Sekilas Info

PERTAHANAN

TNI AU Kerahkan Tiga Pesawat Tempur F-16 Pantau Jalur Laut Indonesia dari Ambon

Foto: satumalukuID/Ian Toisutta Tiga Pesawat Tempur F-16 milik TNI AU tampak parkir di area Baseops Lanud Pattimura Ambon, Kota Ambon, Senin (9/3/2020).

satumalukuID- Sebanyak tiga unit pesawat tempur F-16 dikerahkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dari Skuadron Madiun. Pesawat canggih milik Indonesia ini tiba di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Pattimura, Kota Ambon, Senin (9/3/2020) pukul 15.14 WIT.

Selain F-16, terdapat juga pesawat angkut C-130 Hercules, dan CN-135. Bahkan, satu unit pesawat Heli Bell ikut di Bawah Kendali Operasi (BKO)-kan dari Kodam XVI/Pattimura. Ini terkait dengan dilakukannya dalam operasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dengan menggunakan sandi Trisakti 20.

Komandan Lanud Pattimura Ambon, Kolonel Pnb Sapuan, mengungkapkan, Ambon (Maluku) berada di jalur ALKI III. Jalur ini dikategorikan sebagai daerah yang rawan dan luas.

Sapuan yang juga merupakan Komandan Satgasud Operasi Trisakti 20 Lanud Pattimura Ambon ini menyampaikan, jika ALKI merupakan konsensus yang ditetapkan pada peraturan pemerintah No. 37 tahun 2002. Wilayah Indonesia dibagi untuk dilewati oleh 3 jalur ALKI. Ini sesuai keputusan IMO pada siding Marine Safety Comitte ke-69.

Dia katakan, Jalur ALKI menjadi sebuah representasi dari luasnya wilayah perairan yuridiksi nasional, yang berkaitan dengan status Indonesia sebagai sebuah negara maritim. Pasca ditetapkan sebagai Negara Kepulauan, kewajiban pemerintah terhadap status tersebut telah diatur dalam Pasal 46-53 UNCLOS 1982.

“Indonesia dapat menentukan alur laut untuk lintas kapal dan pesawat udara bagi negara asing, yang akan lewat secara terus menerus,” jelasnya.

Menurut dia, Ambon yang masuk jalur ALKI III, dimana jalur ini dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian Selatan bercabang tiga menjadi ALKI III-A yang terdiri dari sekitar perairan Laut Sawu, dan Kupang. Kemudian ALKI III-B, ALKI III-C yaitu berada di sekitar sebelah Timur Timor Leste dan ALKI III-D di sekitar perairan Aru. Jalur pada ALKI III-A difungsikan untuk pelayaran dari Samudera Pasifik melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai dan Laut Sawu.

ALKI III-A sendiri mempunyai 4 cabang yaitu ALKI cabang III-B untuk pelayaran dari Samudera Pasifik melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, dan Selat Letti ke Samudera Hindia dan sebaliknya. ALKI III-C untuk pelayaran dari Samudera Pasifik melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, ke Laut Arafura dan sebaliknya.

Selanjutna ALKI III-D untuk pelayaran dari Samudera Pasifik melintasi Laut Mauku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai dan Laut Sawu ke Samudera Hindia dan sebaliknya. ALKI III-E untuk pelayaran dari Samudera Hindia melintasi ke Laut Sawu, Selat Ombai, Laut Banda, Laut Seram dan Laut Maluku.

“Jalur ini tentunya mengandung kerawanan dan ancaman. Karena Indonesia memberikan kesempatan sebagai jalur lintas bagi kapal-kapal dari luar melewati Indonesia,” jelasnya.

Untuk memberikan pengamanan, maka Kogabwilhan III mengadakan rangkaian operasi khususnya operasi jalur laut. Operasi ini, lanjut Sapuan, sasarannya untuk melaksanakan pengamanan ALKI III. Pengamanan jalur laut tersebut akan berlangsung selama kurang lebih 15 hari sejak Senin hari ini hingga 20 Maret 2020 mendatang.

“Personel yang dilibatkan dari beberapa satuan dan personel gaktib dengan jumlah kurang lebih 65 personel,” tandasnya.

Sementara itu, Komandan Skadron Udara (Danskadud) 3 Letnan Kolonel Agus menjelaskan bahwa kedatangannya dalam rangka pengamanan ALKI.

“Kita diwajibkan jaga alur laut untuk dilintasi pesawat-pesawat maupun kapal-kapal asing. Ada tiga ALKI. ALKI I berada di Indonesia Bagian Barat, ALKI II di laut Sulawessi dan ALKI III Ini yang menurut kami paling rawan. Kalau kita lihat dari Utaranya satu, namun dari selatannya ada tiga cabang,” jelasnya.

Pihaknya, lanjut Agus yang mengemudikan jet tempur F-16 ini, berkewajiban untuk menjaga ALKI agar tidak banyak terjadi pelanggaran. “Asumsinya kita punya rumah, kita punya tanah, kita buat jalan untuk orang lain lewat. Tentunya karena dia lewat di wilayah kita, maka ada aturan yang harus diikuti. Ada sayarat dan kentuan berlaku,” katanya.

Salah satu ketentuan yang tidak boleh dilanggar, contoh Agus adalah seperti tidak boleh melakukan ekplorasi ataupun eksploitasi sumber daya alam serta beragam kegiatan lainnya yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku tersebut.

“Untuk itulah operasi ini digelar. Di mana ada unsur laut, udara yang bersama-sama menjaga alur laut ini, sehingga kita sebagai pemberi hak lintas dan yang melintas tidak melakukan pencurian sumber daya alam dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor: Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!