Sekilas Info

KISAH INSPIRATIF

Patresya Tasya Matruty, Pendeta Pengelola Kelas Inspiratif

Pada tahun 2016, ia menjalani pengutusan sebagai Pendeta GPM dan melayani di Jemaat GPM Hai, Klasis Sula-Taliabu, Maluku Utara. Dari segi populasi, jemaat ini tergolong jemaat kecil. Terdapat 26 Kepala Keluarga, dan 104 jiwa.

Pendeta Patresya Tasya Matruty, adalah Ketua Majelis Jemaat pertama di situ, dan sudah melayani hampir 4 (empat) tahun di sana. Ia mengakui bahwa tantangan serius adalah kemampuan membaca dan menulis warga Jemaat. Itu memberi kesan bahwa pembangunan bidang pendidikan belum menjamah daerah pelosok secara merata. Selain tantangan geografis, namun lebih penting sebenarnya adalah "daya tahan" guru di wilayah pedalaman/pelosok.

Namun Tasya memilih untuk menjalankan tugas gerejawi dalam dimensinya yang luas atau bahkan dimensi sesungguhnya yakni memanusiakan manusia dengan membangun budaya membaca dan menulis kepada semua kelompok usia di Hai, Jemaatnya itu.

Ia membuka Kelas Inspiratif. Apa bentuk aktifitasnya? Belajar membaca dan menulis. Sudah tentu diawali dengan memperkenalkan huruf ESDM phabet) sebagai pembelajaran dasar membaca dan menulis, mengeja huruf dan kata, kemudian belajar menuliskan huruf-huruf tersebut, belajar menulis kata, selanjutnya membaca ~dari apa yang mereka tuliskan.

Peserta Kelas Inspiratif itu pada awalnya adalah orang dewasa. Namun animo mereka kemudian menurun karena kesibukan kerja untuk kebutuhan ekonomi keluarga. Pendeta Tasya tidak kehabisan akal. Ia lalu mengalihkan nara belajarnya kepada anak-anak dan rupanya mendapat respons yang sangat baik. Anak-anak ini diajarkan dengan model yang sama, dan hasilnya sangat luar biasa. Mereka bisa, secara cepat, membaca dan menulis.

Untuk memasyarakatkan aktifitas membaca dan menulis, Tasya secara berani menjadikan anak-anak itu sebagai Tutor Cilik. Tugas mereka adalah mengajari orang tua mereka di rumah untuk membaca dan menulis. Dari Tutor Cilik inilah kemudian para orang tua bisa membaca dan menulis, sehingga Kelas Inspiratif itu kembali berkembang. Bila ditanyakan hasilnya, saat ini beberapa pengasuh Sekolah Minggu dan Tunas Pekabaran Injil serta anggota Majelis Jemaat adalah buah dari Kelas Inspiratif tersebut.

Langkah ini ditempuh sebagai cara mengembangkan kualitas pendidikan anak-anak dan masyarakat di sana. Di Hai ada Sekolah Dasar yang diampu oleh 4 (empat) tenaga guru. Dua orang guru PNS, termasuk Kepala Sekolah yang berdomisili di Desa Gela, ditambah 1 tenaga honor dan Pendeta sebagai salah satu tenaga "guru" di situ. Di sekolah tersebut terdapat 23 orang siswa yang adalah anak-anak Hai.

Tantangan Meningkatkan Kualitas SDM

Pada tahun 2020 ini, GPM bergumul untuk meningkatkan kualitas SDM dan SDA. Dalam upaya meningkatkan kualitas SDM, angka Melek Huruf merupakan salah satu indikator dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hal mana harus berjalan lurus dengan peningkatan pelayanan pendidikan di wilayah kepulauan Maluku dan Maluku Utara.

Dari angka IPM Maluku Utara, sesuai Berita Resmi Statistik dari BPS No. 28/05/82/Th.XVIII, 6 Mei 2019, IPM Maluku Utara mencapai 67.76 dan IPM Kabupaten Pulau Taliabu, 59.67. Setidaknya angka melek huruf di Hai turut menyumbang bagi realitas IPM tersebut, dan Pendeta Tasya sedang berusaha meningkatkan angka melek huruf di sana.

Usaha atau inovasi pelayanan gereja yang dilakukannya ini sebenarnya hanya salah satu dan bukan jawaban sesungguhnya pada wilayah-wilayah di mana pendidikan masih seret dan ketersediaan tenaga guru yang terbatas atau yang memiliki daya juang lemah untuk bertahan di pelosok.

Setidaknya apa yang dikerjakan Pendeta Tasya merupakan usaha untuk menyatakan kehadiran gereja dalam memanusiakan manusia melalui upaya pencerdasan warga secara intelektual.

Selamat melayani dan teruslah menginspirasi dunia, Tasya Matruty

Baca Juga

error: Content is protected !!