Sekilas Info

PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan Provinsi Maluku 2019 Hanya di Angka 5,57 Persen, Lebih Kecil dari Maluku Utara 6,13 Persen

satumalukuID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku mencatat pertumbuhan ekonomi Maluku pada 2019 sebesar 5,57 persen (yoy), melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,94 persen, namun lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,02 persen.

Dibanding Maluku, pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku Utara (Malut) lebih tinggi dengan mencatat pertumbuhan 6,13 persen pada tahun yang sama.

Kepala Kantor Wilayah (KPw) Bank Indonesia Provinsi Maluku, Noviarsano Manullang menjelaskan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah itu pada triwulan IV 2019 tercatat 4,73 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan III 2019 yang sebesar 5,26 persen (yoy).

"Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Maluku tercatat sebesar 5,57 persen (yoy), atau melambat dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 5,94 persen (yoy)," ujarnya Sabtu (8/1/2020).

Ia menjelaskan, pada triwulan IV 2019, dari sisi pengeluaran, konsumsi swasta baik dari Lembaga Non Profit melayani Rumah Tangga (LNPRT) dan rumah tangga mencatatkan pertumbuhan positif. Konsumsi LNPRT dan konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh masing-masing sebesar 9,14 persen (yoy) dan 3,04 persen (yoy) didukung oleh perbaikan pendapatan dan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Maluku, serta terjaganya inflasi bahan pokok.

Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) atau investasi tumbuh menguat 7,20 persen (yoy), terutama investasi bangunan sejalan komitmen Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kualitas infrastruktur publik. Kinerja investasi Maluku juga ditopang oleh banyaknya aktivitas baru gerai minimarket modern di Kota Ambon.

Dari sisi Lapangan Usaha (LU), kinerja ekonomi ditopang oleh LU jasa pendidikan. LU jasa pendidikan tumbuh 8,44 persen (yoy).

Hal ini didorong oleh adanya kenaikan biaya jasa pendidikan di Maluku, mulai dari tingkat SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, kenaikan biaya pendidikan disebabkan oleh naiknya biaya operasional dan adanya penambahan investasi pada institusi pendidikan tersebut.

Permintaan domestik yang membaik juga tercermin dari kinerja LU perdagangan besar dan eceran, yang mampu tumbuh 6,12 persen (yoy) sejalan dengan tingginya permintaan masyarakat saat perayaan Natal dan Tahun Baru.

Selain itu, beberapa aktivitas festival musik dalam rangka mendukung Ambon sebagai Kota Musik Dunia mampu mendorong aktivitas perdagangan.

Di sisi lain, investasi non bangunan yang terus berlanjut sejalan dengan penambahan aktivitas gerai minimarket modern di Kota Ambon turut mendorong kinerja ekonomi Maluku.

Novarsano mengatakan, KPw BI Maluku tetap bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam rangka mengendalikan inflasi terutama untuk menjaga ketersediaan pasokan melalui penguatan klaster padi dan hortikultura di Kota Ambon dan Langgur. TPID Maluku dan Satgas Pangan melalui inspeksi gabungan juga telah dilakukan agar harga bahan pokok di pasar tetap terkendali meskipun terjadi lonjakan permintaan saat Natal dan Tahun Baru, sehingga daya beli masyarakat tetap tinggi.

"Ke depan, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan (Bursel) bersama KPw BI Maluku akan berkoordinasi mendirikan Toko TPID untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok," katanya.

Ke depan, katanya,  KPw BI Maluku memandang bahwa sektor pariwisata Maluku, khususnya di Pulau Ambon, merupakan salah satu sumber investasi yang menarik dan potensial untuk menopang pertumbuhan ekonomi Maluku yang lebih tinggi. Oleh karena itu, KPw BI Maluku telah bersinergi dengan Pemkot Ambon mengembangkan objek wisata di Pantai Hukurila.

Kpw BI Maluku memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Maluku pada 2020 tetap kuat. Ekonomi Maluku pada triwulan I 2020 diperkirakan akan tumbuh menguat didorong permintaan domestik, utamanya oleh membaiknya konsumsi pemerintah. Selain itu, investasi bangunan di Maluku akan terus tumbuh seiring dengan realisasi Proyek Strategis Nasional dan proyek multi-years lainnya.

“Komitmen Pemerintah Daerah untuk mendukung aktivitas ekspor langsung dari Maluku ke luar negeri diperkirakan mampu mendorong kinerja ekonomi Maluku baik dari sisi lapangan usaha maupun sisi pengeluaran pada triwulan I 2020,” ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara (Malut) mencatat, perekonomian daerah ini pada 2019 tumbuh 6,13 persen lebih rendah dibanding 2018 sebesar 7,92 persen dengan  pertumbuhan  tertinggi  dicapai  lapangan usaha kontruksi yang tumbuh sebesar 9,21 persen.

"Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan  tertinggi  dicapai lapangan usaha kontruksi yang tumbuh sebesar 9,21 persen," kata Kepala BPS Malut, Atas Perlindungan Lubis di Ternate, Kamis (6/1/2020).

Selain itu, berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp39 716,0 miliar dan atas dasar harga konstan mencapai Rp26 586,0 miliar.

Dia menyatakan, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto yang tumbuh sebesar 67,06 persen.

Begitu pula, dari  sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dengan  pertumbuhan  tertinggi  dicapai  Lapangan  Usaha Pengadaan Listrik dan Gas yang tumbuh sebesar 13,26 persen dan dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto yang tumbuh sebesar 48,88 persen.

Sedangkan, untuk pertumbuhan terjadi pada semua lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kontruksi sebesar 9,21 persen, diikuti jasa lainnya sebesar 8,18 persen, dan perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 7,77 persen.

Untuk struktur PDRB Malut menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada tahun 2019 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan (21,92 persen) perdagangan besar-eceran, reparasi mobil-sepeda motor (17,53 persen) dan administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib (16,07 persen).

Dia menyataan, bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Malut tahun  2019, perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,40 persen, diikuti administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 1,16 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 0,86 persen, dan pertambangan-penggalian sebesar 0,64 persen.

Bahkan, pertumbuhan didukung oleh semua lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh pengadaan listrik dan gas sebesar 13,26 persen, diikuti pertambangan-penggalian  sebesar 12,64 persen dan industri pengolahan sebesar 11,50 persen.

Baca Juga

error: Content is protected !!