasnya.

Yayasan Rumah Beta menjadi salah satu impiannya. Lewat Rumah Beta dapat terlaksana berbagai kegiatan seni pertunjukkan musik di Kota Ambon, pada tingkatan menggerakan komunitas musik dan musisi Kota Ambon.

Sejak pertemuan dengan Glenn, selanjutnya saya sangat memerhatikan apa yang dia lakukan, terutama sebagai Musisi Ambon yang berada di Jakarta. Dia punya kepedulian yang tinggi terhadap Ambon.

Maka pada tanggal 7 September 2017, bertepatan dengan HUT kota Ambon ke-442, selaku Direktur Ambon Music Office, kami memberikan penghargaan kepada Glenn Fredly bersama-sama dengan 22 musisi berdarah Maluku lainnya.

Tahun 2018, Glenn pernah meminta saya agar manajemen Yayasan Rumah Beta dilanjutkan oleh Ambon Music Office (AMO). Namun saat saya sampaikan pada Glenn, bahwa saya masih concern pada implementasi Ambon Menuju Kota Musik Dunia.

Terutama berkaitan dengan Road Map dan Rencana Srategis (Renstra AMO), yang sudah tersusun rapih, serta dalam taraf pelaksanaan dan pembenahan pada berbagai sisi, khususnya pada manajemen dan pembangunan infrastruktur, bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif RI (Bekraf RI).

Begitu juga dengan implementasi secara internal di Kota Ambon dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon. lewat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon.

Di tahun yang sama, Glenn dengan gaya inisiatornya yang luar biasa, membicarakan dengan saya dan tim AMO untuk melaksanakan Konferensi Musik Indonesia (KAMI) di Kota Ambon.

Lewat manajemen KAMI, akhirnya Konferensi Musik Indonesia pertama, dapat terlaksana di Kota Ambon, pada tanggal 7-9 Maret 2018. Even ini melibatkan banyak musisi dan pembicara musik nasional, yang pada akhirnya mengeluarkan 12 kesepakatan.

Sayangnya di konferensi tersebut tidak ada satu kesepakatanpun tentang Ambon Menuju Kota Musik Dunia.

Ini kutipan 12 point deklarasi Konferensi Musik Indonesia:

“Atas dasar itu, kami dengan ini menyatakan kerjasama-kerjasama strategis antara para pemangku kepentingan di bidang musik dan pemerintah Republik Indonesia untuk mewujudkan dua belas rencana aksi berikut ini:

  1. Segera mewujudkan sistem pendataan terpadu musik Indonesia yang melibatkan jaringan data lintas lembaga, kementerian serta pusat-pusat data milik masyarakat dengan mekanisme yang menjamin akses bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang musik Indonesia.
  2. Mengarusutamakan musik dalam pendidikan nasional dan diplomasi budaya Indonesia untuk memperkaya bentuk-bentuk pemanfaatan musik sebagai ekspresi budaya, aset ekonomi dan pembentuk karakter bangsa.
  3. Meningkatkan apresiasi dan literasi musik melalui penguatan dan standarisasi kurikulum pendidikan musik di sekolah dasar dan menengah serta peningkatan kompetensi pengajar musik di sekolah.
  4. Membangun pendidikan musik Indonesia yang relevan dengan konteks lokal setiap daerah di Indonesia guna melahirkan para pencipta, para pekerja musik dan para akademisi musik.
  5. Mendorong terwujudnya keadilan gender dalam musik Indonesia melalui pemberlakuan klausul yang responsif gender dalam kontrak kerjasama dengan musisi sebagaimana yang tercantum dalam peraturan ketenagakerjaan serta pemberlakuan aturan yang melarang kekerasan dan pelecehan seksual di ruang-ruang bermusik.
  6. Mendorong terwujudnya sistem dan mekanisme distribusi digital yang memastikan terjaminnya akses yang transparan, berbasis waktu-nyata, dapat diandalkan, serta melindungi karya cipta musik Indonesia.
  7. Mendorong terwujudnya infrastruktur pertunjukan, pendidikan dan produksi musik yang memenuhi standar kelayakan, relevan dengan budaya lokal dan menjamin terwujudnya akses yang meluas, merata dan berkeadilan.
  8. Mendorong pelindungan dan pengembangan ekosistem musik etnik melalui pertukaran musisi antar daerah, kepastian keberlanjutan lingkungan dan sumber daya alam, serta pemberlakuan mekanisme pembagian manfaat yang layak atas segala bentuk pemanfaatan musik etnik.
  9. Meningkatkan kesejahteraan musisi Indonesia melalui pembentukan sistem penentuan tarif royalti nasional, mekanisme pembagian royalti yang berkeadilan, sistem pemantauan, mekanisme penegakan hukum atas setiap pelanggaran hak kekayaan intelektual musisi, serta penetapan standar upah minimum musisi.
  10. Mendorong peningkatan pemahaman dan kecintaan masyarakat terhadap musik Indonesia melalui penyebarluasan wawasan sejarah musik dan kritik musik yang dimotori oleh jurnalisme musik yang profesional.
  11. Meningkatkan kapasitas dan profesionalitas para pemangku kepentingan di bidang musik dan pendidikan musik dengan memperbanyak jumlah lembaga pendidikan musik dan manajemen musik, serta sinkronisasi lembaga sertifikasi kompetensi dan profesi di bidang musik yang mengacu pada kekhasan kondisi Indonesia.
  12. Mendorong terwujudnya tata kelola industri musik Indonesia masa depan dengan peningkatan profesionalitas manajemen musisi, label dan penerbit musik melalui pembagian peran yang jelas guna mendorong kreativitas dan produktivitas musisi. (https://hot.detik.com/music/d-3911253/12-poin-dalam-deklarasi-konferensi-musik-nasional)


Ambon, 9 Maret 2018 Konferensi Musik Indonesia.

Glenn pada waktu itu juga menginginkan agar saya meresmikan Studio Rekaman di Universitas Pattimura, bersamaan dengan Konferensi Musik Indonesia. Namun saya menolaknya, karena belum rampung dan menunggu hasil penilaian keproyekan dari Bekraf, karena itu bantuan pemerintah melalui lembaga tersebut.

Pertemuan terakhir saya dengan Glenn Fredly adalah pada saat pelaksanaan Konferensi Musik Indonesia ke-2 di Kabupaten Bandung Jawa Barat.

Salah satu kutipan pesan via WhatsApp (WA) dari Glenn tertanggal 4 November 2019 ke saya, bunyinya demikian :

Bung Ronnie selamat sore, tgl 23 Nov 2019 Konferensi Musik Indonesia ke II akan berlangsung di Bandung, Jawa barat. KAMI 2019 rencana akan mengundang Bung Ronnie sebagai salah satu nara sumber di panel Konferensi dengan tema “ Membangun kota Musik “. Berharap bung Ronnie bisa hadir dan berbicara tentang Kota Ambon yang telah dicanangkan menjadi kota Musik Unesco serta ada rencana kedepan setelah rencana ini. Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif direncanakan hadir dalam sesi ini.

Saya bersedia untuk menjadi narasumber di konferensi tersebut karena Ambon akan dijadikan barometer bagaimana menjadikan dan membangun kota musik dunia versi UNESCO.

Setelah konferensi selesai, kami berdua membicarakan berbagai hal tentang industri musik dan musik berserikat, serta apa yang bisa dia bantu untuk mendukung kota musik dunia, yang telah ditetapkan UNESCO pada tanggal 31 Oktober 2019.

Pembicaraan itu disaksikan oleh Tika Bisono, Chandra Darusman dan beberapa orang peserta, wartawan dan panitia. Di sini saya melihat Glenn Fredly sosok yang bersemangat untuk membangun musik dan dampaknya, terutama bagaimana mensejahterahkan para musisi baik dari tingkat lokal sampai nasional.

Glenn berinisiatif dengan siapa saja termasuk membicarakan dengan saya untuk menjadikan Kota Ambon dan Bandung sebagai Sister City, yang memang pada akhirnya menjadi salah satu rekomendasi Konferensi Musik Indonesia ke-2.

Kutipan lengkap Hasil dari ketiga sesi diskusi Konferensi Musik Indonesia ke-2  tersebut, menghasilkan sejumlah poin-poin bahasan di antaranya :

  1. Sesi Pekerja Musik Berserikat.
  2. Perlu dibentuk Serikat Pekerja Musik yang bisa memperjuangkan nasib musisi, terutama dari sisi ketenagakerjaan, standar imbalan finansial bagi pekerja musik, dan mengatasi masalah diskriminasi gender maupun kekerasan seksual di skena musik.
  3. Serikat Pekerja Musik juga bisa jadi mitra pemerintah dalam memberi masukan bagi kebijakan terkait musik.
  4. Ada banyak jenis musisi, seperti musisi industri, independen, tradisional, kafe, dan jalanan. Mereka bisa membentuk serikat pekerja musik masing-masing dengan isu advokasi masing-masing, lalu ada konfederasinya untuk advokasi ke tingkat pusat.
  5. Serikat Pekerja Musik harus transparan dan mudah diakses, dengan aturan jelas dan mengikuti regulasi yang berlaku. Serikat juga harus sensitif gender dan punya kebijakan afirmatif untuk mendorong perempuan ikut terlibat aktif di dalamnya.
  6. Sesi Panen Royalti dan Sosialisasi UU Ekonomi Kreatif.
  7. Portamento, sistem informasi terpadu untuk hak cipta lagu, akan memasuki tahap development tahun depan. Karena melibatkan banyak kementerian dan juga harus bernegosiasi dengan pihak luar negeri, pembangunan sistem ini akan perlu waktu beberapa tahun. KAMI akan terus memantaunya.
  8. Musisi perlu menjadi anggota Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) agar bisa mendapatkan hak royaltinya dengan lebih sistematis.
  9. Perlu lebih banyak terobosan dalam penyaluran apresiasi dan royalti kepada musisi.
  10. Ada empat Peraturan Pemerintah turunan Undang-undang Ekonomi Kreatif yang perlu dikawal agar sesuai dengan kebutuhan industri musik. Empat PP ini mengatur skema pembiayaan dan pemasaran berbasis kekayaan intelektual, juga rencana induk dan kelembagaan ekonomi kreatif.
  11. Musisi harus bisa mengikuti kemajuan teknologi informasi, misal punya metadata, juga mendokumentasikan karyanya di LMK, music publisher, dan agregator.
  12. Sesi Membangun Kota Musik.
  13. Konsekuensi bagi kota musik adalah memastikan musik betul-betul jadi nafas pembangunan di kotanya.
  14. Sebagai Kota Musik, Ambon harus memiliki peta jalan dan leadership dalam menghidupkan dirinya sebagai kota musik serta memberi manfaat bagi warganya.
  15. Perlu ada pemetaan dan pendataan ekosistem musik di kota-kota musik secara komprehensif.
  16. Perlu ada infrastruktur ruang publik untuk bermusik.
  17. Dalam daftar UNESCO Creative Cities, ada Bandung sebagai Kota Desain dan Ambon sebagai Kota Musik. Kedua kota ini perlu menjalin kerja sama, misal jadi sister cities, untuk saling memajukan dan bertukar kreativitas.
    (Artikel ini sudah Terbit di AyoBandung.com, dengan Judul KAMI 2019 Cetuskan Sejumlah Rekomendasi untuk Dunia Musik Tanah Air, pada URL https://www.ayobandung.com/read/2019/11/24/70999/kami-2019-cetuskan-sejumlah-rekomendasi-untuk-dunia-musik-tanah-air. Penulis: Faqih Rohman Syafei.Editor : Ananda Muhammad Firdaus).

Pada sesi 3 barulah dibicarakan soal Ambon Kota Musik Dunia dengan empat pembicara yakni, Deputi Kemenparekraf/Baparekraf, Ari Juliano Gema; Direktur Ambon Music Office, Ronny Loppies; pendiri Rumah Sanur dan anggota Indonesia Creative Cities Network, Arief Budiman; serta Djaelani Jay dari Jendela Ide dan Komite Musik Dewan Kesenian Kota Bandung.

Yang menjadi pertanyaan utama pada konferensi tersebut adalah bagaimana Ambon dapat menjadi kota musik dunia? Dan apakah yang nanti dapat Ambon sumbangkan untuk kota-kota lain di dunia?

Pada waktu konferensi tersebut, saya sempat menyampaikan analisis vocal yang dimiliki Glenn Fredly. Glenn memiliki karakter yang kuat sebagai Ambonese (Orang Ambon). Yang sudah pasti adalah memiliki DNA musik yang alamiah sebagai turunan darah Ambonese. Orang tua yang suka bermusik, itu yang pertama. Yang kedua adalah Glenn memiliki intuisi bermusik yang sangat tinggi.

Sehingga semua lagu yang dia ciptakan dan bawakan akan sangat terasa lain (kita pernah punya Broery Pesulima sebagai penyanyi), karena bersumber dari bisikan hati, suara hati, dorongan hati dan berkaitan erat dengan kreativitas.

Kreativitas ini yang menjadikan Glenn memiliki banyak sekali emosi yang bisa dia dapat secara pribadi maupun juga terhadap “sesuatu” dari luar dirinya, terutama pada saat proses membuat lagu bahkan sampai kepada kreativitas lainnya.

Teks verbal dalam bentuk lirik lagu Glenn sangat muncul dari penuangan ide intuitifnya sehingga lagu-lagunya sangat diapresiasi.  Dari sisi timbre vocal, Glenn sangat lembut dan memiliki warna mendayu-dayu dan sangat lirih dalam pengungkapan maksud. Dengan Oktaf suara wanitanya (ada warna Michael Jackson), Glenn berkarakter dalam mengambil nada-nada tinggi namun tidak berteriak.

Ekspresi vokal menyentuh frekuensi orang yang mendengarkan dan membawa pendengar ke ruang imajinatif, namun nyata karena cerita nyata yang diangkat kedalam alunan melodi, ritme dan harmoni yang tepat seperti lagunya “nyali terakhir” yang sering saya nyanyikan.

Saya kira patut dicatat oleh Indonesia bahwa Glenn Fredly salah satu inisiator musik, penyanyi dan komposer terbaik Indonesia.

Wayame, 24 April 2020

Penulis: Ronny Loppies, Direktur Ambon Music Office (AMO) dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music.

Penulis: Ronny Loppies
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!