Sekilas Info

Hindari Covid 19, Jemaat GPM Ibadah Minggu via Online di Rumah

satumalikuID - Guna menghindari makin mewabahnya penyebaran virus Corona atau Covid 19 di Maluku dan khususnya Kota Ambon dan sekitarnya, maka Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) meniadakan ibadah Minggu (29/3) di gedung gereja. Sebagai gantinya warga jemaat diminta beribadah di rumah sesuai tata ibadah yang diatur di tempat masing-masing.

Selain tata ibadah yang sudah dibagikan di rumah, jemaat juga bisa mengikuti ibadah yang dipimpin pendeta di mimbar gereja nya melalui teknologi live streaming.

Hal itu seperti dilakukan jemaat GPM Silo Ambon. Live streaming ibadah minggu (29/3/2020), disiarkan dari mimbar gerejanya pada pukul 09.30 WIT yang dipimpin ketua majelis jemaat Silo, Pdt Jan Matatula STh dan hanya ditemani beberapa orang saja.

Sedangkan para majelis sektor masing-masing wilayah pelayanan kemudian mendatangi rumah jemaat untuk mengumpulkan kolekta atau persembahan, barulah dilanjutkan setor ke gerejanya.

Terkait ibadah Minggu di rumah untuk ikuti himbauan pemerintah itu, Sekretaris Klasis GPM Kota Ambon Pdt Ny Dana Lohy STh dalam akun Facebook nya mengatakan,
ibadah Minggu sengsara VI dilaksanakan di rumah menyadarkan kami, bahwa hidup ini sungguh membutuhkan tangan Tuhan yang kuat untuk melindungi keluarga, tenaga medis, pemerintah, para pemimpin agama dan masyarakat agar bekerja bersama untuk memutus mata rantai Covid-19.

"Ada begitu banyak rumah gereja yang tutup karena Covid-19 namun ada ribuan orang yang beribadah di rumah. Tuhan berkati Indonesia-Maluku-Ambon," ungkapnya.

Sementara itu, Pdt Rudy Rahabeat STh dalam akun Facebook nya juga mengutip pandangan Dr John Ruhulesin STh dosen senior Fakultas Theologia UKIM Ambon dan mantan Ketua Sinode GPM tentang tiga poin ibadah Minggu di rumah.

Diungkapkan, bentuk empati dan respons teologis pastoral terkait ibadah Mingggu yang berlangsung di rumah pada lingkup GPM maka tiga point pandangan dari Ruhulesin.

Pertama, pertanyaan teologis memang sangat perlu. Apakah gereja itu dan untuk apa gereja itu.  Apakah ia terutama sebuah gedung ataukah ia terutama sebuah komunitas beriman?

Kedua, sebetulnya ibadah di rumah bukan hal baru bagi GPM termasuk Perjamuan Kudus.

Hampir semua proses memperkuat komunitas beriman dan penguatan persekutuan- pelayanan dan kesaksian komunitas beriman itu berlangsung di rumah (binakel, unit, sektor, wadah-wadah pelayanan, termasuk Perjamuan Kudus bagi lansia dan orang sakit, dll berlangsung di rumah).

"Mungkin tidak salah juga bila dikatakan "Jemaat rumah" bagi GPM bukan hal baru. Kultur jemaat rumah telah menjadi spirit dari kultur berGPM. Dari sudut ini saya rasa menggeserkan ibadah minggu dari gereja ke ibadah minggu di rumah tidak ada salahnya. Masalahnya adalah bagaimana cara pandang tentang gedung gereja dimaknai sebagai pusat persekutuan?," ungkapnya.

Ketiga. Allah hadir di rumah sebagai pusat persekutuan. Rumah sebagai pusat kehadiran Allah. Olehnya ibadah di rumah mesti bernas dan tidak kehilangan makna persekutuan iman yang otentik. Rumah harus menjadi pusat kesaksian, persekutuan dan pelayanan. Dengan begitu penguatan kehidupan keluarga menjadi hal yang penting bagi GPM.

Penulis: Novi Pinontoan
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!