Sekilas Info

IN MEMORIAM

Pendeta, Doktor, Maestro Musik Etnik Maluku dan Gerejawi Itu Telah Pergi Selamanya

Foto: satumalukuID/Maureen Mumu Almarhum Pdt. Dr. Chris Tamaela (kiri) saat berbincang dengan promotornya PhD-nya, Prof. Martien Brinkman (kanan), di Gereja Gunung Batu, Amsterdam, Belanda, tanggal 9 Juni 2015.

MINGGU 19 April 2020 ketika membuka media sosial. Terlihat sebuah status yang mengejutkan beta. Yaitu statusnya Sekretaris Umum Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Pdt Jacky Manuputty MTh, yang menulis tentang kabar kematian sang maestro musik etnik Maluku dan gerejawi, Pdt Dr Chris Tamaela.

"Iya benar. Beliau meninggal karena sakit di RS Bhakti Rahayu Ambon," ujar Pdt Jacky saat dihubungi satumalukuID ini melalui messenger, Minggu (19/4/2020) siang.

"Dukacita yang teramat dalam atas meninggalnya Pdt. Chris Tamaela, PhD di Ambon pagi ini. Bung Chris adalah seorang budayawan yang sangat rendah hati, musikolog, dan komposer nyanyian gereja, maupun lagu-lagu daerah Maluku. Banyak karyanya dipakai dalam lomba paduan suara nasional maupun internasional.  Duh! setelah Glenn Fredly, kini Bung Chris Tamaela. Waktunya dekat sekali untuk menampung duka. Selamat jalan pencipta lagu 'Toki Gong" dan 'Toki Tifa' dalam kedamaian sorgawi. Terima kasih untuk semua pengabdian dan karyamu yang luar biasa," tulis pendeta Jacky di laman FB-nya.

Bagi beta, sepeninggalnya pendeta Chris Tamaela hanya berselang sekitar dua minggu dari meninggalnya musisi penyanyi top Indonesia, Glenn Fredly, adalah sebuah kehilangan besar bagi Indonesia dan khususnya Maluku.

Pasalnya, kalau Glenn Fredly pamornya semua pencinta musik tanah air sudah tahu kualitas dan reputasinya, termasuk cinta dan pengabdian pada tanah asalnya. Hal yang sama juga ada pada sosok pendeta Chris Tamaela. Karena kontribusinya pada musik etnik Maluku  dan gerejawi tidak perlu diragukan lagi. Bahkan reputasinya hingga berskala internasional.

Beta punya pengalaman pribadi dengan pendeta Chris. Kesan pertama pada beliau adalah orangnya sangat bersahabat dan sederhana sekali. Bila dibandingkan dengan pengabdian, pamor, karya dan nama besar beliau di khasanah musik etnik dan gerejawi di Indonesia maupun internasional.

Pengalaman itu beta dapatkan saat bersama beliau dan rekan lainnya, menjadi juri lomba logo Pesparawi Nasional tahun 2015 di Ambon. Saat itu tidak terasa beta yang mewakili komunitas wartawan duduk bersama orang hebat musik etnik dan gerejawi itu. Pendeta Chris berdiskusi dengan beta mengalir natural, tidak ada kesan beliau lebih hebat atau apalah istilahnya.

Nah, saat selesai penjurian dan penilaian di salah satu tempat di kawasan Karang Panjang Ambon, dan masing-masing juri mau pulang, beta mengajak pendeta Chris pulang bersama satu mobil. Eh ternyata beliau setuju. Dalam perjalanan beliau banyak bercerita tentang tradisi dan musik Maluku. Termasuk mengkritik penggunaan simbol-simbol adat Maluku di berbagai trotoar jalanan utama kota Ambon. "Tidak tahu adat ini namanya," tegasnya.

Namun yang membuat beta sangat kenang dirinya. Ketika tiba di perempatan lampu merah Hotel Amboina, beliau minta mobil berhenti. Padahal rumahnya berada di kawasan Kudamati dan beta berniat mengantar sampai ke rumahnya. "Stop di sini jua. Tidak usah sampai ke rumah. Beta lanjut dengan angkot saja. Jang repot-repot nyong. Dangke ya," tuturnya. Di saat beta mau cegah, ah beliau sudah buka pintu dan turun menuju halte angkot. Benar-benar sosok sangat sederhana. Beta respek. Salut. Hormat.

Di sisi lain. Pendeta Jacky mengungkapkan, kepergian pendeta Chris adalah kehilangan seorang komponis dan musikus gerejawi Indonesia. Bung Chris telah memperkaya khasanah nyanyian gerejawi dan menyumbangkan bakatnya untuk  perkembangan musik kontekstual gerejawi di Asia dan dunia. "Karena beliau ikut dalam beberapa tim ibadah  khususnya melalui Sidang Dewan Gereja Asia (CCA), Dewan Gereja Sedunia (WCC), dan lainnya," ungkapnya.

Figur pendeta Chris menurut Jacky pun sangat rendah hati. "Kerendahan hatinya tetap tak berubah sejak beta pertama kali mengenalnya, saat Bung Chris masih kuliah di STT Ambon. Sampai ketika beliau telah menjelma menjadi seorang maestro saat ini. Bung Chris bisa sangat santun dan pendiam dalam kesehariannya. Namun ketika sedang berdiskusi tentang musik, melatih, atau berada dalam sebuah even, Bung Chris menjadi sangat dinamis dan atraktif. Bukan saja mulutnya yang bernyanyi, tetapi seluruh tubuhnya menggetarkan nada," kenang Jacky.

Mantan Sekretaris Umum Sinode GPM, Pdt Boetje Mailoa STh kepada media ini juga sampaikan catatannya serta rasa kehilangan dan mengenang pendeta Chris.

Bagi Mailoa, pendeta Chris adalah seorang yang konsisten dengan visi teologis musikal dan liturgi gereja yang kontekstual. Budaya Maluku (baik Alune, Wemale di Seram, maupun Kei, Buru, Aru, Tanimbar, Babar dan Kisar serta Ternate) adalah locus berteologi liturgi dan musik bergereja nya.

Pakem musik bergereja yang selama ini dibingkai oleh ritmik Yunani, melodi Romawi ditantangnya dengan ritmik gelombang, angin di dedaunan dan melodi burung taong-taong dari rimba Nusa Ina dan sriti yang sedang menari dan bersiul diujung-ujung ombak meti, ketika bersyukur atas ikan-ikan yang terjebak di sela-sela karang dalam air sebatas mata kaki.

Doa sama dengan melodi lagu lagu ciptaan nya penuh ratapan anak yang memohon belas kasihan Sang Bapa. Namun lagu lagu daerah nya mencerminkan semangat menggelora dan pekikan huhele di puncak gunung dan derap anak negeri dalam degupan tifa dan Toto buang, perkusi kulit bia dan petikan gitar seperti yang kita dengar dalam nyanyian Toki Tifa yang telah mengglobal.

"Pak Chris tidak hanya menjadikan budaya khususnya Maluku sekedar artefak yang terbekas dalam jejak historis masa lampau. Tetapi budaya dilafaskan dalam nafas global, Asia, Nasional dan lokal," ungkapnya.

Dijelaskan Mailoa, sebelum tahun 1999, tepatnya tahun 1995, Pdt Chris mintakan dirinya untuk membawa hasil-hasil pastoral untuk didisplay dalam ruangan kerjanya, sebuah ruangan kecil di bawah tangga perpustakaan UKIM di Talake. Mailoa membawa beberapa tali kaeng dan boneka kapur sirih yang ditikam jarum pada kepala dan dada. Hasil pengakuan dan penyerahan warga jemaat waktu pelayanan pastoral. Pdt Chris menyimpannya sebagai media pembelajaran. Sayang sekali, tahun 2000 kampus UKIM dibakar dan rata dengan tanah.

Tetapi ide Pdt Chris untuk mengembangkan teologi in Loco (teologi pribumi dan pempribumian teologi) di Maluku tidak surut menjadi debu. Pdt Chris selalu menyemangati rekan dan para mahasiswanya untuk mengeksplor budaya Maluku.

"Itulah yang saya buat pada waktu ibadah pembukaan dan penutupan Pesparawi Nasional Indonesia pada 2015 di Stadion Mandala Remaja Karpan. Selamat jalan rekan pelayan terkasih Pdt Chris. Bernyanyilah dan menarilah bersama para malaikat di surga kekal. Kami di sini masih tetap toki-toki tifa, toto buang dan hentakan hadrat mengalunkan Pela e..... gandong e, membangun Maluku dari tanjung Tifure- Mayau sampai tepian pantai Ilwaki, dari Bobong hingga lolaro di Foket, tentang kasih persaudaraan yang tak pernah padam di hempasan zaman," ungkap Mailoa.

Akhirnya beta cuma bisa bilang selamat jalan ke rumah yang kekal sang maestro. Karya mu abadi, jasamu tetap dikenang. Beristirahatlah dengan tenang.(Novi Pinontoan)

Penulis: redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!