Sekilas Info

KESEHATAN

Ditengarai, Banyak Anak yang Menderita Gizi Buruk dan Stunting di Provinsi Maluku tapi Tidak Terekspos

Foto ilustrasi potret anak gizi buruk di Indonesia

satumalukuID - Anggota DPRD Maluku Fauzan Alkatiri memperkirakan jumlah pasien anak penderita gizi buruk dan stunting di Maluku cukup banyak, termasuk di Kabupaten Seram Bagian Timur. Sayangnya banyak kasus tidak terekspos karena keterbatasan akses informasi.

Dia mengemukakan hal itu menanggapi meninggalnya salah satu pasien gizi buruk di RSUD Dr Haulussy, bayi Ellena (8 bulan) yang meninggal Selasa (4/2/2020).

Pasca meninggalnya Bayi Ellena, RSUD Dr Haulussy masih melakukan penanganan kepada tiga anak pasien gizi buruk yakni Levensia Lehalima (3,8) warga Amahusu, Kota Ambon, Klementina Tabora (8), warga Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Yohanes Lesnussa (3) warga Kabupaten Buru Selatan.

Sebagai wakil rakyat dari Seram Bagian Timur, Fauzan Alkatiri juga mencontohkan di daerahnya masih terdapat banyak kasus gizi buruk dan stunting.

"Angka stunting di Kabupaten SBT masih tergolong tinggi karena masih banyak ditemukan juga warga penderita gizi buruk, bahkan ada yang meninggal dunia," kata Fauzan di Ambon, Rabu (5/2/2020).

Seperti diketahui, menurut Lead Program Manager untuk Stunting Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Sekretariat Wakil Presiden RI, Iing Mursalin, stunting merupakan kondisi anak yang gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis atau berlangsung lama. Ini terjadi pada 1.000 hari pertama atau saat anak berada di dalam kandungan hingga berusia dua tahun.

Di usia tersebut, otak anak berkembang hingga 80 persen sehingga mereka membutuhkan nutrisi yang cukup. Apabila nutrisinya kurang, pertumbuhan anak akan mengalami gangguan, baik fisik maupun kognitif. Anak stunting diukur dari perbandingan tinggi badan dengan usia.

Anak yang mengalami stunting tidak bisa diapa-apain lagi, sehingga hal yang, bisa dilakukan adalah memaksimalkan yang ada di otaknya saat ini.

Berbeda dengan stunting, gizi buruk berlangsung dalam waktu yang lebih singkat. Dia mencontohkan, ketika anak mengalami pertumbuhan normal hingga usia tertentu, lalu terjadi sesuatu seperti bencana yang membuat ia tidak lagi mendapatkan asupan yang cukup. Maka anak tersebut akan mengalami penurunan berat badan. Ini terjadi dalam waktu singkat dan pemulihannya juga cepat.

Lebih jauh Fauzan menyatakan keprihatinan dengan persoalan yang menimpa anak-anak di Kabupaten SBT itu.

"Berbagai langkah antisipasi juga sudah dilakukan, dan kami telah menyampaikan laporan ini kepada Dinas Kesehatan Provinsi Maluku agar bisa melakukan intervensi " katanya.

Bila kondisi seperti ini dibiarkan terus-menerus, maka nama provinsi secara umum dan khususnya di Kabupaten SBT bakal tercoreng.

"Karena kami yakin masih ada banyak kasus serupa di Kabupaten SBT namun tidak terekspos karena akses informasi yang terbatas," ujar politisi PKS ini.

Ia berharap ada perhatian serius pemerintah maupun Duta Stunting Maluku Widya Murad Ismail untuk memberikan solusi yang tepat.

Baca Juga

error: Content is protected !!