Sekilas Info

OPINI

Pesan Horo-horo

Foto: satumalukuID/freepik.com Ilustrasi, marah-marah atau cepat tersulut emosi.

Dalam bahasa Negeri Morella, di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Ambon, Parahoro artinya marah. Horo-horo = suka marah, pemarah, cepat tersulut emosi dan lain-lain (sumber, Ileng Leikawa).

Horo-horo bisa melekat pada siapa saja yang pemarah. Tua muda, lelaki perempuan. Kesan kata ini negatif. Horo-horo juga terkadang disandarkan pada pemuda yang cepat tersulut emosi, yang berasal dari dua kelompok atau daerah yang bertikai. Dalam beberapa kasus, ada yang ibunya berasal dari negeri “A”, sedang bapaknya negeri “B” atau sebaliknya. Atau bisa juga dari kampung lain, negeri “C”.

Biasa sampe katong bilang dong ada sawang. Itu karena dong talalu fanatik kampong. (Terkadang kami menyebut mereka sawang, karena terlalu fanatik kampung)," kata Ileng Leikawa, pemuda Negeri Morella.

Pemaknaan yang sama saya dapati saat ngobrol dengan Duka “Kiper”, tokoh masyarakat Negeri Mamala. “Kiper” itu julukannya, karena ketika klub Bola Kaki Mamala berjaya, Duka adalah kiper andalan Mamala.

Biasanya dong ini yang jadi kapala kajahatang. Karena dong mau kasi liat bahwa bukan karena dong ada dari sabala lai, la pake pilih lawan. Ini ni, beta bisa bikin labe. (Biasanya anak yang salah satu orang tua dari satu negeri, bisa jadi pimpinan pelaku kejahatan. Seakan mereka ingin katakan, saya bisa berbuat lebih dari yang lain, tanpa pilih lawan)," Duka menjelaskan dengan sedikit geram.

Dalam struktur keluarga, saya masih ipar dengan Duka. Karena istrinya bermarga Malawat. Kami ngobrol asyik di rumahnya yang terletak dekat gapura Negeri Mamala.

***

Kata horo-horo, di Makassar sama dengan koro-koro, koro-koroang. Atau sepadan dengan moro-moro, marah-marah. Kata ini berkonotasi negatif. Namun saya ingin mendekati kata horo-horo dari sisi lain. Karena “bahasa” mestinya bisa netral. Bisa positif, dan bisa negatif.

Horo-horo, marah, nafsu dibutuhkan dalam hidup. Heheh...bayangkan, bila anda tidak miliki parahoro, tidak ada emosi (marah), tidak juga punya nafsu. Heheh.. kalo kaki anda sengaja diinjak, dan anda dengan senyum, “maaf Bang.. beta pung kaki sakit..?” sioo.. Atau tidak punya nafsu. Maka regenerasi anda tamat.

***

Dua pekan lalu, saya dihadiahi beberapa buah buku. Salah satunya buku. “Anger Management”. Buku yang membahas tentang emosi, marah, penyebab marah, dan bagaimana mengendalikannya. Buku ini ditulis oleh sepasang suami-istri, Dandi Birdy dan Diah Mahmudah. “Marah, atau amarah itu alami, hanya mengelolanya butuh ilmu dan seni," tulis mereka.

Dalam buku dijelaskan, marah yang dilampiaskan, boleh jadi disebabkan persoalan lain yang sedang menghimpit. Sehingga ransel atau gudang marah telah penuh, mudah tumpah dan kemana saja. Bila pihak kedua juga memiliki ransel marah yang sama penuh, maka konflik sangat mudah terjadi. Heheh.. saya ingat istilah “sumbu pendek”. Maka, mengelola marah, melepas isi ransel marah dan mengelola menjadi energi positif tidaklah mudah.

Bila dihubungkan dengan horo-horo, terutama untuk mereka yang berasal dari dua negeri berbeda (salah satu, ibu atau bapak dari luar kampung) sebagaimana diceritakan Ileng dan Duka, memang butuh perhatian lebih. Bisa jadi persoalan ekonomi yang menghimpit membuat emosi anak negeri cepat tersulut untuk menyerang atau membalas serangan negeri tetangga lalu membawa-bawa nama negeri “A” atau “B”.

Ketika memikirkan hal ini, memori saya mundur ke tahun 2016 saat bertemu dengan Pak Doni Munardo (saat itu beliau Pangdam Pattimura), Pak Doni mengidentifikasi persoalan utama di negeri-negeri bertikai di Maluku, karena faktor ekonomi. Sehingga salah satu langkah penanganan melalui solusi ekonomi.

Saya ingin membantah. Karena bagi saya, pertikaian bisa disebabkan pertentangan sejarah, bisa karena hak adat ulayat, ada dendam, ada tuntutan diperlakukan secara adil di mata hukum, dan lain-lain. Itu pikiran saya.

Namun ketika Pak Doni mampu membuang sebagian isi ransel emosi – dendam – anak negeri melalui pengiriman istri para korban pertikaian untuk berumrah (bagi yang muslim) dan ke Yerusalem (bagi yang kristen), dendam yang sering sambung menyambung menjadi berkurang diganti dengan rasa syukur dan terimakasih.

Belakangan ketika ekonomi negeri-negeri bertikai juga diperhatikan, termasuk Morella yang digerakkan oleh pendapatan ekowisata, negeri-negeri tetangga juga menerima dampak positif, maka pertikaian menurun drastis. Yang horo-horo, mulai ambil bagian membangun ekonomi, Ternyata energi marah perlahan dirubah menjadi positif.

Berdasar pengalaman Pak Doni dan buku “Anger management”, horo-horo dapat dikelola menjadi energi yang dahsyat dan bermanfaat.

Saya jadinya ingin menjadi mereka yang horo-horo. Yang kaki sebelah anak negeri, sebelah “luar negeri”, hehehe maksudnya bukan dari Maluku sini. Tentu dengan sedikit kelebihan mengelola emosi atau marah atau horo-horo.

Semoga tulisan-tulisan ini, menjadi bagian dari cara saya mengelola energi horo-horo. Semoga.

Hunuth, Durian Patah, 25 Pebruari 2020

Penulis: Fuad Mahfud Azuz, guru mengaji, tinggal di Hunuth Durian Patah, Kota Ambon.

Baca Juga

error: Content is protected !!