Sekilas Info

HPN 2020

Anugerah Kebudayaan Jadi Maspterpiece HPN 2020, Ambon Kota Musik Unesco Merubah Mindset Warga

Walikota Ambon Richard Louhenapessy berfoto seusai menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/2/2020).

satumalukuID – Anugerah Kebudayaan menjadi salah satu masterpiece pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 yang berlangsung sejak 6-9 Februari yang berlangsung di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Menurut Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Atal S Depari Anugerah Kebudayaan merupakan apresiasi kepada tokoh-tokoh kepala daerah yang pro-kebudayaan. Pesan yang ingin disampaikan lewat anugerah kebudayaan adalah bahwa budaya menjadi arus utama pembangunan di daerah

Sedangkan aspek penilaian meliputi pertama: konsep personal bupati/wali kota tentang kebudayaan. Kedua, pencapaian kinerja berbasis kreativitas dan budaya lokal, dan ketiga: sumbangsih kepada Indonesia dan kebudayaan nasional.

Pada HPN 2020 di Banjarmasin, ada sebanyak 10 bupati dan wali kota yang mendapatkan "Anugerah Kebudayaan",  setelah melalui proses seleksi dan penilaian dewan juri dari beragam latar belakang, kemudian ditetapkan sebagai pimpinan daerah yang layak mendapatkan penghargaan bergengsi itu.

Bergengsi, karena ke-10 orang bupati dan wali kota itu terpilih dari dari sebanyak 514 kabupaten dan kota se-Indonesia.

Mereka adalah Wali Kota Baubau (Sulawesi Tenggara) AS Tamrin, Wali Kota Banjarmasin (Kalimantan Selatan) Ibnu Sina, Bupati Serdang Bedagai (Sumatera Utara) Soekirman, Bupati Halmahera Barat (Maluku Utara) Danny Missy, Wali Kota Ambon (Maluku) Richard Louhenapessy, Bupati Tulang Bawang Barat (Lampung) Umar Ahmad, dan Bupati Tabalong (Kalimantan Selatan) Anang Syakhfiani.

Kemudian, juga tiga kepala daerah perempuan yakni Wali Kota Tangerang Selatan (Banten) Airin Rachmi Diany, Bupati Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta) Hj Badingah dan Bupati Luwu Utara (Sulsel) Indah Putri Adriani.

Dewan juri penilai yang terdiri atas sosok gabungan dari beragam unsur seperti akademisi, wartawan senior, pengamat budaya dan pelaku seni itu di antaranya Ninok Leksono, Atal S Depari, Agus Dermawan T, Nungki Kusumastuti dan Yusuf Susilo Hartono.

"Penghargaan ini menjadi salah satu materpiece di event HPN 2020 dan akan dilaksanakan rutin setiap tahun," ujar Atal Depar.

Cermin kepribadian bangsa

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam acara "Dialog Anugerah Kebudayaan" bertema "Pemajuan Kebudayaan di Kabupaten/Kota: Peluang dan Tantangan" dalam rangkaian HPN 2020 di Banjarmasin, Jumat (7/2) sangat mengapresiasi "Anugerah Kebudayaan" yang diselenggarakan PWI Pusat ini.

"Pembangunan kebudayaan mencerminkan kepribadian bangsa," katanya dalam rangkaian HPN 2020 yang juga dihadiri Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh, Ketua PWI Pusat Atal S Depari dan puluhan wartawan bidang budaya dan seni dari berbagai daerah di Indonesia.

Mantan Mendikbud itu menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk di muka bumi yang bisa berbudaya karena memiliki akal budi yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa, karena makhluk lainnya tidak diberikan, seperti binatang dan tumbuhan.

Letak budaya disebutnya berada dalam alam pikiran setiap orang dan budaya lahir dari individu dan terbangun secara kolektif.

Sayangnya, masih di sebagian masyarakat ada yang mereduksi pemahaman budaya, yakni budaya adalah hanya bentuk seni atau kesenian.

"Padahal, seni itu hanya sebagian kecil dari budaya. Lebih besar dari itu adalah nilai-nilai budaya. Jadi, budaya itu ada unsur nilai, norma dan media," katanya.

Menurut dia setiap daerah di Indonesia memiliki budaya masing-masing. Namun budaya bisa mempersatukan bangsa dengan berlandaskan nilai Pancasila.

"Kunci nilai budaya itu apa? Kuncinya adalah toleransi. Dengan toleransi maka akan melahirkan rasa saling menghargai dan menghormati. Nilai ini dapat diekspresikan dengan cara berbeda di masing-masing daerah," katanya.

Kota Musik Dunia Unesco

Dalam dialog itu, pembangunan pro-kebudayaan di antaranya Walikota Ambon Richard Louhenapessy memaparkan mengenai dampak positif budaya berbasis musik, yang kemudian oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), yakni UNESCO diberi penghargaan Kota Ambon menjadi "Kota Musik Dunia".

Walikota Ambon Richard Louhenapessy mengatakan bahwa musik adalah salah satu komponen kecil dari budaya yang digali dalam upaya kepentingan merajut hubungan masyarakat Ambon. Terlebih, daerah itu pernah mengalami konflik sosial.

Kunci keberhasilan itu, kata dia, ternyata pendekatannya adalah pendekatan budaya dan
dampak positif Ambon menjadi "Kota Musik Dunia" adalah musik sebagai bahasa komunikasi yang universal.

Dalam konteks itu, musik juga dipakai sebagai sarana perdamaian bagi masyarakat untuk menyatukan perbedaan sekaligus sebagai kekuatan pemerintah dan masyarakat untuk membangun persaudaraan dan kebudayaan.

Ia menyebut hal terwujud ketika Kota Ambon dan Provinsi Maluku menjadi tuan rumah ajang keagamaan nasional seperti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Pesta Paduan Suara Lagu Gerejawi (Pesparawi), Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) dan kegiatan lainnya, di mana terjadi kolaborasi, terutama musik bernyanyi lintas agama.

Karena itu, ternyata musik berdampak pada kebudayaan dengan mengubah pola pikir dari hobi menjadi potensi ekonomi kreatif bagi masyarakat, serta musik menjadi sarana komunikasi dalam menciptakan perdamaian.

Bahkan, Kementerian Agama pada 2019 memberikan penghargaan kepada Kota Ambon sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia karena mampu bangkit dan maju dari keterpurukan setelah konflik sosial 20 tahun silam.

Sedangkan Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh menyambut baik pendekatan budaya yang dicanangkan PWI Pusat untuk melihat perspektif pembangunan yang mengarusutamakan pendekatan budaya.

"Budaya mencari titik persamaan dan bukan perbedaan. Itu berbeda dengan politik yang justru mengedepankan perbedaan ketimbang persamaan," katanya.

Dalam konteks itulah, menurut Mohammad Nuh, bila ruang kesamaan telah terbentuk, maka apapun bisa diselesaikan dengan baik sehingga mencari persoalan menjadi jawaban dan bukan mencari jawaban untuk dijadikan persoalan.

Baca Juga

error: Content is protected !!