Sekilas Info

OPINI

Mama Papalele = Kartini

Foto: satumalukuID/Zaial Arifin Sandia Mama-mama papalele menawarkan buah durian dari rumah ke rumah.

Hari-hari belakangan beberapa ibu (mama-mama) kerap lewat di depan rumah kami, sambil menawarkan buah durian. Mereka rata-rata masih terbilang muda. Usia mereka rata-rata di bawah 40 tahun, menurut amatan dan perkiraan saya.

Menyaksikan kenyataan itu, saya tidak saja bangga, tapi juga sangat terharu. Apatah lagi, hal itu mereka lakukan dalam suasan 'teror' covid-19, yang begitu menghantu dan mengancam siapa saja tanpa pandang bulu.

Jelas, fenomea ini bukanlah sesuatu yang tawar dalam pengalaman saya. Sewaktu kecil, fenomena mama-mama berjalan keliling kampung, dan menawarkan gula merah, sagu dan ikan sudah tampak.

Dalam khazanah budaya Maluku, ini disebut 'papalele' (teman saya punya disertasi soal ini).

Fenomena ini sudah ada dalam tradisi masyarakat Maluku, sebelum saya kemudian mengenal istilah "jemput bola" dalam khazanah teori marketing moderen.

Terlepas dari itu, paling tidak, ada 2 alasan yang menyebabkan fenomena 'papalele' masih mampu bertahan sampai saat ini.

Pertama, perempuan secara naluriah memiliki kesadaran, tanggungjawab dan terlibat aktif dalam peningkatan kesejahteraan keluarga.

Kedua, respon atas dinamika persaingan pasar yang terbuka (nalar suply and demand), sehingga pro-actiave (mendatangi pembeli) menjadi pilihan yang tidak bisa tidak dipilih.

Dalam realitas keseharian hari ini, tradisi 'papalele' telah mengalami perubahan cukup signifikan. Tidak saja karena penggunaan mobil dan motor, tapi juga dilakukan oleh laki-laki.

Mobil dan motor dipakai berkeling kampung/negeri (dengan jarak jelajah yang sangat jauh), untuk menjaja kebutuhan sehari-hari dan rumah tangga.

Fenomena ini sekaligus juga mentransformasi gaya jalan kaki ('papalele') menjadi berkendaraan dan sekaligus "memindahkan" fungsi pasar tradisional.

Apa yang bisa dilihat lebih jauh adalah , bahwa dalam batas-batas tertentu, di satu sisi telah terjedi semacam pola ketergantungan (baru), antara pembeli-penjual dan di sisi lain, pasar akan akhirnya juga mengalami koreksi pada fungsi (mengalami disfungsi), sebagai ruang sosialisasi dan interaksi publik antarwarga kampung, negeri.

Sebab para pembeli tinggal tunggu saja di depan rumah atau bahkan mungkin juga telah memiliki kontak (Hp/WA) dengan penjaja ('papalele' berkendaraan), yang kebutuhan sehari-hari dan keluarga.

Apatahlagi, mereka dapat dipastikan beroperasi secara reguler, saban hari. Sesatu hal yang tidak mungkin dijanjikan oleh para mama 'papalele' yang berjualan keliling dengan hanya berjalan kaki.

Mama-mama "papalele" adalah perempuan tangguh. Mereka tidaklah sepandai Kartini. Tapi, apa yang mereka buktikan dalam praksis hidup keseharian, yaitu berjalan keliling kampung/negeri sebagai bukti cinta pada keluarga. Perjuangan untuk peningkatan kesejahteraan dan komitmen pembebasan dari penderitaan.

Sungguh, apa yang mereka buktikan sama sekali tak berbeda dengan yang telah diperjuangkan oleh Kartini.

Salam hormat dan bangga selalu buat mama-mama 'papalele', para pejuang tangguh dan pemberani yang teruji.

Penulis: Zainal Arifin Sandia, volunteer pada Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon.

Baca Juga

error: Content is protected !!