Sekilas Info

REMPAH REMPAH

Masa Depan Surat Kabar (di Maluku), Perubahan dan Idealisme

Dunia ini pantherich, terus mengalir, berubah tanpa henti. Begitu kata Filsuf Yunani, Heracletius (500 SM).

Perubahan membuat kita melewati saat-saat yang berat, melompati gelombang, diskontuinitas yang mengakibatkan banyak hal yang dulu kita agung-agungkan, kini menjadi beban, menjadi usang, dan mulai ditinggalkan. Kata orang “sudah tidak zaman lagi”.

Perubahan yang begitu drastis terjadi hampir di semua sektor kehidupan. Banyak industri mengalami disruptive.

Dulu, diagung-agungkan sebagai industri masa depan, dalam sekejap, kini masuk kategori sunset business. Ibarat matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat, dan sayangnya belum tentu muncul lagi di ufuk timur.

Para pekerja surat kabar, apakah itu jurnalis, sales (account executive), tenaga sirkulasi, maupun tenaga administrasi saat ini sedang was-was. Perkembangan dunia digital, membuat industri surat kabar megap-megap. Kini saatnya, tinggal menghitung hari kapan tidak terbit lagi dan operasional perusahan dihentikan.

Sejumlah raksasa surat kabar di Jakarta, dalam beberapa tahun terakhir sudah menutup kantor-kantor biro di berbagai daerah. Seiring turunnya revenue perusahaan dan tingginya operational cost, proses cetak jarak jauh tak lagi dilakukan. Karyawan yang berstatus kontrak tidak lagi diperpanjang masa kerjanya. Tawaran pensiun dini, mulai mengemuka.

Sejumlah surat kabar yang pernah terbit di Jakarta sudah mengumumkan berhenti berhenti beroperasi. Nama-nama mereka kini hanya jadi kenangan.

Memang harapan selalu ada. Industri surat kabar berharap tibanya momentum recovery. Tetapi realitas tak bisa dipungkiri. Pengaruh digitalisasi sangat kuat merasuki masyarakat. Bahkan sudah menjadi lifestyle atau gaya hidup.

Dulu, beberapa tahun berselang, di Jakarta, kita masih melihat pada sejumlah angkutan umum, seperti commuter line dan bus transjakarta, sejumlah penumpang terlihat asyik membaca surat kabar.

Sekarang, pemandangan seperti itu sudah langka, nyaris tak ada. Karena semua sudah mereka dapatkan lewat smartphone. Dengan sekali sentuhan jari, berita apapun yang mereka inginkan langsung bisa terbaca.

Seberapa eksklusifitas berita di surat kabar, kini hal itu bukan lagi merupakan daya tarik. Apalagi, sirkulasi surat kabar kian terbatas.

Para agen dan loper koran saat ini lebih memilih pekerjaan lain. Margin dari hasil penjualan koran, sudah tidak menarik lagi dibanding honor yang mereka dapatkan lewat mengojek atau melakukan pekerjaan lain.

Belum lagi soal iklan yang menjadi nafas hidup perusahan surat kabar. Banyak pemasang iklan yang sudah beralih karena sulitnya memastikan jumlah audience yang benar-benar diterpa iklan atau audience impression  di halaman media cetak.

Intinya, media surat kabar tidak lagi menjadi pilihan utama untuk brand image, baik untuk kepentingan komersial maupun politik.

Para pekerja surat kabar sadar akan situasi tersebut. Makanya, ketika kebijakan kontrak kerja tidak diperpanjang dan tawaran pensiun dini diberikan, mereka mengambil kesempatan itu.

Bagaimana dengan nasib surat-surat kabar di Maluku? Tak akan berbeda jauh dengan apa yang dialami perusahaan surat kabar di Jakarta. Cepat atau lambat, pasti akan tiba saatnya, manajemen mengumumkan perusahannya berhenti berproduksi.

Kalaupun masih bernapas sedikit panjang, itu lebih kepada idealisme dan nostalgia masa lalu. Sudah bisa dipastikan, dengan tetap menekui bisnis surat kabar, mereka hanya mencoba hidup dari remah-remahan budget yang diperoleh karena kedekatan personal, bukan pure bisnis.

Konsekuensinya, kesejahteraan karyawan sangat pas-pasan. Bahkan mungkin di bawah upah minimum kota atau provinsi.

Kalau dulu, bisa bangga masuk dalam group surat kabar besar, sekarang tak berlaku lagi. Kebanggan group kini bersifat semu di mata karyawan karena memang tidak memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan. Boro-boro memikirkan anak perusahaan, perusahaan induknya sendiri terpapar ke arah bangkrut.

Lantas bagaimana supaya bisa bertahan? Tak ada cara lain selain shifting ke platform yang lebih menjual. Sekarang ini, surat-surat kabar besar di Jakarta melakukan konvergensi platform, cetak, online dan digital. Bisa diprediksi nantinya mereka akan totally main di bisnis digital.

Hasilnya, secara bisnis, butuh waktu untuk dikatakan berhasil. Tapi setidaknya, cara tersebut masih bisa menyelamatkan perusahan-perusahan surat kabar saat ini.

Jadi, harus diakui, idealisme terkadang memang dibutuhkan. Tetapi bagaimana beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, itu jauh lebih penting agar bisa survive.

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!