Sekilas Info

OPINI

Sepenggal Kenangan Kecil Tentang Glenn Fredly

Foto: satumalukuID/Embong Salampessy Almarhum Glenn Fredly ketika beraksi pada konsernya yang bertajuk "Tinggikan" di Lapangan Merdeka Ambon, Maluku, Sabtu (21/11/2015) malam. Konser ini menceritakan 20 tahun perjalanan karirnya dalam bermusik.

Glenn Fredly sosok baik hati yang hangat. Musisi talenta, penuh cinta pada sesama, perdamaian dan Indonesia.

Kali pertama jumpa saat Glenn hadir dalam penutupan sekolah HAM - SeHAMa KontraS, 2010. Ngobrol banyak di Borobudur 14 dengan aktivis KontraS, membuat ia jadi musisi andalan yang selalu mendukung kerja kemanusiaan kami.

Dalam diskusi-diskusi itu, tampak bahwa perhatiannya besar untuk ketimpangan dan kekerasan di Indonesia timur. Gagasannya untuk membuat konser kemanusiaan, Suara dari Timur (Voice from the East – VOTE), KontraS sambut baik.

Glenn mengajak para musisi terkenal untuk mengisi konser kemanusiaan. KontraS mengajak teman-teman masyarakat sipil untuk bersama-sama mewujudkan itu. Kami berjibaku melaluinya dalam rapat-rapat intensif. Berbagi peran serta mengadakan konser-konser pendek dimana ia bernyanyi secara sukarela, di berbagai tempat di Jakarta untuk mengumpulkan dana, dalam mewujudkan mimpi tersebut.

Ajakan gerakan kemanusiaan juga bergerak dari kampus ke kampus, termasuk Universitas Parahyangan Bandung, tempat saya kuliah. Untuk ijin acara di Yogyakarta, kami berdua harus menyempatkan diri untuk sowan dan makan siang bersama dengan Wakapolri Nanan Soekarna, bertemu dengan Kapolda Yogyakarta serta Gubernur Yogyakarta Hamengkubuwono X.

Tahun 2012, kampanye dan konser kemanusiaan VOTE berjalan lancar yang diisi oleh musisi2 ternama, meski dengan dana seadanya dan dengan kesukarelaan semua pihak. Bahagia!

Komunikasi tak putus untuk mendorong pembebasan para tahanan politik di Maluku dan Papua. Di Belanda, bersama Amnesty Internasional, kami menggagas upaya kampanye pembebasan tapol Maluku, Johan Teterisa dengan melibatkannya.

Di tahun 2015, ia menelepon saya dan bilang: “Ndri, beta baru bilang Presiden Jokowi untuk bebaskan tapol Papua Maluku. Presiden setuju. Mari kita lanjutkan ini.”

Bersama kawan-kawan Amnesty Internasional dari Inggris, Papang Hidayat, kami berjumpa untuk merancang kampanye internasional yang lebih masif. Beberapa tapol Papua akhirnya bebas, meski lewat proses grasi. Ia menyempatkan waktu mengunjungi Johan Teterisa di Nusa Kambangan, yang akhirnya bebas tahun 2018. Dukungan ini berlanjut saat Glenn menulis artikel: "Amnesty for prisoners of conscience is urgent" di Jakarta Post, 2019 lalu.

Sepulang dari Jakarta setelah berkesempatan berjumpa dengan personil Black Brothers di Canberra, saya berikan CD Black Brothers padanya. Ia senang sekali. “Beruntung sekali kamu bisa ketemu mereka,” katanya. Cintanya pada Papua tak putus. “Beta masih ada mimpi untuk buat konser di Papua.” Ia juga membaca buku Indonesia Timur Tempo Doeloe yang saya berikan.

Lewat twitter messanger, saya mengajaknya untuk mendukung pembebasan Ananda Badudu, musisi muda yang juga aktivis kemanusiaan. Ia respon bahwa ia juga bergerak menghubungi orang-orang penting yang dikenalnya untuk pembebasan itu. Komunikasi terakhir di akhir tahun 2019, saat kami berbagi kabar duka meninggalnya Johan Teterisa.

Tentu tak terhitung juga bagaimana Glenn membagi waktu dan diri untuk mendukung kasus Munir dan Omah Munir, mendukung kelompok-kelompok agama dan kepercayaan minoritas, bersolidaritas untuk para korban pelanggaran HAM, mencintai lingkungan dan membangun toleransi dan perdamaian. Untuk Indonesia.

Kenangan ini tak melulu soal kemanusiaannya. Tapi juga bagaimana ia tau pilihan makan enak di Jakarta. Secara tak sengaja, kami pernah berjumpa di rumah makan pinggir jalan Pecenongan, dan nasi kapau di bawah jembatan Senen. Bersahaja. Perjumpaan terakhir saat ia mengajak saya dan beberapa kawan dekat ke Filosofi Kopi untuk diskusi politik dan kemanusiaan, akhir 2016 lalu.

Satu hal yang belum terwujud. Berkunjung ke tanah kecintaannya, Pulau Ambon. Ia selalu bilang, “Ayo mari kesana Ndri. Pulau cantik dengan penduduk ramah yang cinta sesama saudara.” Suara Nyong Ambon ini juga yang tak lepas dari ingatan, ingatan tentang lagu-lagu manis penuh cinta yang menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Saya, kami, mengenangmu sebagai musisi luar biasa dan aktivis kemanusiaan. Selamat jalan dalam kedamaian Glenn. Sosokmu tak lekang oleh waktu. Rest in Love.

Note: ada banyak kawan yang ikut bersama-sama saya dalam perjalanan bersama Glenn. Maaf, saya tak sebutkan satu-satu. Kita berduka bersama.

Depok, dinihari 9 April 2020

Penulis: Indria Fernida Alphasonny, aktivis kemanusiaan.

Baca Juga

error: Content is protected !!