Sekilas Info

REMPAH REMPAH

“Setang Galojo Ana Bongso Gamu” di Beringin

BEBERAPA hari lalu beta menulis tentang dominasi para kader berinisial "R" di Partai Golkar Maluku. Itu terkait dengan kompetisi antara kader untuk merebut pucuk Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) dalam musyawarah daerah (Musda) ke-10 parpol berlambang beringin, dengan khas warna kuning itu.

Namun, agenda Musda ditunda. Dibatalkan sampai ada jadwal resmi dari Dewan Pengurus Pusat (DPP). Suhu persaingan langsung menurun. Dinamika yang sempat hampir mencapai klimaks nya, akhirnya mereda dengan sendirinya.

Apakah kompetisi berakhir seiring penundaan Musda? Oh no, tidak !

Bukan politisi namanya kalau tidak merancang taktik, strategi, konsolidasi di masa jeda. Pasalnya, seperti dijelaskan dalam berbagai literatur diantaranya disebutkan politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

Filsuf terkenal Yunani, Aristoteles, misalnya menyatakan bahwa pengertian politik adalah upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki. Lantaran itu. Jika membicarakan politik, maka erat kaitannya dengan negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan umum, hingga distribusi kemakmuran.

Dalam sudut pandang lain, diungkapkan bahwa politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Nah, anggap saja tulisan ini adalah Part Two, bagian kedua dari dinamika Musda X Partai Golkar Maluku.

Info terkini, Musda yang sempat dibatalkan itu, sudah diagendakan kembali pada Sabtu 7 Maret 2020. Hal ini setelah Ketua DPD Partai Golkar Maluku, Said Assagaff dan rombongan menemui Waketum dan Sekjen DPP di Jakarta, Kamis (5/3/2020).

Suhu persaingan kembali naik. Perebutan kursi alias "kadera" sesama kader beringin kuning lagi-lagi diwarnai aksi lobi dan negosiasi. Tak tanggung-tanggung, strategi "potong kompas" hingga ke Jakarta pun dilakukan.‎

Secara sosiologis, sikap itu bisa dikategorikan sebagai "mental menerabas". Koenjaraningrat menggambarkan mental menerabas ‎berhubungan dengan nafsu mencapai tujuan secepat-cepatnya dengan menegasikan proses.

Orang-orang bermental ini menginginkan jalan yang gampang. Mental menerabas yang terus dipupuk dan dibudayakan dari waktu ke waktu akan menjadi kanker yang menggerogoti tubuh bangsa ini.

Sementara yang ideal haruslah tetap pada jalur makanisme. Yakni membangun konsolidasi pemilik suara. Karena disitulah "roh" demokrasi, nadinya organisasi politik seperti parpol. Siapa mendapatkan dukungan dan suara terbanyak, dialah yang mendapatkan "kadera".

Proses politik dan dinamika di Partai Golkar Maluku ini. bikin beta jadi teringat permainan tradisional masa kecil anak-anak di Ambon dan sekitarnya. Nama permainan itu, "Setang Galojo Ana Bongso Gamu".

Masih ingatkan anda dengan permainan ini? Sederhana saja mainan rakyat tersebut. Yang menggambarkan setan yang menginginkan anak bungsu yang gemuk, meskipun anak bungsu gemuk itu sudah dilindungi saudara-saudaranya.

Gambaran permainan itu dalam konteks kekinian masih relevan. Sebab persaingan, kompetisi, perebutan suatu kursi pimpinan di parpol selalu penuh dengan dinamika, intrik, strategi, kubu, dukung mendukung dan lobi, tentunya juga ada deal-deal, negosiasi.

Bila diandaikan. Kursi atau "kadera" pimpinan parpol seperti "ana bongso gamu" sudah pastilah menjadi rebutan para kader yang layak dan memenuhi syarat, untuk saling bersaing, berkompetisi mendapatkan dukungan dari para pemilik suara. Tentunya, jangan bersikap "mental menerabas". Namun harus pada mekanisme, jalur rule of the game. Yang dalam permainannya jangan lupa fair play.

Kini Musda X Partai Golkar Maluku akan bergulir kembali. Tentunya di arena itu akan dibahas berbagai agenda, program, dan visi misi partai ke depan.

Lalu siapa calon kuat Ketua DPD nanti pasca kepemimpinan Said Assagaff ? Ada beberapa nama. Mereka dominan adalah kader berinisial "R". Ada Ramly Umasugi (RU/Bupati Buru dua periode), ada Richard Louhenapessy (RL/Walikota Ambon dua periode)‎, sempat juga ada nama Richard Rahakbauw (RR/Wakil Ketua DPRD Maluku), ada lagi Ridwan Marasabessy (RM/Mantan Anggota DPRD Maluku).

Tetapi belakangan RR dan RM dikabarkan tidak ikut bersaing. Berarti sisa dua nama yang bersaing. Yaitu RU dan RL.

Namun demikian, di saat ramai kubu dukungan ke keduanya. Muncul desas-desus akan adanya figur alternatif untuk pimpin Partai Golkar Maluku. Siapa dia? Sosoknya adalah seorang jenderal bintang dua asli anak Maluku yaitu Mayjen TNI Marcus Izach Pattipeilohy.

Benarkah demikian? Walahualam. Kita lihat saja nanti. Terlepas dari siapa yang terpilih. Tentunya ‎Musda harus berjalan pada alur aturan main, rule of the game. Juga jangan abaikan fair play dalam dinamika.

Ambisi tentunya ada, asalkan jangan membabi buta. Karena demokrasi dan politik punya etika.Tidak asal siapa kalah, siapa menang saja. Pasalnya, Musda Golkar ini, juga sangat strategis untuk memilih calon-calon pemimpin daerah ini ke depan. Apalagi pemilu serentak akan berlangsung pada 2024, saat posisi jabatan Gubernur Maluku yang dijabat Murad Ismail berakhir di periode pertama.

Harapan beta dan kita sebagai rakyat non partisan. Semoga Musda Partai Golkar, bukan saja fokus pada perebutan "kadera" kekuasaan. Namun harus menghasilkan berbagai program-program pembangunan daerah dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, sehingga bukan elit atau politisi saja yang sejahtera, tetapi rakyat pemilik kedaulatan pun merasa diberdayakan. Ada satu titipan harapan pada ketua dan fungsionaris terpilih lainnya.

Ingatlah provinsi tercinta ini masih berada di level bawah kemiskinan. Itu saja intinya. Selamat berMusda dan sukses. (*)

Penulis: NOVI PINONTOAN, Jurnalis

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!