Sekilas Info

INVESTASI

Soal Rendahnya Minat Investasi di Maluku, Pengamat: Investor Butuh Supporting Factor

satumalukuID - Rendahnya nilai realisasi dari investasi di Maluku, dengan alasan minat investor kurang, sebagaimana disampaikan Sekretaris Daerah Maluku Kasrul Selang, yang diberitakan satumalukuID dan beberapa media, Kamis (27/2/2020), mendapat masukan dari sisi bisnis oleh pengamat ekonomi, yang juga akuntan publik Haartje Dunnand Tomatala SE Ak CA CPA M.Ak.

Kepada satumalukuID, Senin (2/3/2020), Hartje mengaku, selama menggeluti profesi sebagai akuntan publik, dia sedikit banyak tahu apa prespektif keinginan daripada investor.

"Kalau pengalaman kita investor itu jika mau investasi, dia akan perhatikan suporting factor (faktor pendukungnya). Suporting itu misalnya bicara mengenai raw material atau bahan baku, di situ terjangkau atau tidak. Kalau terjangkau, lalu soal harganya gimana? Ini misalnya, yang diantaranya menjadi faktor pertimbangan," ujar Hartje yang juga pimpinan Basilea Consultant ini.

Menurut dia, investor itu ujung-ujungnya akan bicara soal benefit atau profit. Misalnya kalau bahan bakunya tersedia dengan cost yang lebih murah daripada tempat lain, berarti itu satu point.

Point yang lain, lanjut Hartje, terkait tenaga kerjanya. Sebab investor tidak mungkin membawa orang dari daerah lain sebagai tenaga kerja, karena tentu memakan biaya yang lebih besar.

"Perhitungan employee benefitnya lebih mahal. Dia misalnya harus hitung biaya transport. Katakanlah jika home basenya di Jakarta, setiap hari raya tentu harus dibiayai pulang. Ditambah tiket pesawat yang naik turun tidak bisa diprediksi," terangnya.

Jadi orang jika dia berinvestasi di daerah, kata Hartje, costnya tentu lebih murah. Paling cuma gajinya saja. Itu artinya pertimbangan memberdayakan orang daerah tentu jauh lebih bagus.

"Pertanyaannya, orang daerah, katakanlah kita di Maluku, tingkat kesiapan kapasitasnya untuk membantu investor itu sejauh mana? Ini yang perlu diperhatikan oleh Pemda," tuturnya.

Kalau industri di Maluku lebih top perikanan, nilai Hartje, berarti orang-orang di sini memang harus punya keahlian tangkap ikan, jika industrinya pengalengan ikan.

"Lalu, walau pun mungkin belum bisa mendatangkan mesin untuk membangun industri, orang di Maluku harus disiapkan untuk bekerja di pabrik pada industri pengkalengan ikan," paparnya.

Dinas Tenaga Kerja disebut Hartje, tentu harus punya Balai Pelatihan untuk itu, dan bekerja sama dengan Univesitas Pattimura (Unpatti), atau dengan perguruan tinggi lainnya di Maluku yang mendukung dan mendorong ke penyiapan sumber daya manusia (SDM).

"Ini biar konsep mixed and match dunia usaha dengan pendidikan itu jalan dengan baik," ujar Hartje yang jadi partner di Kantor Akuntan Publik Mucharam dan Rekan ini.

Dia memberikan contoh, industri pengalengan ikan di Bitung, Sulawesi Utara, yang disebut-sebut maju. "Ternyata bisa didukung oleh orang di sana, orang Sulawesi Utara yang pekerjaannya sebagai nelayan," papar Hartje.

Jadinya nyambung, menurut Hartje, tenaga kerjanya mendukung. Alatnya di situ juga. Ikannya sudah banyak di situ juga," ungkapnya.

"Pertanyaannya, ikan banyak di Maluku, tetapi kenapa mereka tidak bikin pabrik di sini? Karena bikin pabrik bukan cuma bicara alamnya saja, tapi manusianya. Sumber daya tenaga kerjanya. Belum ditambah dengan etos-etos kerja. Bagaimana komitmen bekerja itu juga harus soal soft skillnya. Harus tekun, ulet, rajin, dan harus dilatih," bebernya.

Sebab di luar hard skill, diakui Hartje, kompetensinya harus juga terkait soft skillnya. "Orang harus sabar. Pagi-pagi harus bangun. Semuanya harus dilatih," pungkasnya.

Penulis: Tiara Salampessy
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!