Sekilas Info

OPINI

Bahagia di Rabu Abu

Foto: Faidah Azuz Sialana

Bagi orang Muslim, istilah Rabu Abu tidak banyak dikenal. Kita dapat memakluminya karena Rabu Abu adalah ritual penting dan hening dalam agama Katolik dan kami Muslim jarang mengetahuinya.

Saya baru mengetahui Misa Rabu Abu ketika tinggal serumah dengan seorang pemeluk agama Katolik yang taat. Darinya saya banyak belajar tentang ihwal ibadah dalam agama Katolik. Misa Rabu Abu adalah penanda awal umat Katolik melakukan pantang puasa selama empat puluh hari menjelang peristiwa penyaliban Jesus.

Saya masih teringat satu sore menjelang maghrib, saya menemani Ma Nona ke Gereja Pugeran Yogyakarta untuk menghadiri Misa Rabu Abu. Tentu saya hanya mengantar sampai di halaman. Sebelum meninggalkan saya di mobil Ma Nona menjelaskan sekilas Misa ini. "Nanti kalau saya keluar dari Gereja, di dahi saya ada tanda salib dari abu".

Saya mengingat-ingat penjelasan sekilas ini. Ketika para jemaat keluar, mata saya tertuju pada dahi mereka. Ah.. semua ada tanda salib di dahi. Ah.. inilah tanda yang diceritakan tadi. Satu lagi pengalaman tentang keberagaman saya pungut.

Ihwal Gereja Pugeran Yogjakarta, saya punya mengalaman unik. Satu saat saya kedatangan tamu dari Makassar. Dia beragama Katolik. Dia akan menginap di rumah kontrakan saya pada hari sabtu sampai minggu.

Sebagai tuan rumah saya harus memastikan bahwa tamu saya dapat menjalankan ibadah hari minggu dengan leluasa. Oleh karena itu saya mencari tau lokasi Gereja Katolik terdekat dengan rumah saya.

Juga saya mencatat jadwal misa Sabtu dan Minggu. Hal ini saya lakukan agar tamu saya memiliki informasi yang cukup tentang Gereja dan waktu misa. Gereja Pugeran Yogyakarta menjadi alamat yang saya catat baik-baik untuk tamu saya.

Lalu kemarin sehari sebelum Rabu Abu, saya harus menjalankan tugas kampus. Saya keluar dari ruangan, mendapati banyak mahasiswa yang antri menemui saya. Saya menanyakan siapa yang beragama Katolik. Saya mendatangi mereka, menjabat tangannya sembari mengingatkan untuk esok ikut Misa Rabu Abu.

Kemarin menjelang pulang kantor, seorang mahasiswa membutuhkan tandatangan saya. Saya menanyakan agamanya. Kemudian saya tanyakan apakah tiap minggu dia ke Gereja? Dia menggeleng. "Jarang ibu", lirihnya. " Esok pigi Misa Rabu Abu, foto diri di Gereja yang ada tanda salib di dahi. Hari ini saya tidak mau tandatangan. Esok kembali ke sini baru saya tandatangan". Pembicaraan selesai.

Tadi menjelang pulang, seorang lelaki berdiri di depan pintu ruangan saya. Dia memegang map. Saya menyilakannya duduk. Dia membuka HP, lalu mata kami bersitatap. Ada senyum manis tipikal lelaki timur yang saya kenali.

Dia menyodorkan HP yang telah terbuka. Saya meminta dikirim via WA. Saya mengambil mapnya, menandatangani yang perlu. Lalu Saya membuka HP. Melihat kiriman foto. Ada mahasiswa saya berdiri dengan tanda salib di dahi.

Saya menjabati tangannya... mengatakan permohonan maaf karena kemarin tak mau membubuhkan tandatangan hingga dia memperlihatkan fotonya. Lirih kata terima kasih menyambar telinga saya. Ah.. Saya sangat bahagia.

Saya memotret siang yang cerah dari lantai 8 Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar. Saya hendak mengirimkan pesan pada semesta bahwa saya bahagia hari ini..

Makassar, 26 Februari 2020

Penulis: Faidah Azuz Sialana. Sosiolog, alumnus Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon. Saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Bosowa Makassar.

Baca Juga

error: Content is protected !!