Sekilas Info

EKSEKUSI TANAH

Eksekusi Lahan Sengketa di Waai Berujung Ricuh, Dua Anggota Polisi Terluka Diserang Massa

Foto: satumalukuID/Ian Toisutta Api dari ban bekas yang dibakar warga saat eksekusi lahan di Dusun Waiselaka, Negeri Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (5/3/2020).

satumalukuID- Aparat Kepolisian dari Direktorat Samapta Polda Maluku dan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, tampak kocar kacir dihujani batu. Mereka diserang massa tergugat eksekusi lahan di Dusun Waiselaka, Negeri Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (5/3/2020).

Warga tergugat eksekusi lahan menyerang aparat pengamanan eksekusi dengan batu. Dua anggota Dit Samapta terluka dan harus dilarikan mendapatkan perawatan medis di rumah sakit dr. Ishak Umarella, Tulehu, Kecamatan Salahutu.

Dua anggota terluka adalah Ipda Januar yang adalah Komandan Pleton (Danton) Dalmas. Januar mengalami luka robek pada pelipis mata sebelah kanan. Anggotanya Bripka Yohanes Ngilawana, juga terkena lemparan batu hingga bersimbah darah.

Informasi yang diterima satumalukuID, menyebutkan, kericuhan terjadi berawal ketika proses eksekusi riil pada objek sengketa tersebut dilakukan Pengadilan Negeri (PN) Ambon sejak pukul 11.30 WIT.

Eksekusi dilakukan berdasarkan Surat Penetapan Ketua PN Ambon nomor 16/Pen/Pdt.Eks/2019/PN Ambon, Jo Nomor 118/Pdt.G/2014/PN Ambon tanggal 13 Januari 2020.

Surat penetapan eksekusi memerintahkan tergugat keluar meninggalkan objek dan menyerahkan objek sengketa kepada penggugat atau pemohon dalam keadaan kosong.

Diawali dengan pembacaan surat penetapan eksekusi oleh juru sita PN Ambon, pihak tergugat yang diwakili Hein Bakarbessy dan keluarganya sempat menolak eksekusi.

Tergugat dan warga yang rumahnya berada di atas objek sengketa tersebut melakukan aksi protes. Mereka tidak terima karena putusan Mahkamah Agung (MA) terkait persoalan itu belum keluar.

Menurut tergugat, putusan MA belum keluar dan sebelumnya telah mengirim surat penolakan eksekusi kepada PN Ambon. Tapi PN tidak menggubris karena mengacu pada putusan pengadilan.

"Saat eksekusi menggunakan satu unit alat berat dilakukan, sekitar pukul 12.30 WIT, proses eksekusi mendapat perlawanan. Massa tergugat membakar ban bekas dan melempari petugas dengan batu," kata sumber satumalukuID.

Perlawanan keras dengan menghujani aparat dengan batu memaksa tembakan peringatan ke udara dilepas. Gas air mata juga dilepas untuk membubarkan massa.

“Saat itu warga terus melakukan pelemparan. Mereka menolak eksekusi. Akibat lemparan itu 2 anggota Dit Samapta Polda Maluku mengalami luka terkena batu,” ujarnya.

Mencegah jatuh korban tambahan dan terus mendapat perlawanan bertubi-tubi personel pengamanan terpaksa ditarik dari TKP sekira pukul 13.10 WIT.

“Untuk sementara kegiatan eksekusi dihentikan menunggu hasil rapat konsolidasi, karena pihak tergugat masih terus melakukan perlawanan dengan melakukan pelemparan batu,” tandasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari aparat Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease.

"Saya belum tahu. Nanti saya cek dulu," kata Kasubbag Humas Polresta Pulau Ambon Iptu Julkisno Kaisupy kepada satumalukuID.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!