Sekilas Info

PENANGANAN COVID 19

Yakin Ampuh Bunuh Covid-19, Kelompok Pemuda di Skip Ambon Bikin Tempat Baukup Gratis

Foto: satumalukuID/Ian Toisutta Maerel Leihitu, tampak sedang menyiapkan proses baukup di kawasan Skip Ambon, Selasa (7/4/2020).

satumalukuID- Sekelompok pemuda di kawasan Skip RT 01. Kelurahan Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, membuat inovasi baru penanganan dan pencegahan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Mereka menciptakan tempat berukup atau kata orang Ambon, baukup. Setiap warga yang ingin baukup harus antri dan tidak dipungut biaya alias gratis.

Baukup diyakini mampu membunuh Covid-19. Ini merupakan cara tradisional untuk pemanasan tubuh. Metode itu diketahui ampuh dan telah lama dipakai para leluhur. Cara itu masih terus dipakai turun temurun, khususnya bagi seorang ibu yang baru selesai melahirkan.

Metode pengoatan tradisional ini dilakukan menggunakan daun atau ramuan rempah-rempah yang dimasak. Uapnya kemudian dihirup melalui hidung maupun mulut orang yang berada dalam sebuah wadah tertutup. Proses pemanasan tubuh ini diyakini baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

Pantauan satumalukuID di kasawan Skip, Selasa (7/4/2020), kelompok pemuda dalam komunitas bernama Raja Tega ini membuat tempat atau bilik berukup di pinggir jalan.

Tempat tersebut terbuat dari kayu dan tripleks setengah permanen. Atapnya menggunakan senk bekas. Tingginya 1 meter lebih, diameternya kurang lebih sekitar 60x40 centimeter. Bagian atas, dinding dan pintunya dibuat menggunakan pelastik tebal yang tertutup rapat.

Bilik berukup hanya mampu menampung satu orang. Di dalamnya terdapat satu lubang pipa yang mengeluarkan uap panas dan sebuah tempat duduk. Uap panas dihasilkan dari pemanasan ramuan sejumlah dedaunan seperti cengkih, pala, sirsak, sirih, kayu putih, kunyit, jahe, langkuas, dan kayu manis dengan air. Uap panas itu keluar melalui pipa yang tersambung ke wadah memasak yang berada di atas kompor menyala.

“Dari beberapa sumber yang saya lihat, ada penelitian yang menggunakan pemanas rambut (hair dryer) yang diarahkan ke air. Kemudian uap air dihirup orang. Katanya mampu mematikan virus. Dari situ saya tarik kesimpulan bahwa kita punya budaya leluhur ada. Namanya baukup (berukup),” kata Maerel Leihitu, penggagas pembuatan alat berukup kepada satumalukuID, Selasa (7/4/2020).

Pria 37 tahun yang merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini mengaku, pembuatan tempat baukup ini juga didapat dari berbagai sumber lain dari youtube. Diantaranya menemukan jika Covid-19 akan mati jika berada pada suhu 30 derajat celcius.

“Lalu kami berfikir, kalau bagitu, panas matahari kita naikan dua kali lipat menjadi 60 derajat celcius melalui wadah ini. Sedangkan tempat berukup ini suhu panasnya bisa melebihi, sehingga kita kembangkan alat seperti ini,” kata Maerel menggunakan dialek Ambon.

Sumber lain yang menginspirasi pembuatan bilik berukup tersebut, tambah Maerel, adalah keberadaan Covid-19 dalam hidung bagian atas dan bertahan selama kurang lebih 4 hari. Di mana, virus itu menetap dan baru akan masuk ke tenggorokan setelah itu menuju paru-paru.

“Jadi beta berpikir, satu hari dua hari katong (kita) masuk baukup saja, karena dia (corona) tidak mungkin masuk ke dalam (paru-paru). Baukup ini kalau kita kuat tahan maka kita bisa bertahan di dalam bilik kurang lebih 15 menit. Tapi kalau tidak tahan hirup uap panas bisa 5 sampai 7 menit. Dan beta rasa virus mati,” yakin Maerel berdasarkan berbagai sumber yang dihimpun dari youtube.

Selain panas, uap yang dihirup juga bukan sembarangan. Uap panas dihirup dari penguapan sejumlah daun maupun rempah-rempah yang dimasak.

“Racikan ini yang kita lihat dari beberapa sumber dari internet, bahwa ada tanaman-tanaman di sekitar katong ini bisa membunuh virus. Seperti daun cengkeh, pala, siri, bahkan ada penelitian dari dokter di Jawa sana bahwa dengan menggunakan rempah-rempah seperti kunyit, jahe, lengkuas, temulawak dan sebagainya itu dia bisa mematikan virus juga,” sebutnya.

Lantas, untuk membeli kompor, panci, pipa paralon, kayu, tripleks serta bahan bakar minyak, maupun dedaunan dan rempah-rempah, kata Maerel didapat dari swadaya masyarakat. Wadah baukup tersebut, lanjut dia, beroperasi sejak pagi pukul 08.00 WIT dan sore hari sekira pukul 18.00 WIT setiap hari.

“Kita patungan lima-lima ribu rupiah lalu kita buat. Kita melibatkan ade-ade komunitas GMers Raja Tega. Warga yang masuk tidak dipungut biaya. Jadi kita yakin Raja Tega mampu bunuh Covid-19,” tandasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!