Sekilas Info

CATATAN REFLEKTIF

Kita Bisa!

satumalukuID/Petra Josua Gereja Maranatha Ambon

Bagi semua basudara Kristiani, Selamat Paskah.

Saya hendak merenungi, sembari sedikit berefleksi dari pengalaman kita (di Maluku dan Maluku Utara), ketika menghadapi situasi sosial yang rumit, baik karena bencana sosial-kemanusiaan, bencana alam, maupun bencana non-alam.

Saya meminjam sebagai dasar pemikiran, sebuah konsep dalam Teologi Pastoral, yang dipopulerkan Victor Frankl, yaitu "logotherapy". Ia adalah seorang yang empat kali berpindah dalam Camp Nazi. Ia menyaksikan mama, papa, istrinya yang sedang hamil dibunuh oleh kekejaman Nazi, dan menyaksikan tindakan dehumanisasi terhadap kurang lebih 119,104 orang.

Suatu hal yang membuatnya bertanya tentang "Man's Searching of Meaning". Dalam kondisi yang terparah dialaminya secara langsung, dan dalam kondisi bencana-politik yang maha berat itu, ada satu kalimat yang menjadi dasar menumbuhkan potensi positif dari dalam diri yaitu "Katakan ya untuk kondisi apa pun yang anda alami".

Kalimat itu menjadi dasar teori "logotherapy" sebagai "the highest psychology" yang baginya didasarkan pada keyakinan bahwa setiap orang dapat melampaui setiap proses alami, termasuk tekanan dan penderitaan. Setiap orang berusaha mencari makna dirinya.

Proses ke arah itu tidak hanya dengan menggali sumber-sumber motivasi spiritual (spiritual movement force), tetapi dengan melihat pada upaya pencapaian tujuan dalam aktifitas hidup sesehari. Bila dikaitkan dengan pengalamannya, menurutnya, pencarian makna hidup itu bisa dari penderitaan yang dialami sendiri. Teorinya itu kemudian berkembang dalam Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Tinggalkan teori itu, dalam arti biarlah nanti dibahas dalam forum yang lain.

Saya mau meminjam Kalimat Frankl, "Katakan ya untuk kondisi apa pun yang anda alami". Kata "ya" itu akan saya tukar dengan "Bisa" - sehingga menjadi "Katakan BISA untuk kondisi apa pun yang anda alami".

INDONESIA BISA! Sebab kita menjadi bangsa karena "lulus ujian" nasionalisme dalam spirit kejuangan yang tinggi. GOTONG ROYONG adalah juga Suatu "movement force" yang menjadi gaya hidup dalam menanggung beban bersama. Sendi-sendi kebangsaan kita dalam Pancasila dan akar-akar kebudayaan masyarakat menjadi kekuatan yang memampukan bangsa ini keluar dari rupa macam krisis.

INDONESIA TANGGUH, telah dibuktikan oleh banyak kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pegiat seni, pemerintah, tokoh agama, dan paguyuban-paguyuban yang bahu-membahu menanggulangi dan mendonasikan perlengkapan untuk tenaga medis sampai bantuan ekonomi.

Untuk kita di Maluku dan Maluku Utara, ungkapan "KITA BISA" atau "KATONG BISA" dapat menjadi sumber motivasi dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Mengapa "BISA?"

Pertama, sejalan dengan kisah hidup Frankl, masyarakat di Maluku dan Maluku Utara pernah mengalami langsung bencana sosial-kemanusiaan (1999-2002). Ribuan jiwa hilang karena dendam dan itu adalah sejarah dehumanisasi yang sangat parah untuk wilayah kepulauan. Kerugian material tidak terbilang banyaknya.

Ada masyarakat yang kembali ke kampung halaman tetapi harus membangun dari puing-puing rumah dan kebun, membuat perahu baru mengganti perahu yang sudah jadi arang. Tetapi kita "BISA" melewatinya sambil menyembuhkan trauma (frustrasi eksistensial) kita sendiri.

Apa yang membuat kita BISA? Semangat HIDOP Orang Basudara. Dan itu yang dimaksud Frankl dengan sumber motivasi, yang bagi kita bersumber dari kebudayaan sebagai sokongan pencarian makna kemanusiaan baru. Malah kita BISA membangun peradaban damai yang mengglobal, bahkan derasannya laksana virus yang mewabah ke seluruh dunia, virus perdamaian, virus Orang Basudara, virus perdamaian antar-agama.

Kedua, kita baru saja melewati gempa bumi berkepanjangan (September 2019-Februari 2020) malah dalam masa pandemi corona ini pun masih terjadi di Maluku Utara. Saat terjadi gempa, ribuan kepala keluarga harus mengungsi ke dataran tinggi.

Lagi-lagi kita "BISA" mengatasi segala dampaknya dengan menghidupkan kembali semangat Hidop Orang Basudara, lintas agama. Bukan hanya bantuan tetapi kreasi-kreasi pelayanan sosial dan kemanusiaan, termasuk untuk mengobati trauma dilakukan beragam kelompok, sampai-sampai ada atraksi Badut dan mendongeng. Ternyata kita "BISA" mengobati luka kita sendiri.

Ketiga, pandemi covid-19 ini pun sebenarnya kita "BISA" melewatinya dan "BISA" menyembuhkan diri kita pula. Tidak kurang literasi covid-19 kita terima dalam beraneka bentuk dan bahasa. Berita berseliweran yang sebenarnya tidak harus memicu rasa panik, terapi sebagai contoh untuk semakin belajar waspada.

Ada banyak model literasi covid-19 juga. Dan semua itu membuat seharusnya kita BISA. Asal kita mengelola sumber-sumber motivasi yang berkembang juga dalam alam pemikiran kebudayaan kita sendiri, seperti dengar-dengaran, yaitu dengan menaati semua anjuran yang berfaedah bagi usaha memutuskan mata rantai penyebaran virus corona, dan membantu proses penanggulangannya.

Satu hal yang terpenting lainnya ialah tidak mendiskriminasi saudara-saudara kita yang ODP, PDP, bahkan Kasus. Berempati dengan mereka adalah salah satu obat yang mujarab; sebab kita harus menciptakan suatu komunitas penyembuh yang memberi ruang bagi kita juga dalam rangka memerangi secara bersama pandemi ini.

KITA BISA membangun gerakan solidaritas sosial dengan semangat kegotongroyongan

KATONG BISA membangun RUMAH PULIH di satu Jemaat untuk mendampingi saudara-saudara yang terpapar saat ini dan pasca-pengobatan atau yang berduka, sekaligus menghentikan pejorasi dan stigma sosio-psikhologis terhadap mereka.

KATONG BISA bergerak dengan relawan Badan Penanggulangan Bencana Gereja Protestan Maluku (GPM) untuk menjamurkan diakonia yang lebih transformatif.

KATONG BISA, KATONG BISA BIKING, KATONG PASTI BIKING

Kita Bisa #dirumahsaja
Katong bisa #tadodalangrumah

KITA BISA!
KATONG BISA!

#sinodegpm #cegahcovid19 #tadodirumah #stayathome #matanajwa #narasitv

Penulis: Elifas Maspaitella, Sekretaris Umum Sinode GPM Maluku

Penulis: Elifas Maspaitella
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!