Sekilas Info

OPINI

Sebuah Harapan untuk Industri Musik di Kota Ambon

Beberapa waktu lalu Ketua Komisi DPRD Maluku, Anos Yeremias menyatakan bahwa kemarau panjang telah mengakibatkan ratusan bahkan hampir mencapai 1.000-an ekor kerbau mati mengenaskan setiap tahun di pulau Moa bagian timur, kabupaten Maluku Barat Daya provinsi Maluku sebagaimana yang dirilis media online SATUMALUKU (www.satumaluku.id).

Peristiwa ini  harus menjadi perhatian serius kita semua terutama pemerintah daerah agar bisa bersama-sama mencari jalan keluarnya. Karena krisis air bersih akibat kemarau panjang kini juga melanda banyak daerah di Indonesia dan bisa saja terjadi di kemudian hari.

Para ahli mengatakan salah satu penyebabnya adalah eksploitasi sumber daya alam secara masif demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan yang muncul kemudian bagaimana cara menekan eksploitasi sumber daya alam secara masif yang kerap terjadi itu ?

 Potensi Besar Dibalik Industri Musik

Usulan Pemda kota Ambon dan dukungan dari Pempus melalui Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) serta berbagai pihak untuk menjadikan Ambon sebagai kota musik dunia menjadi kenyataan setelah United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyetujui lalu mengumumkan di akhir 2019.

Harapan UNESCO, penghargaan yang diberikan ini berperan serta mewujudkan pembangunan berbasis green economy untuk melengkapi konsep dari Sustainable Development Goals (SDGs).

 Berpijak dari peristiwa di Moa bagian timur dan harapan UNESCO maka salah satu pekerjaan rumah yang harus segera dilakukan untuk mengembangkan Ambon sebagai kota musik dunia adalah menjadikan Ambon sebagai episentrum perkembangan penciptaan karya-karya baru.

Hasil penelitian budaya memperlihatkan kekayaan budaya musikal di kawasan ini sangat beragam. Sayangnya, kekayaan budaya musikal itu belum mendapat posisi yang layak dan belum menjadi inspirasi penciptaaan karya-karya baru dalam kancah musik nasional, apalagi untuk mencapai tingkat internasional. Kalau begitu apa yang harus dilakukan ?

Yang terpenting adalah segera memfungsikan studio rekaman yang berada di Universitas Pattimura Ambon karena bantuan sarana dan prasarana dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mempunyai kualitas peralatan rekaman digital yang mumpuni.

Studio rekaman ini seharusnya dijadikan sebagai sentra produksi rekaman musik Indonesia timur, mengingat  kualitas hasil rekaman berkelas internasional. Sejauh ini kita belum mendengar informasi yang memperlihatkan ada studio rekaman di kawasan Indonesia timur yang jauh lebih berkualitas dari Unversitas Pattimura Ambon.

Selain itu, harus juga menyiapkan sumber daya manusia yaitu para musisi dan mereka yang bekerja di bidang musik sesuai standar pasar industri musik. Pemda kota Ambon bisa memulainya dengan melakukan audisi untuk mencari musisi berbakat dan mereka yang menekuni bidang audio visual di Ambon dan kawasan Indonesia timur lainnya. Mengingat produksi musik kini harus dikemas dalam media audio visual yang menarik.

Selanjutnya untuk meningkatkan sumber daya manusia pemda kota Ambon harus melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang ahli dalam bidang musik seperti tonmeister, pengarang lagu, musisi profesional, fashion stylist, film maker dan lain-lain. Para ahli ini bertugas memberikan lokakarya seperti pelatihan, berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk mereka yang lulus audisi.

Ini penting dilakukan agar nantinya saat dipasarkan di dalam negeri atau menjadi komoditas ekspor ke mancanegara karya musik, gaya panggung dan berbusana, video klip dan lain sebagainya memiliki kualitas terbaik seperti karya-karya yang laris di pasar industri musik nasional maupun dunia.

Untuk dapat mencapai hasil seperti itu tidak ada jalan lain, harus melakukan lokakarya secara sustainable dengan instructional materials yang terarah dan sistematis. Langkah kegiatan yang mengarah pada produksi jauh lebih baik daripada melakukan kegiatan-kegiatan seperti diskusi atau seminar.

Diskusi atau seminar hanya untuk pengembangan gagasan dan kegiatan ini sering masih jauh dari aktivitas produksi pertunjukan, produksi karya dan rekaman musik. Pilihan pada program strategis dan mendesak harus dipilih dengan tepat, mengingat keterbatasan dana Pemda kota Ambon. Karena itu, harus fokus pada prioritas produksi dan rekaman.

Strategi seperti inilah yang dilakukan Korea selatan, dalam waktu 15 tahun negara ini berhasil menjadikan K-Pop sebagai musik dunia. Keberhasilan mengangkat daya tarik dan keunikan kebudayaan mereka melalui industri musik sebagai instrumen soft power melahirkan globalized localism. Menurut Korean Foudation tahun 2005 fans K-pop atau biasa disebut Kpoper sebanyak 35 juta orang - tersebar di 86 negara. K-pok memberikan kontribusi sangat besar terhadap pendapatan negara Korea selatan.

Lagu K-pop Gangnam Sytle yang dibawakan Psy tahun 2012 berhasil menduduki anak tangga musik di lebih dari 30 negara.

Kesimpulannya adalah mendorong industri musik dengan SDM yang berkualitas, budaya musikal serta dukungan dana ternyata bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Cara-cara konvensional yang lebih mengandalkan keindahan alam bukanlah satu-satunya jalan. Industri musik juga memliki potensi sangat besar dan Korea selatan berhasil membuktikannya untuk kita semua.

Menuju Pembangunan Berbasis Green Economy

Krisis air bersih akibat kemarau panjang menyebabkan kerbau mati mengenaskan yang terjadi di Moa bagian timur juga menjadi perhatian pejabat negara di Maluku beberapa waktu lalu. Terkait dengan persoalan itu Walikota Ambon Richard Louhenapessy pun pernah angkat bicara. Menurutnya, hutan di ambon harus dijaga untuk menekan terjadinya peningkatan suhu bumi yang kini melanda Ambon.

Pandangan yang sama juga disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Maluku Sadly Li bahwa emisi rumah kaca secara global dirasakan di Maluku seperti adanya peningkatan permukaan air laut, gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Eksploitasi sumber daya alam secara masif akibat desakan pembangunan menyebabkan perubahan iklim dan pemansan global. Kondisi itu kini terjadi di Ambon dan wilayah lainnya di kawasan Indonesia timur.

Untuk lebih jelasnya baca link di bawah ini :

KBR Ambon, 16 Ribu Hektar Hutan di Maluku Rusak Tiap Tahun, Jumat 12 Juli 2013, <https://m.kbr.id/nusantara/07-2013/16-ribu-hektar-hutan-di-maluku-rusak-tiap-tahun> [diakses pada 01 Januari 2019].

Malukupost.com, Kerusakan Hutan di Maluku Tinggi, Kamis 12 Mei 2016 <https://malukupost.com/2016/05/kerusakan-hutan-di-maluku-tinggi> [diakses pada 01 Januari 2019].

SatumalukuID, 196 Rumah di Kecamatan Moa, Letti dan Lakor Maluku Barat Daya Rusak Terdampak Badai Siklon Tropis, Kamis 16 Mei 2019, <https://www.satumaluku.id/2019/05/16/196-rumah-di-kecamatan-moa-letti-dan-lakor-maluku-barat-daya-rusak-terdampak-badai-siklon-tropis> [diakses pada 01 Januari 2019].

Radiodms.com, Abrasi dan Pencemaran Ancaman Serius Manusia. Jumat, 28 Juni 2019. <https://radiodms.com/berita-maluku/abrasi-dan-pencemaran-ancaman-serius-manusia> [diakses pada 01 Januari 2019].

Nah, agar sumber daya alam yang selama ini menjadi bahan bakar penggerak mesin pertumbuhan ekonomi bisa dikurangi penggunaannya sehingga dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global pun bisa ditekan maka industri musik harus didorong.

Dengan memprioritaskan produksi rekaman musik maka secara tak langsung ikut membantu mewujudkan tumbuhnya pembangunan berbasis green economy. Penciptaan karya-karya baru yang menggabungkan budaya musikal dalam citarasa musik populer masa kini adalah energi besar yang  bisa menarik kita keluar dari eksploitasi sumber daya alam secara masif yang kerap dilakukan demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Mengapa? karena industri musik tidak mengeksploitasi sumber daya alam seperti hutan, pasir, minyak bumi dan batu bara serta yang lainnya secara masif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Energi yang mendorong industri musik adalah sumber daya manusia dan budaya musikal.

Ambon sebagai kota musik dunia yang dilengkapi fasilitas peralatan rekaman digital mumpuni dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) harus mendorong tumbuhnya industri musik melalui prioritas produksi dan rekaman. Kalau tidak didorong itu sama saja pemborosan anggaran negara karena peralatan rekaman digital bernilai miliaran rupiah.

Akhir kata, semoga industri musik di Ambon bisa menjadi episentrum perkembangan penciptaan karya-karya baru dengan citarasa budaya musikal kawasan Indonesia timur agar pesan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Kalimantan selatan bahwa budaya harus juga berperan serta dalam arus utama pembangunan di daerah bisa kita wujudkan bersama. Apalagi saat ini Ambon dan wilayah sekitarnya sering dilanda berbagai bencana akibat krisis ekologis.

Sejauh ini apa yang sudah dihasilkan dari studio rekaman di Universitas Pattimura Ambon ?

Penulis: Julius Russel, Almuni Institut Kesenian Jakarta (IKJ); Kontributor di Greenpeace Indonesia

PENULIS
JULIUS RUSSEL

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!