Sekilas Info

OPINI

Meninggal Tertular Virus Corona Gara-gara Salah Pakai Alat Pelindung Diri?

Foto: satumalukuID/Freepik.com Ilustrasi dokter, paramedis dan relawan kesehatan.

Saya tertarik dengan tajuk berita salah satu media pada pada Jumat (17/4/2020), dengan judul Kemenkes Sebut Medis yang Meninggal Tertular Virus Corona Salah Pakai Alat Pelindung Diri (APD), dimana  Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa kebanyakan tenaga medis meninggal akibat salah pakai APD standar. Menurut saya hal ini agak naif.

Kalau kita berbicara mengenai “Salah Pakai APD” itu, berarti dalam pemahaman saya ada dua (2) kemungkinan, yaitu APD yang dipakai adalah APD yang tidak standar (APD yang salah), atau memakai APD standar tapi dengan cara yang salah.

Kalau kemungkinan pertama yang terjadi, maka banyak faktor yang mempengaruhi. Antara lain ketersediaanya APD standar dari Kemenkes.

Sebenarnya masalah ketersediaan APD medis standar pada berbagai RS termasuk RS rujukan Covid-19, sejak pertama kasus corona ini mewabah di Indonesia, sudah sejak awal diminta oleh para dokter maupun RS. Dan tetap juga tidak pernah mencukupi.

Karena tidak ada APD atau kurang, maka dokter, medis maupun paramedis membuat sendiri APD.  Contohnya kita bisa melihat bagaimana rekan-rekan sejawat membuat face shield sendiri dengan memakai bekas map plastik, Bahkan ada yang melakukan operasi di kamar operasi dengan menggunakan jas hujan, sebagai pengganti hasmat seperti pengalaman saya sendiri.

Seharusnya kalau ada medis, paramedis atau relawan yang bekerja tanpa memakai APD standar (ingat APD yang dibuat sendiri itu bukan standar), maka konsekuensinya harus ada larangan dari Kemenkes untuk melakukan tindakan medis. Bukankah suatu tindakan medis tanpa memakai alat yang standar adalah salah?

Kalau kemungkinan kedua yang terjadi dimana medis salah memakai APD standar, saya rasa hal ini merupakan tanggung jawab Kemenkes melalui Rumah Sakit, yang harus memberikan kursus cara memakai APD standar yang benar. Sebab bukankah melakukan tindakan medis dengan menggunakan alat dengan cara yang tidak benar / standar itu juga salah?

Harus juga dipertimbangkan ada kemungkinan pasien positif Covid-19 yang tidak mau berterus-terang atau berbohong, seperti yang terjadi pada beberapa kasus kematian dokter atau perawat.

Kemungkinan kelelahan fisik dan beban psikis yang ditanggung oleh para dokter, paramedis dan relawan juga harus menjadi pertimbangan.

Lantas kalau itu terjadi siapa yang disalahkan? Pihak medis kah? Pasien kah? Atau Kemenkes?

Sebab dengan segala kekurangan walaupun dengan ancaman jiwa sekalipun para dokter, pramedis maupun para relawan tetap bekerja menolong memberikan pelayanan medis kepada penderita Covid-19.

Dengan demikian seharusnya tidak ada yang saling menyalahkan. Sebab dalam penanganan pandemi ini dibutuhkan kolaborasi yang erat antara semua elemen masyarakat dengan pemerintah, terutama dalam hal upaya prevensi. Pemerintah yang mengeluarkan kebijakan dan harus diikuti oleh segenap masyarakat Indonesia.

Bersama-sama pasti kita bisa.

Penulis: Ronald E. Lusikooy, dokter pada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Baca Juga

error: Content is protected !!