Sekilas Info

KRISIS AIR BERSIH

Kawasan Galunggung, Tana Rata, Air Besar dan Tantui Krisis Air Bersih, PDAM Ambon: Sumber Air Menurun karena Kemarau

Foto: Ian Toisutta Plt Dirut PDAM Ambon, Apong Tetelepta di ruang rapat Komisi II DPRD Kota Ambon, Selasa (11/2/2020).

satumalukuID- Warga Kota Ambon di beberapa daerah diantaranya Kawasan Galunggung, Tanah Rata, sampai Air Besar, Desa Batumerah, serta kawasan Tantui , di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, menjerit lantaran kesulitan air bersih.

Pelaksanaan Tugas (Plt) Direktur Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Ambon, Apong Tetelepta, menjelaskan, krisis air tersebut bukan karena persoalan jaringan pipa, namun karena sumber air mengalami penurun drastis.

Menurutnya, sumber air menurun hingga menyebabkan terjadinya krisis air di kawasan Galunggung, Kebuncengkih, Air Kuning, Kahena sampai Air Besar karena musim kemarau.

Hal ini terlihat dari semula disalurkan sebanyak 6.000 kubik air per hari, kini menurun menjadi 3.000 kubik. "Itu karena musim panas ini yang menyebabkan sumber air menurun. Dan karena kekeringan ini terpaksa 3.000 air ini katong bagi-bagi. Jadi ada sebagian yang tidak dapat," ungkap Tetelepta usai bertemu Komisi II DPRD Ambon di Gedung DPRD Kota Ambon, Selasa (11/2/2020).

3.000 kubik air per hari, kata dia, harus melayani sebanyak kurang lebih 9.000 pelanggan di kawasan tersebut. "Jadi tidak sinkron antara stok yang ada dengan pemakai," kata dia.

Sejak lima tahun lalu, tambah Tetelepta, pihaknya telah melakukan pengeboran di kawasan tersebut. 10 titik pengeboran hanya mampu mendapatkan dua sumber air. Yaitu di Kapaha dan Aster, Kecamatan Sirimau.

"Ada 10 pengeboran tapi tidak dapat. Yang berhasil cuman 2 yaitu Kapaha dan Aster. Aster sekarang ada mau pasang jaringan. Sisa 8 di atas yaitu Kanawa, Air Besar,  itu tidak ada. Terakhir kita boring di KBMT itu tidak ada air. Kita sudah boring sejak 5 tahun yang lalu," ungkapnya.

Menurutnya, setiap musim kemarau debit air menurun. Bila musim kemarau bertahan selama 1-2 minggu saja, maka debit air sudah turun. "Dong tahu apa penyebabnya, hutan lindung di atas terbakar, sudah rusak. Solusinya kita berbicara dengan pemerintah untuk memasukan mobil tanki di daerah-daerah yang tidak jalan (air)," pintanya.

Disinggung mengenai tagihan pembayaran yang bayarannya tetap normal, padahal air jarang berjalan, kata Tetelepta, bukan pada persoalan angin pada meteran.

"Pembayaran itu angka meter. Jangan terima informasi yang salah. Nilai angka meter yang dipakai. Kalau soal pengaruh angin beta sudah suruh petugas untuk atasi. Jadi jangan menunggak. Karena tunggakan itu berpengaruh bagi operasional perusahaan. DSA tiap bulan bayar PLN sebesar Rp260," katanya.

Dia menjelaskan, upaya PDAM untuk mendapatkan sumber air telah dilakukan. Tapi ternyata, air bawah tanah di kawasan Air Besar sudah tidak ada. "Akang su kaluar. Sedangkan daerah Karang Panjang itu 150 meter ada air. Karena struktur dia 0-80 karang, ke bawa itu ada air. Tapi struktur di Air Besar, Ahuru itu batu besar-besar rumah. Kalau mau dipica harus dibakar dulu. Itu lari ke bawa semua batu," ujarnya dengan dialek Ambon.

Saat ini, masyarakat yang mengalami krisis air harus antri. Biar merata, PDAM membagi stok air 3.000 kubik. Sehingga daftar antrian yang biasanya hanya 2-4 hari, mengalami peningkatan satu hari lebih lama.

"Maka ada yang biasanya dapat air 2 hari sekali jadi 3 hari, 3 hari jadi 4 hari, 4 hari bisa sampai seminggu," jelasnya.

Baca Juga

error: Content is protected !!