Sekilas Info

PENANGANAN COVID 19

Hampir Sebulan Pintu Masuk Leihitu Dijaga Relawan Hetu Upu Ana, Kendalanya Thermo Gun

Foto: satumalukuID/Ian Toisutta Tim relawan tampak sedang melakukan pemeriksaan suhu tubuh warga dari Ambon menuju Leihitu di posko Pencegahan Covid-19 Kampung Hulung, Senin (20/4/2020).

satumalukuID- Mengantisipasi penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19), pintu masuk Jasirah Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Ambon), sudah hampir sebulan, dijaga ketat oleh relawan Hetu Upu Ana (HUA), didampingi aparat Polsek dan Koramil Leihitu. Hanya aja, mereka terkendala alat pengukur suhu tubuh atau thermo gun.

Di perbatasan Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon atau tepatnya di Kampung Hulung, Negeri Hitu, Kecamatan Leihitu, relawan HUA, yang merupakan kelompok pemuda, pelajar dan mahasiswa di Jasirah Leihitu ini mendirikan posko pencegahan Covid-19.

Pendirian posko pemeriksaan terhadap setiap warga yang melintas dari Kota Ambon ini merupakan kesepakatan bersama dari para Raja se-Leihitu, Camat, Kapolsek dan Danramil setempat. Tujuannya untuk mencegah penyebaran Covid di wilayah Kecamatan Leihitu.

Koordinator Relawan HUA Posko Hulung, Abdurrahman Pellu, mengaku, setiap kendaraan dari Kota Ambon yang hendak menuju Leihitu harus berhenti sejenak untuk diperiksa, atau disterilisasi.

Di posko, penumpang atau pengendara sepeda motor diwajibkan untuk mencuci tangan, selanjutnya dilakukan pemeriksaan suhu tubuh oleh tim relawan.

"Kita protapnya ada 3 yaitu penyemprotan, cuci tangan dan periksa suhu tubuh," ungkap Abdurrahman saat ditemui satumalukuID di posko Hulung, Senin (20/4/2020).

Setiap warga yang suhu tubuhnya terdeteksi sebesar 37,4 derajat selsius akan langsung ditahan dan didata.

"Ada juga warga yang kadang suhu tubuhnya panas, tapi setelah istirahat beberapa menit, suhu tubuhnya turun lagi," katanya.

Khusus untuk Pelaku Perjalanan (PP) dari "daerah merah" Jakarta atau Makassar, yang hendak pulang ke Jasirah Leihitu, akan diamankan di ruang yang telah disiapkan. Tim relawan kemudian menghubungi Pemerintah Negeri, tempat PP tersebut berasal. Tujuannya agar pemerintah negeri tersebut datang untuk mengambil warganya itu, lalu diisolasi mandiri di negerinya masing-masing.

Penjemputan warga PP oleh pemerintah negeri, sudah merupakan kesepakatan bersama para raja-raja di Leihitu.

"Nanti dari pemerintah negeri datang ambil pelaku perjalanan (Warganya) untuk kemudian diisolasi mandiri di daerahnya," tambah dia.

Menurutnya, selama posko pencegahan Covid-19 beroperasi, kendala yang sering dihadapi adalah alat thermo gun. Tim relawan hanya memiliki satu buah dan kerap error. Thermo gun yang digunakan sering error jika sudah "menembak" 50 hingga 60 orang warga secara berturut-turut.

"Setiap hari itu biasanya mobil antri banyak. Sampai penerapan sosial distancing (jaga jarak) juga sulit, karena lokasi sempit. Faktor lain juga karena alat Thermo Gun cuma satu. Kendala kami di situ," terangnya.

Setiap tim relawan, lanjut Abdurrahman, berjumlah 14 orang.Tim beroperasi selama 1x24 jam. Mereka menggunakan sistem uplous atau piket dari pukul 08.00 WIT hingga jam serupa sampai esok harinya.

"Biasanya mulai pukul 08.00 WIT dan tutup pukul 19.00 WIT. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan KTP. Yang punya KTP Maluku Tengah boleh masuk, atau juga mereka yang punya kepentingan urgensi. Tapi kalau tidak kami suruh kembali. Nanti besok pukul 09.00 WIT, giliran tim relawan yang lain lagi," jelasnya.

Selain kendala alat thermo gun, kata Abdurrahman, juga terkendala dengan tidak adanya koordinasi antara pemerintah Leihitu maupun pihak luar seperti di Pulau Seram. Sebab, di Jasirah Leihitu terdapat beberapa Pelabuhan Tradisional yang menghubungkan Pulau Ambon dengan Pulau Seram.

"Kalau PP asal Leihitu, maka pemerintah pegeri seperti misalnya dari Mamala datang ambil. Tapi kalau dari Pulau Seram, bagaimana? Ini yang belum ada koordinasi. Makanya kami selalu lepas saja," sebutnya.

Sebagaimana diketrahui, salah satu pintu penyeberangan ke Pulau Seram, ada di Kecamatan Leihitu.

Olehnya itu, Abdurrahman berharap pemerintah daerah dapat memenuhi kendala yang dihadapi tim relawan selama ini.

"Sehingga pencegahan Covid bisa kami laksanakan secara maksimal," tandasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!