Sekilas Info

OPINI

Sumbangan ‘Fluit’ Untuk Ambon Sebagai ‘Unesco City of Music’

SELAMAT atas ditetapkannya Kota Ambon sebagai salah satu dari 66 kota kreatif dunia 2019 oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), yang merupakan badan khusus PBB.

Penetapan ini merupakan buah dari kerja keras selama 3 tahun, Tim Ambon Music Office bersama Pemkot Ambon serta semua pihak terkait di Ambon maupun di Jakarta dan dimana saja.

Tidak gampang memenuhi kriteria yang ditetapkan Unesco. Bila Ambon tak berhasil lolos dalam pengajuan tahap pertama ini, harus ditunggu 3 tahun lagi untuk kembali mengajukan diri ke Unesco untuk dinilai.

Sebelumnya, pada tahun 2018 Kota Ambon telah ditetapkan sebagai kota kreatif dalam jaringan Kota Kreatif di Indonesia, dengan kategori musik dan kuliner. Ini menjadi salah satu syarat tambahan untuk dinilai Unesco sebagai Kota Kreatif Unesco.

Penilaian dan penyematan kategori kota kreatif ini dilakukan Unesco setiap tiga tahun. Pada tahun 2015, Unesco menobatkan Adelaide, Idanha-a-Nova (Portugal), Katowice (Poland), Kingston (Jamaica), Liverpool (United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland), Medellín (Colombia) dan 3 kota lainnya lagi sebagai kota kreatif Unesco berbasis musik, diantara kelompok kota kreatif kategori lainnya yang seluruhnya berjumlah 47 kota.

Kota-kota ini, bersama kota lainnya berbasis musik yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Unesco, dikategorikan sebagai kota-kota yang lazimnya disebut juga 'Unesco City of Music'

(lihat, https://en.unesco.org/creative-cities/events/47-cities-join-unesco-creative-cities-network)

Info grafis dari kota-kota yang telah ditetapkan sebelumnya bisa dilihat di tautan ini: https://citiesofmusic.net/

Tiga tahun kemudian, tepat pada 30 Oktober 2019, bertempat di Kantor Pusat Unesco yang berkedudukan di Paris, Kota Ambon, bersama 15 kota lainnya di seluruh dunia, memperoleh anugerah dalam kategori yang sama, Unesco City of Music.

Beta yakin ketika info grafis Unesco City of Music di-update, akan bertambah 16 kota baru, dan Ambon salah satu diantaranya (sekarang Ambon sudah ada dalam info grafisnya, red).

Penganugerahan City of Music di seluruh dunia tentu tidak saja dilakukan oleh Unesco. Ada beragam lembaga internasional yang memberikan kategori serupa kepada banyak kota di dunia, berdasarkan kriteria mereka masing-masing.

Tentunya Unesco punya kriteria sendiri sebagai lembaga kredibel di bawah UN yang selama ini dikenal karena, diantaranya, melakukan preservasi kebudayaan global.

Penganugerahan Unesco patut menjadi kebanggaan, karena sistem penilaian Unesco bukanlah sekelas penganugerahan 'abal-abal' yang bisa diperoleh dengan menyetor sejumlah uang.

Penilaian berlapis dilakukan Unesco. Mereka bahkan memutuskan datang sendiri dari Jerman untuk mengamati kehidupan bermusik di Kota Ambon dan sekitarnya. Terkait kunjungan mereka, beta peroleh informasi bahwa hal yang sangat mengimpresi tim Unesco saat berkunjung ke Ambon adalah originalitas bermusik, serta 'gen musik' yang terkandung dalam tubuh masyarakat di Kota Ambon.

Karenanya mereka berharap, Ambon dapat mengembangkan musik berbasis originalitas dan keunikan masyarakatnya, tanpa berupaya meniru model kota-kota musik lainnya.

Terhadap penganugerahan ini, beta harus menaruh hormat untuk kerja keras tim Ambon Music Office (AMO) yang digawangi oleh Bung Ronny Loppies dan teman-teman.

Mereka yang bekerja secara senyap dalam seluruh keterbatasan selama 3 tahun, untuk memenuhi berbagai kriteria yang ditetapkan Unesco bagi pencapaian ini. Beta selalu yakin kata pepatah bahwa 'hasil tak pernah menghianati proses'.

Apa implikasi penganugerahan status ini bagi Kota Ambon? Untuk menjawabnya, kita bisa mempelajari konsekwensi-konsekwensi penetapan Unesco City of Music bagi kota-kota lain di dunia yang telah lebih dahulu memperoleh penganugerahan ini.

Satu hal bisa dipastikan adalah kerja maha berat yang harus dilakukan oleh komunitas musik dan semua pemangku kebijakan di Ambon, untuk membuktikan bahwa sematan Ambon sebagai Unesco City of Music bukanlah pepesan kosong di masa depan. Tentu kita tak lupa makna nasehat usang bahwa 'kerja untuk mempertahankan dan mengembangkan apa yang dicapai adalah jauh lebih berat dari perjuangkan untuk mencapainya'.

Sambil mengapresiasi setiap capaian baik dari negeri ini, tentunya beta berharap agar sematan Unesco City of Music bisa mengangkat musik Maluku ke pentas global, sekaligus meninggikan harkat para seniman musik di Maluku pada tataran yang lebih layak.

Sekali lagi, ini tantangan berat yang harus dijawab dengan kerja keras bersama dalam spirit persaudaraan anak-anak Maluku.

Sebagai anak negeri, beta tentunya ingin memberi banyak dukungan untuk memperkaya kebanggaan ini di masa depan.

Sayangnya beta bukanlah seorang seniman musik kalau itu kriteria yang diminta. 'Boro-boro' jadi seniman musik, membaca tangga nada saja sulit, wkwkwkwk. Karenanya, beta hanya bisa mengapresiasi guna menambah asupan energi positif bagi semua upaya dan kerja keras yang telah dilakukan.

Kalaupun diminta, maka kemampuan beta hanyalah 'fluit' (bersiul); dan jika fluit dianggap bisa menyumbang bagi pengembangan musik di negeri ini, maka mulai sekarang beta akan berlatih serius untuk fluit secara indah dan harmoni.

Sekali lagi, SELAMAT!

https://en.unesco.org/creative-cities/events/unesco-designates-66-new-creative-cities

Oleh: Jacky Manuputty
*Penulis adalah pemerhati budaya di Maluku. Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di akun FB penulis.

Penulis: Jacky Manuputty
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!