Sekilas Info

REMPAH REMPAH

Suara Maluku: Stensilan, Mingguan, Harian dan Seleksi Alam

BILA menyebut nama "Suara Maluku". Orang Maluku khususnya Ternate dan Ambon, meski tidak semuanya,  langsung tahu itu nama sebuah koran atau media cetak yang lahir sejak masa pasca kemerdekaan republik ini.

Seperti ditulis Eriyanto dalam artikelnya  "Koran, Bisnis dan Perang". Awalnya Suara Maluku hanyalah koran stensilan di tahun 1953 di Ternate, Maluku Utara.  Surat kabar ini dirintis oleh dua tokoh Partai Nasional Indonesia di Maluku, E.U. Pupella, dan Ot Pattimaipu. Terbitnya tidak rutin dan pada 1959 gulung tikar.

Lantas hadir sosok Haji Nani Andili di Ternate, ia saat itu pegawai Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Maluku (era itu masih salah satu kabupaten di Provinsi Maluku namun kini sudah jadi Provinsi Maluku Utara), berusaha menghidupkan kembali Suara Maluku hingga terbit lagi pada 1963, masih berbentuk stensilan tetapi sudah delapan halaman, terbit seminggu sekali. Meskipun jadwal terbitnya asal-asalan dan isinya pun tak jauh dari pekerjaan Andili; kegiatan pemerintah daerah, penyuluhan, dan semacamnya.

Waktu  itu, di Ambon terdapat media yang mirip dengan yang diterbitkan Andili di Ternate, namanya Sinar Harapan edisi Maluku, juga berbentuk stensilan delapan halaman, kadang empat halaman. Pendiri dan pengelolanya Etty Manduapessy. Andili dan Manduapessy sering bertukar terbitan. Pada 1986, mereka sepakat membangun koran lokal di Maluku.

Manduapessy menyarankan Andili, “bila ingin Suara Maluku maju harus diterbitkan di Ambon sebagai pusat pemerintahan Maluku. Minat baca masyarakat lebih tinggi ketimbang Ternate, walau banyak orang bilang Ternate lebih kaya”. Andili pun sepakat. Maka pada 1987, Suara Maluku edisi baru terbit di Ambon. Andili sudah pensiun hingga bisa ke Ambon, berkonsentrasi mengembangkan korannya.

Koran ini tak lagi stensilan, telah dicetak di sebuah percetakan di Manado. Andili dan Manduapessy menyadari, untuk membangun sebuah media, mereka membutuhkan modal, paling tidak mesin cetak. Mereka bertemu Alwi Hamu, direktur Harian Fajar, terbitan Makassar pada awal 1990. Alwi sering ke Ambon mengurusi bisnis percetakannya, PT Bakti Baru,

Gayung bersambut. Alwi mempertemukan Andili dan Manduapessy dengan Dahlan Iskan, bos Kelompok Jawa Pos. Mereka ingin meniru sukses Fajar, yang berkembang pesat setelah bergabung dengan kelompok ini. Fajar bahkan dapat mengalahkan harian tua, Pedoman Rakyat di Makassar.

“Saya mau bekerjasama dengan Suara Maluku asal Pak Etty bisa mendapatkan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) untuk Suara Maluku,” kata Dahlan, seperti ditirukan Manduapessy. Pasalnya, di era rezim Orde Baru, SIUPP sangat sulit dikeluarkan Departemen Penerangan saat itu. Sebab, media massa masih dikontrol pemerintahan Soeharto. Apalagi di Ambon sudah ada koran harian yaitu Pos Maluku, grup nya kelompok media Kompas. Nah, Dahlan Iskan tahu bahwa Manduapessy berteman baik dengan Harmoko, yang waktu itu menjabat Ketua PWI Pusat dan kemudian diangkat menjadi Menteri Penerangan.

Menunggu SIUPP, Suara Maluku terbit mingguan. Proses tata letak dan cetak dikerjakan di Fajar. Hari Sabtu, mingguan itu dikirimkan ke Ambon. Pada Agustus 1992, SIUPP turun. Nani Andili ditetapkan sebagai pemimpin umum, Etty Manduapessy sebagai pemimpin redaksi. Kelompok Jawa Pos memberi enam unit komputer, uang tunai 40 juta rupiah, dan mesin cetak merek Harris, bekas mesin majalah Tempo, yang dapat mencetak hitam putih, dan dalam satu jam memproduksi puluhan ribu eksemplar koran.

Singkat cerita. redaksi harian Suara Maluku siap pada 17 Februari 1993 dan akhirnya terbit perdana pada 19 Februari 1993 dibawah bendera  PT Suara Maluku Intim Press, menggantikan penerbit sebelumnya Yayasan Penerbit Suara Maluku. Setelah masuk menjadi koran Jawa Pos Grup, markasnya berada di salah satu ruko terminal Mardika dan percetakannya di kawasan Halong depan lokasi dermaga Ferry. Selama itu, Pelaksana Harian managemen dipercayakan kepada Elly Sutrahitu yang kini sudah almarhum.

Koran ini selanjutnya berkembang pesat, perjalanannya yang dinamis sering pula diwarnai perbedaan pandangan hingga conflict of interest, baik mengenai manajemen, antara staf manajemen dan wartawan lokal dengan yang didatangkan oleh manajemen kelompok Jawa Pos dari luar, dan lainnya. Namun demikian, Suara. Maluku tetap eksis sehingga mampu menggusur pangsa pasar harian pertama di Ambon, Pos. Maluku, hanya dalam masa waktu dua tahun saja. Akhirnya Pos Maluku pun ditutup.

Selama pindah ke Ambon sejak terbit mingguan hingga menjadi harian. Markas koran ini sempat berada di beberapa lokasi. Awalnya pernah berkantor di rumah almarhum John Malaihollo di kawasan Soya Kecil. Kemudian pindah ke ruko di Terminal Mardika dan pada akhir 1997 markas Suara. Maluku pindah ke kawasan Halong Atas dalam sebuah kompleks lengkap beranta dua.  Dimana ada percetakan, kantor penasaran, iklan dan redaksi menyatu dibawah pimpinan General Manager, Sam Abede Pareno, serta Pelaksana Harian oleh Elly Sutrahitu dan Etty Manduapessy menjabat komisaris.

Di saat sedang mengalami masa kejayaan, sebagai koran harian satu-satunya yang eksis dan menguasai pasar di Maluku dan Maluku Utara bahkan masuk juga ke Sorong. Datanglah badai konflik sosial di Ambon dan Maluku umumnya pada 19 Januari 1999 sampai 2004, termasuk Maluku Utara. Suara Maluku punya banyak dana di loper, agen dan pelanggan, tidak tertagih dan tidak diketahui keberadaan mereka untuk diminta tagihannya. Nyaris kolaps. Sempat tidak terbit. Karena faktor situasi keamanan.

Situasi demikian. Akhirnya membuat managemen Suara Maluku mengambil keputusan meninggalkan markas besarnya di kawasan Halong Atas. Sebab kerja liputan wartawan dan karyawan terancam keamanan, nyawa taruhannya. Lantaran dari pusat kota Ambon  untuk ke Halong Atas, kru dan karyawan harus melalui transportasi laut dan pegunungan. Kondisi benar-benar sulit. Pertentangan pun muncul diantara managemen di Makassar, Surabaya dan di Ambon. Pasalnya, bahan baku cetak sudah sulit dikirim dari Surabaya karena adanya suasana kerusuhan. Managemen dan kru di Ambon, menyatakan sikap tetap terbit dan dilakukan di Percetakan Negara, tinggalkan percetakan sendiri karena tak ada bahan baku. Kantor darurat pun pindah ke rumah wartawan Febi Kaihatu di kawasan Skip, dengan alasan keamanan dan ketenangan bekerja.

Namun akibatnya. Setelah tidak ada kata sepakat dengan managemen pusat. Akhirnya, Jawa Pos Grup memutuskan kerjasama dan mencabut PT. Suara Maluku Intim Press sebagai penerbit harian tersebut pada Oktober 2003. Maka di tengah situasi keamanan dan iklim berusaha yang sulit karena kondisi belum kondusif, kru dan karyawan Suara Maluku bertekad terus menerbitkannya. Maka kembalilah posisi Yayasan Penerbit Suara Maluku sebagai penerbit koran itu di tengah badai konflik yang belum berakhir.

Perjuangan baru pun dimulai. Tekad dan kebersamaan senasib menjadi modal para kru dan karyawan yang bertahan pun menggelora. Lantaran managemen Jawa Pos Grup akhirnya mendirikan koran baru, yakni Ambon Ekspres. Ada kru dan karyawan memilih bergabung ke Ambon Ekspres. Sebagian tinggal tetap bersama Suara Maluku. Memulai dari nol. Tak ada aset maupun dana yang tertinggal. Pelan, tertatih, namun mencoba modal idealisme, profesionalisme, semangat, kebersamaan, untuk melawan situasi yang sulit. Akhirnya pelan tapi pasti Suara Maluku tetap hadir, eksis untuk pembaca sebagai agen sosial kontrol dan pembangunan.

Dari rumah kru Febi Kaihatu di kawasan Skip. Markas koran tua ini berpindah ke kantor sewaan di kawasan Paradise. Kemudian pindah lagi ke kawasan terdekat di. Paradise Tengah. Dari situ pindah lagi ke jalan Rijali kawasan Belakang Soya dan kini markasnya pindah lagi ke. Jalan Diponegoro kawasan Urimesing. Di era pasca kerusuhan. Situasi keamanan sudah membaik dan normal. Muncullah kompetitif media cetak lainnya di kota Ambon. Tak tanggung-tanggung, seiring dihapusnya persyaratan SIUPP karena jatuhnya rezim Orde Baru. Muncullah berbagai media massa baru selain Ambon Ekspres yang adalah "adik" Suara Maluku.‎ Kompetisi dan rebutan pasar pun berlangsung. Suara Maluku yang masih hitam putih, kalah wajah dan kalah make up dibanding koran lain yang mulai bermunculan dengan halaman warna.

Tak sampai disitu persaingan sesama media cetak. Namun muncullah era media digital,juga media sosial (medsos). Jaman online pun menjadi "hantu" baru. Bukan saja untuk Suara Maluku, namun juga buat media cetak lainnya. Akibatnya, beberapa media cetak yang terbit di era reformasi pun gulung tikar alias tutup. Seleksi alam pun berlaku. Karena modal dana tanpa kualitas, idealisme dan profesionalisme serta "roh" jurnalisme, sama saja bohong.

Singkat cerita. Sejak putus kerjasama dengan Jawa Pos Grup tahun 2003. Hingga kini Suara Maluku masih tetap eksis, independen. Meski kadang jadwal terbit tidak rutin, terkendala teknis, kehabisan bahan baku dan kadang juga tergantung mesin cetak di Percetakan. Negara dan lainnya. Namun semangat dan kebersamaan serta idealisme dan profesionalisme lah yang membuat Suara Maluku tetap ada. Tidak "dimakan" seleksi alam dan teknologi.

Lantas apakah Suara Maluku tetap bertahan hitam putih dan tidak pernah dilirik investor? Atau tidak memikirkan perubahan dan pengembangan ke depan? Semua itu dipikirkan, direncanakan matang, tidak asal-asalan dan lainnya. Investor juga pernah ada yang menawarkan kerjasamanya dari Jakarta. Namun tentunya ada timing nya, ada momen nya. Lambat atau cepat semua akan berubah.‎

Seleksi alam. Siapa tak bertahan, tak bertumbuh. Harus lengser, tutup cerita. Namun tentunya, bagi beta sebagai nakhoda yang awalnya hanyalah seorang "ABK", mau tak mau harus memegang kendali "kapal" supaya melewati tantangan dan badai silih berganti. Agar "kapal induk" tua ini tidak karam. Tidak tinggalkan nama saja seperti niedia lainnya. Sebab, ibarat "rumah tua", Suara Maluku sudah melahirkan dan membesarkan para pemimpin koran di Ambon dan kota-kota lainnya, politisi, pengacara, dosen, aktifis, pejabat, anggota DPRD, Sekda. dan berbagai profesi lainnya.

Selamat memasuk usia ke-27 harian Suara Maluku. Tetaplah berjalan dengan visi. Indepeden, Nasionalis dan Membangun Masyarakat Maluku.  “You’ll Never Walk Alone”, kamu tidak akan pernah berjalan sendirian. Karena ada semangat dan kebersamaan sejati. Serta sang pencipta alam semesta. Tuhan menjaga dan memberkati . (*)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!