Sekilas Info

OPINI

Quo Vadis Musik di Maluku?

Musik: Bahasa Ekspresi

Musik saat ini sudah menjadi bahasa sehari-hari dalam kehidupan manusia. Apa yang dirasakan oleh manusia kebanyakan diungkapkan lewat alunan lagu dan rangkaian syair yang menggerakan emosi manusia.

Musik menjadi teman setia manusia dalam kondisi apa pun, karena mampu mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dalam bahasa lisan atau pun tulisan. Musik menjadi pedoman karena kekuatan syair berisi pesan, isyarat tertentu bahkan juga bisa berisi perintah yang dapat mempengaruhi tingkah laku pendengarnya.

Immanuel Kant (1724-1804) mendefenisikan musik sebagai bahasa ekspresi manusia yang masih harus diterjemahkan, emosi saja tidak cukup untuk menerangkan musik. Oleh sebab itu diberlakukan kaidah-kaidah logis untuk mendasari kesenian.

Ada perbedaan yang jelas antara keindahan alam dan estetika/keindahan, seni musik dikatakan indah bila memiliki bentuk saling mempengaruhi nan harmonis antara imajinasi dan pengertian. Seni yang indah adalah seni dari seorang jenius, seni dari ahli pikir.

Musik dan Masyarakat
Musik bukanlah sesuatu yang statis, karena ia mengalami perkembangan yang beriringan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Dimensi kosmologis adalah estetika musik yang mendominasi zaman Yunani Kuno. Pada masa ini, musik lebih banyak menjadi kebutuhan dalam upacara keagamaan.

Hal mana berbeda pada abad pertengahan, bahwa musik mengalami pergeseran kepentingan. Tidak hanya untuk kepentingan keagamaan, tetapi musik juga sudah menjadi kebutuhan duniawi sebagai sarana hiburan.

Sejak ditemukannya piano dan organ setelah abad pertengahan (zaman Renaisance), musik mengalami perkembangannya untuk nyanyian percintaan, nyanyian keperwiraan sehingga muncullah musik instrumental yang disusul dengan berkembangnya seni opera.

Di zaman klasik dan romantik sekitar tahun 1750 – 1900, musik bukan hanya dipergunakan untuk mencapai puncak keindahan nada-nada, tetapi juga untuk mengungkapkan perasaan. Oleh karena itu selain digunakan keras lembut dalam musik, juga dinamika dan tempo dipergunakan dalam menghasilkan karya.

Kemajuan ilmu dan teknologi di zaman modern (1900 – sekarang) seakan-akan menghilangkan kaidah bermusik, karena orang ingin mengungkapkan sesuatu dengan bebas.

Musik Maluku
Budaya individu atau etnis berperan dalam pengetahuan bermusik, termasuk reaksi emosional dan memori yang ada dalam diri pemusik. Kecenderungan musik yang condong ke tradisi musik yang akrab dengan budayanya merupakan daya imajinasi dan kreativitas seni yang tinggi, sehingga pemusik bisa memberikan makna dan nuansa yang khas.

Aholiab Watloly mengungkapkan bahwa salah satu filosofi manusia Maluku adalah manusia Maluku yang musikalis. Dalam kajiannya, Watloly memaparkan bahwa kehidupan anak negeri Maluku itu menyatu dengan dinamika alamnya yang ternyata membentuk sebuah karakter seni irama sebagai manusia musikalis.

Musik Maluku, dalam kajian Watloly, bukan saja sekedar imajinasi seni tetapi lebih mengungkapkan kebatinan alami yang kaya dan menyatu kuat dengan gunung tanah, sejarah kekerabatan dan kampung halamannya. Hal itu berarti manusia Maluku yang bermusik sesungguhnya sedang menuturkan realitas alam yang kaya, seni kekerabatan, pandangan sejarah, kepahlawanan leluhur serta rasa cinta yang mendalam sebagai sebuah melodi yang mewarnai kehidupan. Oleh karena itu, ciri musikalis ini adalah pemberian alam sebagai jati diri dan identitas kemanusiaan di Maluku, yang mampu membimbing manusia Maluku mengarungi lautan masa depan yang harus terus menjadi budaya manusia Maluku.

Totobuang, Hawaian, Hadrat, Suling Bambu, adalah contoh dari musik instrumental Maluku menggambarkan kekayaan alam Maluku yang sangat luar biasa. Lagu Gandong, Pela, Sio Mama, Oh Maluku dan sebagainya adalah lagu-lagu yang lahir dari jiwa anak negeri Maluku dan menggambarkan hubungan persaudaraan. Musik instrumental dan vokal di atas tetap melegenda dan menjiwai hidup orang Maluku.

Musik Maluku Masa Kini: Ancaman Eksistensi?
Penelitian-penelitian etnografi yang berkaitan dengan musik menunjukkan bahwa musik adalah kegiatan partisipatif yang berbasis masyarakat dalam berbagai kehidupan sosial, baik secara individu itu sendiri maupun komunitas.

Namun tak bisa dipungkiri jika teknologi telah memiliki pengaruh pada musik, seperti memungkinkan instrumen baru dan sistem reproduksi notasi musik yang akan digunakan. Hal seperti ini yang kemudian melahirkan industri rekaman agar musik dapat dinikmati oleh khalayak ramai, baik yang sifatnya audio maupun audio visual.

Merebaknya perkembangan teknologi media digital dan media sosial sebagai sarana penyebaran musik turut serta memberikan pengaruh bagi sebagian pencipta lagu di Maluku untuk menghasilkan karya mereka dengan mengikuti perkembangan saat ini.

Perlahan-perlahan kultur Maluku, yang menjadi ciri khas orang Maluku dalam karya musiknya mulai ditinggalkan, hanya untuk memenuhi hasrat industri digital masa kini. Orientasi sebagian pencipta lagu di Maluku terkesan agar lagu mereka viral sesuai selera pasar yang lebih banyak didominasi oleh kaum milenial sebagai pengguna terbesar aplikasi Tik Tok.

Memang tidak ada yang salah dengan hal tersebut, tetapi lagu-lagu yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan industri digital syairnya justru tidak mencerminkan jati diri sebagai orang Maluku. Terkesan hanya ingin mengikuti trend sehingga mengabaikan pesan-pesan moral dalam bingkai jati diri orang Maluku yang harus terus disampaikan bagi generasi masa kini.

Tidak bisa terelakan lagi, generasi masa kini telah berada dalam situasi krisis identitas sebagai manusia Maluku. Krisis ini telah membawa ancaman terhadap eksistensi (jati diri) yang riil dalam kehidupan manusia Maluku. Akibatnya mereka telah mencetak watak keangkuhan yang cenderung memperbudak keutuhan jati diri demi kenikmatan material dan ketenaran sesaat.

Manusia Maluku tidak anti terhadap peradaban dan segala perkembangannya, tetapi dibutuhkan filter yang kuat untuk menahan diri dari gempuran budaya asing yang bisa melemahkan nilai kemalukuaannya. Teknologi digital justru menjadi peluang besar untuk menampakkan identitas sebagai orang Maluku yang kaya akan alam dan budayanya, mencintai kedamaian dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan.(ilustrasi foto oleh Agus Lopuhaa )

Penulis: Agus Lopuhaa, dosen di Politeknik Negeri Ambon. 

Baca Juga

error: Content is protected !!