Sekilas Info

IN MEMORIAM

Pendeta Bersahabat dan Murah Senyum Itu Telah Tiada

KABAR duka meliputi Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Minggu (29/3/2020).Karena mantan Ketua Sinode GPM dua periode 1986-1990 dan 1990-1995, Pdt Abraham "Bram" Jonatan Soplantila STh wafat. Sosok pendeta, seorang hamba Tuhan bersahabat dan murah senyum itu telah pergi selamanya meninggalkan umatnya.

Pa Bram telah dimakamkan pada Senin (30/3/2020), setelah dari rumah duka di kawasan Halong Atas dilepas secara gerejawi dalam ibadah di gereja pusat Maranatha. Di masa kepemimpinannya sebagai ketua sinode GPM, beta secara pribadi belum mengenalnya secara dekat. Namun tahu beliau adalah pimpinan umat kami.

Tetapi di akhir masa periode keduanya, beta sudah menjadi jurnalis dan mengenalnya dalam beberapa momen. Beliau sangat bersahabat, familiar. Sering menyapa dengan senyum dan suaranya yang khas. "Nyong apa kabar? Novi bagaimana? Ale fans timnas Jerman juga ya?," begitulah awal dan sering beliau menyapa beta saat bertemu.

Ternyata beliau adalah seorang fans berat timnas Jerman. Klop lah keakraban beta dan beliau he he. Persahabatan beta dan beliau berlanjut meski Pa Bram sudah pensiun dari status pendeta secara struktural. Pasalnya, beliau kemudian mengabdi sebagai ketua yayasan YPPKM yang mengelola lembaga pendidikan sekolah SD, SMP, SMA Kristen dibawah Sinode GPM, yang kantornya dekat rumah beta di kawasan Urimesing.

Ada kisah yang beta tidak akan lupakan. Suatu pagi di tahun 2007 persis di trotoar depan rumah kawasan Urimesing. Beta sedang berjemur matahari pagi untuk pulihkan kesehatan karena sakit. Lewatlah Pa Bram hendak ke kantor yayasan YPPKM.

"Pagi nyong. Eh Nov Ale sakit ya? Sakit apa?," sapanya dengan nada prihatin seorang bapak dan hamba Tuhan. Setelah beta jelaskan sakit apa dan rencana operasi di Jakarta. Spontan beliau kaget dan menepuk bahu beta. "Oh ya? Jangan khawatir. Ada Tete Manis toh nyong. Mari Katong masuk dalam Ale rumah, lah beta berdoa par ale sdiki," ungkapnya dengan dialek Ambon.

Beta kaget dan merasa sebuah penghormatan sekaligus penguatan. "Nyong harus kuat. Serahkan semuanya par antua di atas. Jang khawatir e," katanya, sambil menepuk bahu beta dan pamit ke tempatnya bekerja.

Momen itu sangat menguatkan beta. Serasa ada kekuatan baru untuk menuju rumah sakit di Jakarta guna operasi. Kejadian itu sudah 13 tahun lalu, namun sangat berkesan. Karena mantan ketua sinode GPM dua periode itu, tanpa diminta mau melayani beta.

Di lain momen. Beliau bicara soal sepakbola,. Namun bukan tentang timnas Jerman doang. Tapi pandangannya luas.

"Katong dua fans timnas Jerman. Tapi jangan bicara bola saja. Beta sudah ke Jerman. Beta lihat etos kerja dan disiplin mereka sangat kuat. Pantas mereka jadi negara besar dan maju di dunia. Makanya, Ale sebagai jurnalis juga harus tulis dan kritik soal etos kerja dan disiplin katong disini. Satu lagi beta bilang, kalau benar jangan takut menulis," ungkapnya suatu ketika ibarat seorang penasehat.

Begitulah sosok bersahabat dan kebapakan yang beta kenal dari Pak Bram. Pandangan beta ini ternyata senada dengan Sekum PGI, Pdt Jacky Manuputty STh yang dimintai komentarnya tentang figur Pak Bram.

"Kekuatan sosoknya ada dalam cara bergaulnya yang sangat terbuka, akrab dan ramah dengan siapa saja. Pak Bram bisa dekat dengan gubernur, sama dengan kedekatannya dengan seorang penjaga kantor. Pak Bram sangat pandai 'bawa diri', karenanya ia diterima hangat di semua lapisan masyarakat. Itu sikap yang dikenang banyak orang dari Pak Bram," ungkap Pdt Jacky.

"Turut berduka cita yang dalam. Beliau tokoh senior gereja. Selamat jalan senior," ujarnya.

Sementara itu, Sekum Sinode GPM Pdt Elifas Maspaitela STh dalam catatannya di medsos, mengungkapkan bahwa Pendeta Bram Soplantila adalah Ketua Sinode 1986-1990 di masa terakhir siklus empat tahunan kepemimpinan dan kepelayanan GPM sekaligus yang pertama dalam periodisasi lima tahunan, 1990-1995.

Ia telah mengantar gereja ini memasuki suatu masa baru, yang bertujuan untuk memantapkan seluruh perencanaan dan implementasinya. Apa yang kita sebut sebagai sentralisasi visi dan desentralisasi prakarsa telah menjadi tanda keseriusan GPM menata pelayanan dalam kerangka misi damai sejahtera Allah. Seperti nabi Musa, di akhir masa pelayanannya, dalam rangkaian pidato akhirnya, ia berkata kepada Tuhan:

"Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini" (Keluaran 33:15).

Pendeta Bram Soplantila telah membawa gereja ini menyeberangi titik transisi dan masuk ke titik baru, pelayanan berkelanjutan.

Sebenarnya di periodenya pula, GPM baru saja (1985) memandirikan GPI Papua, sebagai buah tugas menanam dan menyiram di Maluku dan Irian Jaya Selatan sejak zaman Zending. Artinya, pada point itu pun, ia memasuki suatu masa baru dalam sejarah pelayanan GPM, sebagai bukti misi gereja itu tidak berhenti karena selalu melahirkan cara-cara baru sebagai bentuk campur tangan Tuhan.

Terimakasih untuk masa baru ini, Pak Bram. Selamat menjalani hidup kekal, suatu masa baru bagi segala orang beriman," ucap Pdt Elifas.

Dangke banyak Pak Bram sudah berdoa dan membagi kisah kehidupan dengan beta sebagai anak. Kiprahmu tetap dikenang sepanjang hayat.

Selamat jalan Pak Bram. Rest in Peace. (novi pinontoan)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!