Sekilas Info

REMPAH REMPAH

Dominasi Kader (a) “R” di Beringin Kuning

POLITIK secara keilmuan bermakna taktik atau cara untuk mencapai suatu tujuan. Tentunya disitu ada rule of the game, aturan main. Juga etika dalam mekanismenya.

Karena itu arena politik selalu sexi untuk dipantau, dicermati. Sebab di sana ada kompetisi, persaingan. Juga ada aroma strategi, lobi, negosiasi, kesepakatan hingga akhirnya muncul musyawarah dan mufakat. Sehingga panggungnya sangat genit untuk disorot.

Nah, bicara hingar bingar politik. Maka di Kota Ambon, ibukota provinsi seribu pulau, saat ini Senin (2/3) hingga Selasa (3/3) ada perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golongan Karya‎ (Golkar)  Provinsi Maluku. Meski bukan lagi partai penguasa di kancah politik nasional maupun di Maluku. Namun, Musda Golkar 2020 ini mendapat sorotan‎ media dan khalayak ramai.

Di sisi lain. Sebuah Musda parpol sudah pasti penuh dinamika, mekanisme, bicara program dan visi misi yang hendak dicapai. Ada target tentunya. Hanya saja karena ini adalah organisasi politik, punya fungsionaris, kader, massa dan simpatisan. Maka, yang paling ditunggu adalah sesi pemilihan pengurus.

Di agenda pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Maluku inilah puncak dari dinamika organisasi politik.  Siapa yang akan memimpin bahtera Beringin Kuning lima tahun ke depan pasca kepemimpinan Said Assagaff ? Dengan catatan Assagaff tidak bersedia maju kembali pimpin DPD.

Ada beberapa nama kader baik senior maupun muda yang akan memperebutkan "kadera" alias kursi Ketua DPD Partai Golkar Maluku kali ini. Nama-nama figur calon ketua sudah dikenal publik karena kiprah mereka sebagai kepala daerah maupun legislator di rumah rakyat selama beberapa periode.

Tetapi ada yang unik dari tiga calon Ketua DPD Golkar Maluku. Apa itu? Pasalnya, huruf depan nama ketiganya sama yakni R yaitu Ramly Umasugi (RU) kini masih menjabat Bupati Buru. Lalu Richard Louhenapessy (RL) politisi senior yang kini jadi Walikota Ambon untuk periode kedua. Serta satunya Richard Rahakbauw (RR) yang masih menjabat Wakil Ketua DPRD Maluku. Bahkan ada satu lagi figur potensial yaitu Ridwan Marasabessy (RM).

Tak sampai disitu saja dominasi kader berinisial R di Beringin Kuning. Sebab, Sekretaris DPD Partai Golkar saat ini dijabat oleh Roland Tahapary (RT). ‎Sebelum itu, pernah pula "kadera" Sekretaris DPD dijabat oleh almarhum Rahman Holle (RH).

Sementara itu, di medio 1980 an saat demokrasi dan politik nasional belum masuk era reformasi, komandan Golkar di Maluku yang cukup lama mengendalikan partai penguasa Orde Baru adalah Ruswan Latuconsina‎ yakni sebagai Ketua DPD maupun DPRD Maluku.

Kini kompetisi sudah dimulai. Para kader berinisial R pasang taktik, jurus dan lobi  untuk merebut "kadera" ketua. Tentunya ‎Musda harus berjalan pada alur aturan main, rule of the game. Juga jangan abaikan fair play dalam dinamika. Ambisi tentunya ada, asalkan jangan membabi buta. Karena demokrasi dan politik punya etika.Tidak asal siapa kalah, siapa menang saja.

Pasalnya, Musda Golkar ini, juga sangat strategis untuk memilih calon-calon pemimpin daerah ini ke depan. Apalagi pemilu serentak akan berlangsung pada 2024, saat posisi jabatan Gubernur Maluku yang dijabat Murad Ismail berakhir di periode pertama. Murad sendiri adalah Ketua DPD PDI Perjuangan.

Harapan kita sebagai rakyat non partisan. Semoga Musda Partai Golkar kali ini, bukan saja fokus pada perebutan "kadera" kekuasaan yang menghabiskan banyak energi, konsentrasi dan finansial. Namun harus menghasilkan berbagai program-program pembangunan daerah dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, sehingga bukan elit atau politisi saja yang sejahtera, tetapi rakyat pemilik kedaulatan pun merasa diberdayakan.

Siapa pun yang menjadi ketua nantinya. Ingatlah provinsi tercinta ini masih berada di level bawah kemiskinan. Selamat berMusda. (*).

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!