Sekilas Info

CLERRY CLEFFY INSTITUTE

Frylie, Si Relawan Cilik Kemanusiaan yang Setia Melayani Anak-anak Pengungsi Gempa

Foto: Dok Clerry Cleffy Institute Pendukung setia yang juga relawan Clerry Cleffy Institute (CCI) Frylie Liefryno Sapteno, menerima suapan nasi tumpeng dari Direktur CCI Dwi Prihandini saat ulang tahunke-4 CCI, Rabu (12/2/2020).

satumaluku - Rabu (12/2/2020), lembaga kemanusiaan Clerry Cleffy Institute (CCI) Maluku merayakan ulang tahunnya (Ultah) yang keempat. Seperti biasa, dalam setiap kesempatan, lembaga yang dikenal aktif membantu kaum marginal di Ambon ini, berbagi bahagia dengan kelompok yang jadi perhatian mereka. Peringatan Ultah CCI digelar di kawasan Gunung Nona Ambon.

Pada syukuran sederhana Ultah ke-4 yang dihadiri 160 anak-anak dan para relawan serta pendukung CCI ini, sebagai kenangan khusus, ada empat orang anak disabilitas dengan kondisi marjinal mendapatkan dukungan dari Pendiri dan Direktur CCI Dwi Prihandini, masing-masing sebesar Rp.400.000. Selain itu, salah seorang anak diantaranya mendapatkan sebuah kursi roda.

Di antara ratusan anak-anak yang hadir, dan ikut menikmati tumpeng Ultah, ada pendukung setia yang juga relawan cilik CCI. Namanya Frylie Liefryno Sapteno. Hampir setiap kunjungan CCI ke lokasi pengungsi yang terkena dampak langsung gempabumi di Maluku, pasti ada sosok Frylie di situ.

Peringatan Ultah Clerry Cleffy Institute (CCI) yang keempat, di kawasan Gunung Nona Ambon, Rabu (12/1/2020).(Dok. Clerry Cleffy Institute)

Jika sebagian anak-anak memilih bermain saat sekolah "auto" libur pas gempa terjadi, tidak demikian dengan Frylie. Murid kelas 5 sekolah dasar (SD) di Sekolah Citra Kasih (SCK) Ambon ini, justru memilih ikut beraktivitas bersama relawan CCI, membawa bantuan dan berbagi kasih dengan anak-anak di pengungsian.

Sebagaimana sudah diberitakan selama ini, gempabumi yang melanda Maluku pada Kamis (26/9/2019), berkekuatan 6.8 scala richter (SR), disusul gempa (aftershocks) dengan magnitudo antara 5 SR hingga 2 SR. Hingga 11 Februari 2020, hasil monitoring Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), masih terjadi gempa berkekuatan magnitudo 3,2 yang dirasakan dalam skala intensitas II MMI di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Secara keseluruhan BMKG mencatat sejak 26 September 2019 di Ambon telah terjadi gempa susulan sebanyak 3.089 kali dan 37 kali diantaranya gempa susulan yang dirasakan guncangannya oleh masyarakat. Kondisi ini tidak dipungkiri membuat sebagian warga di daerah terkena dampak, tetap bertahan di lokasi pengungsian.

Tiga wilayah yang paling terkena dampak gempabumi tersebut antara lain di Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Sampai hari ini, para pengungsi di ketiga wilayah tersebut masih membutuhkan bantuan kemanusiaan, terutama terkait bahan makanan dan kebutuhan emergency lainnya, seperti susu untuk anak-anak dan balita.

Di kondisi ini, anak-anak lah yang paling merasakan dampaknya. Misalnya, setiap gempa susulan terjadi, mereka pasti terpaksa diliburkan dari aktivitas belajar mengajar di sekolah. Ada anak-anak yang bisa ceria bermain bersama teman-teman mereka di pengungsian, namun tidak sedikit juga yang trauma akibat gempabumi susulan yang masih terus melanda Maluku.

Kondisi ini juga yang menjadi perhatian si relawan cilik Frylie. Dia ingin berbagi kebahagiaan bersama rekan-rekannya, anak-anak di pengungsian. Keinginannya yang begitu besar, membuat Frylie yang biasanya susah kalo dibangunkan pagi hari, namun untuk kegiatan CCI dia justru semangat beringsut dari tidurnya. Bahkan saat kegiatannya harus menyeberang pulau dengan menggunakan speed boat dan Frylie nampak agak takut, karena baru pernah menumpang alat transportasi antar pulau ini, namun dia akhirnya terlihat senang menikmati perjalanan laut itu.

Menyeberang laut menggunakan speed boat dari Negeri Tulehu di Pulau Ambon ke Negeri Pelauw di Pulau Haruku, merupakan pengalaman baru bagi Frylie. Tidak mengherankan, sepanjang perjalanan itu dia terlihat begitu antusias bertanya ini itu soal lokasi yang akan didatangi CCI untuk memberikan bantuan. Lalu begitu tiba di Pelauw, walau pun musti melepas sepatu dan basah-basahan saat turun dari speed boat, dia tetap bersemangat.

Di kesempatan bersama CCI ke Negeri Haruku, Frylie juga terlihat senang ikut berbaur dengan anak-anak di sana. Dia juga terlihat serius mendokumentasikan kegiatan yang ada, baik melalui video maupun foto, yang kemudian dia unggah ke Instagram-nya. Buat Frylie, ini pengalaman baru dan dia senang, meski dia juga agak sedih melihat kondisi teman-temannya di beberapa pengungsian, yang terpaksa belum bisa hidup normal seperti saat sebelum gempabumi melanda Maluku.

"Saya merasa senang bisa ikut membantu teman-teman. Cuma saya sering merasa sedih juga karena mereka tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Tidak bisa kembali tidur di kamar dan tidak bisa kembali di rumah sendiri," ujar Frylie kepada satumalukuID beberapa waktu lalu.

Dia berharap teman-teman sebayanya tetap semangat dan tidak lupa terus beribadah dan berdoa. "Semoga gempabumi tidak ada lagi, dan teman-teman bisa pulang ke rumah lagi," ujar Frylie yang mengaku bercita-cita kelak ingin seperti Direktur CCI Dwi Prihandini, yang tidak pernah lelah membantu kaum marjinal.

Penulis: Embong
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!