Sekilas Info

PELATIHAN SIAGA BENCANA

BPBD Kota Ambon Gelar Pelatihan Siaga Bencana, Sekot: Bisakah Terulang Masa Lalu Berenang di Sungai

FOTO: Ian Toisutta Sekretaris Kota (Sekot) Ambon A.G. Latuheru, membaca sambutan Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, saat membuka Pelatihan Manajemen Kelompok Masyarakat Siaga Bencana, di Manise Hotel, Kota Ambon, Rabu (26/2/2020).

satumalukuID- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, menggelar kegiatan Pelatihan Manajemen Kelompok Masyarakat Siaga Bencana, program Flood Management in Selected River Basin (FMSRB) tahun 2020.

Kegiatan yang diikuti oleh sebanyak 40 peserta dari 7 Kelompok Masyarakat Siaga Bencana (KMSB) di Kota Ambon ini berlangsung sejak hari ini Rabu (26/2/2020) hingga Jumat (28/2/2020) di Manise Hotel, Jalan W.R. Supratman, Kota Ambon.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy dalam sambutan pembuka kegiatan yang dibacakan Sekretaris Kota (Sekot) Ambon A.G. Latuheru, menjelaskan, pelatihan siaga bencana, merupakan bentuk dukungan terhadap pemerintah dan masyarakat. Sehingga mitigasi bencana banjir menjadi lebih baik.

Pelatihan tersebut juga diharapkan melahirkan perubahan paradigma, yang berorientasi pada proyek pengendalian banjir, dari yang meliputi cara-cara struktural, ke orientasi proses pengelolaan banjir terintegrasi.

Selain itu, juga dapat menyediakan satu perpaduan yang sesuai antara intervensi non struktural, pelimpahan kapasitas dan kelembagaan, serta bagian kontruksi untuk mitigasi dampak negatif banjir dan longsor.

Hal tersebut, lanjut dia, diharapkan mampu membuat penduduk yang hidup di daerah bantaran banjir atau bantaran sungai bisa tenang.

Disamping itu, manfaat utamanya adalah dengan menempatkan masyarakat dan kelembagaan sebagai aset atau mitra dalam proses pembangunan, memberikan kontrol, keputusan maupun sumber daya melalui kelompok masyarakat.

Manfaat lainnta yaitu agar masyarakat diberdayakan melalui kemitraan dengan berbagai unsur pemangku kepentingan. Diantaranya pemerintah pusat, pemerintah setempat, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, praktisi, perusahaan swasta dan lembaga penyandang dana.

"Jadi yang disebut dengan struktural itu kalau banjir masuk rumah dan angkat barang saja. Setelah air surut bersihkan lagi. Tiap tahun kemungkinan besar akan terus begitu," kata Latuheru.

Dia berharap, program FMSRB yang dilaksanakan hari ini mampu merubah paradigma dari bencana banjir struktural. Yaitu dengan melahirkan pertanyaan, mengapa di daerah tersebut sering dilanda banjir.

"(Banjir terjadi karena) mungkin sungainya dangkal, karena memang sungai itu ada endapan tertentu, atau sungai dulunya lebar sekarang menyempit," jelasnya.

Latuheru mengisahkan sejumlah sungai di Kota Ambon, dulunya menjadi tempat destinasi lokal. Sungai menjadi tempat pemandian yang menyenangkan di tahun 70-an hingga akhir 80-an.

"Bisakah masa lalu terulang kembali. Orang bisa berenang kembali. Dulu kita biasa buang badan atau barengen (menggantung) di pohon baru buang badan ke bawah (sungai)," ingatnya.

Masa sekarang, tambah dia, tidak seperti dulu. Di mana, masyarakat bisa melompat dari ketinggian atau melalui pohon-pohon yang hidup di bantaran sungai.

"Sekarang kalau mau lompat, berarti nanti cari dia di rumah sakit," candanya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!