Sekilas Info

KASUS DEMAM BERDARAH

Tahun 2019 Kasus Demam Berdarah di Kota Ambon Meningkat, Dinkes Lakukan Kewaspadaan Dini

satumalukuID/Ian Toisutta Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon drg. Wendy Pelupessy (kanan).

satumalukuID- Di tahun 2019 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon, mencatat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan. Ada 38 kasus yang terjadi di tahun tersebut. Sementara sampai hari ini sudah tercatat 3 kasus DBD.

Untuk mengantisipasi kasus DBD terulang kembali, Pemerintah Kota Ambon melalui Dinkes mulai melakukan pencegahan dini. Salah satunya sosialisasi di seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

"Belajar dari pengalaman tahun kemarin, makanya kita bikin kewaspadaan dini dengan meningkatkan sosialisasi di seluruh puskesmas," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon Wendy Pelupessy kepada wartawan di media center Balai Kota Ambon, Rabu (12/2/2020).

Sosialisasi telah bergulir sejak akhir Desember 2019 dan awal Januari 2020. Dimana Dinkes mulai melakukan pemetaan wilayah-wilayah yang diketahui telah melahirkan kasus DBD.

"Kita bikin pemetaan wilayah-wilayah yang terbanyak kasus (DBD), wilayah yang setiap tahun sering terjadi kasus DBD misalnya di Lateri, Karang Panjang, dan di daerah Poka," kata Pelupessy.

Di wilayah yang terbanyak atau sering dan berpotensi terjadi kasus DBD, lanjut Pelupessy, pihaknya melakukan sosialisasi abatisasi selektif.

"Sedangkan di daerah lain kami punya abate juga siap di puskesmas untuk yang butuh itu langsung dibagi gratis," katanya.

Pihaknya, tambah Pelupessy, juga melakukan fogging atau pengasapan di dua lokasi yang ditemukan terdapat kasus DBD.

Dua lokasi fogging adalah Durian Patah, Desa Hunuth dan Talaga Pange, Negeri Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon.

"Kemarin dilakukan fogging di 2 lokasi karena memang ada kasus. Ada 3 kasus sampai dengan hari ini. Oleh karena itu kami lakukan fogging," ujarnya.

Fogging, kata dia, ada protapnya, atau tidak sembarang dilakukan. Salah satunya jika ditemukan kasus, kemudian dilakukan penyelidikan epidemiologi dari tempat ditemukan kasus hingga area 100 meter.

"Ini untuk mematikan nyamuk dewasa. Sedangkan nyamuk jentik itu yang paling baik kita melakukan Pembersihan Sarang Nyamuk, tidak ada cara lain," jelasnya.

Dia menjelaskan, PSN dilakukan dengan cara menyingkirkan barang-barang bekas, menutup, mengubur dan menguras. Jika kemudian terdapat kolam ikan, misalnya, maka pemiliknya dapat memelihara ikan.

"Memelihara ikan untuk memakan jentik (nyamuk). Di sekolah-sekolah kami juga sudah sosialisasi. Mudah-mudahan kami akan bicara untuk membentuk Saka Bhakti Husada (SBH)," sebutnya.

SBH, lanjut Pelupessy, diharapkan dapat menjadi ujung tombak di sekolah dan masyarakat.

"Jadi di sekolah sekolah nanti ada dibentuk Juru Jentiknya, dimana dia bisa melihat jentik nyamuk dan bagaimana bisa secepatnya mengantisipasi," katanya.

Pelupessy yang merupakan seorang dokter gigi ini, mengaku persoalan DBD bukan barang baru. Agar terhindar, intinya adalah bagaimana merubah perilaku hidup bersih dan sehat.

"Yang kami harus waspadai ini di musim pancaroba. Mungkin sekitar Maret sampai Juni itu tetap kewaspadaan karena musim hujan kemudian berhenti dan masuk musim panas," pungkasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!