Sekilas Info

OPINI

Nala HUHU te’ HAHA (Sampai HUHU tidak HAHA)

Fuad Mahfud Azus Ilustrasi walang durian.

Sore itu, saya ngobrol bersama Bapak Haji Dusa Sasole di walang durian miliknya di Tomol. Walang itu sekitar 75 meter dari Tahusakamal, mengarah ke arah Barat Daya. Bapak H. Dusa adalah tetua adat di Negeri Morella (Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah), yang melaluinya sebuah prosesi adat di Morella berjalan. Di walang itu juga ada Kaka Siti, istrinya yang selalu menemani ke kebun.

Sudah tiga pekan Bapak Haji Dusa lebih banyak menghabiskan waktu di walang dibanding tinggal di Morella. Biasa… ini waktu durian jatuh. Berarti ini waktu memungut rupiah yang dilepas dari ketinggian pohon durian.

Sambil menunggu angin menggoyang pohon durian untuk jatuhkan buahnya, kami bertiga ngobrol asik. Topik pembicaraan melompat-lompat. Mulai perkiraan musim durian yang masih lebih panjang, tentang kondisi negeri-negeri di Jazirah Leihitu hingga membahas soal duda kawin lagi.

“At ee…. itu kalau ada laki-laki yang dia pung bini maninggal, dia manangis, tapi manangis deng tutu mata pake tangan bagini. Dia mulai ser-ser yang mana lai yang dia minta.” (Fuad.. kalau ada seorang laki-laki yang meninggal istrinya, lalu menangis sambil begini tangannya, dia sebenarnya sedang melirik, siapa lagi yang bisa dinikahi sesudah istrinya meninggal). Bapak Haji Dusa memperagakan orang menangis sambil merenggangkan jari-jarinya seakan mengintip siapa hadirin yang hadir.

Bagitu suda At ee. Kalo dia seng bisa ser parampuang dalam 40 hari, orang kampong bilang nala HUHU te’ HAHA.” (Seperti itu karakter laki-laki. Bila dia terlalu larut dalam kesedihan, dalam 40 hari tidak juga mendekati perempuan lain, maka ada pepatah di Negeri Morella Nala HUHU te’ HAHA).

Wah, ada dua hal penting di sini.
Pertama angka 40 hari. Yang kedua, penjelasan pepatah tersebut.

Ia kemudian menjelaskan angka 40. Rupanya yang dimaksud adalah duda yang ditinggal itu, harus move on secepatnya. Tidak boleh berlama-lama dalam kesedihan. 40 adalah simbol waktu yang cukup singkat.

Yang kedua, pengertian pepatah dengan kemiripan pada pengulangan kata, itu berseni dan bermakna.

Nala = sampe.
HUHU artinya kayu lapuk yang dimakan sejenis binatang pengerat. Dari lubang-lubang kecil keluar bubuk halus.
HAHA = menggendong atau di atas.

Bila diartikan harfiyah, “Sampai kayu lapuk dan berbubuk, tidak akan pernah menggendong.”

Saya jadi penasaran dan berusaha menggali maknanya lebih jauh. Sayangnya, Ia hanya menjelaskan dari sisi “duda” karena meninggal sang istri.

Ketika cerita kami berlanjut pada contoh beberapa orang yang segera menikah sesudah kematian istrinya, dan beberapa lain yang tidak menikah lagi, saya memahami jalan pikirannya. Bapak Haji Dusa sedang mengantar saya pada cara pandang yang menekankan upaya sebelum menjadi HUHU. Ini cara berpikir positif. BANGKIT dari kondisi yang tidak diinginkan. Keluar dari masalah.

***

Sepanjang perjalanan pulang ke Durian Patah, saya terus pikirkan. Pepatah ini bisa dimaknai secara luas. Tentu orang tatua punya banyak pilihan makna. Toh kita boleh mencari makna lain, sepanjang sejalan dengan pengertian dasarnya.

Sampe HUHU tar HAHA, ini frasa yang tegas menunjuk akibat. “bila tidak …. maka …..”. tekanannya jelas pada “bangkit”, pada pergerakan. Untuk mencapai keberhasilan, maka dibutuhkan kerja keras dan sungguh-sungguh, karena bila tidak, maka akan sia-sia dan hanya menghasilkan huhu (bubuk yg tidak berguna), dan tidak akan pernah Haha, menggendong.

Kesempatan tidak selalu hadir. Namun kesempatan bisa diciptakan. Dengan memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada, maka tidak akan menjadi huhu.

Haha adalah target/capaian yang terukur, yang selalu jadi patokan. Maka kejarlah Haha.

Tak terasa saya sudah di pertigaan Durian Patah, sebentar lagi tiba di rumah kami. Saya belum tuntas memikirkan pepatah di atas.

***

Besok malamnya, saya menghubungi Ileng Leikawa. Saya sering pastikan penulisan bahasa Morella di Ileng. Ia adalah salah satu pemuda negeri yang rajin mencari informasi tentang kearifan lokal. Salah satu prestasinya adalah menyusun kamus bahasa Morella. Sesuatu yang akan sangat bermanfaat bagi generasi sekarang dan akan datang.

“Iya Om. Pepatah itu su jarang katong dengar akang, orang tua dolo-dolo bole. Dong suka maeng pepatah deng teki-teki.” Ileng membenarkan pepatah itu seraya memberikan pemaknaan tambahan. “Maknanya juga bisa secara umum.”

Saya sepakat, pepatah itu multi makna. Dan makna yang ingin saya kembangkan adalah “BANGKIT”.

Bukankah ini juga boleh dimaknai “bila sesuatu urusan selesai, maka secepatnya mengurus yang lain, supaya tidak menjadi Huhu.

Yah… saya teringat Ayat 7 Surah Al Insyirah. “Faidza Faragta Fanshab”. Artinya, Apabila kamu telah selesai (dari satu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Terimakasih Bapak Haji Dusa. Hari ini bertambah lagi satu perbendaharaan pepatah dari negeri Kapahaha.

- Hunuth Durian Patah, 24 Februari 2020

Penulis: Fuad Mahfud Azuz, guru mengaji, tinggal di Hunuth Durian Patah, Kota Ambon. 

Baca Juga

error: Content is protected !!