Sekilas Info

PENTAHBISAN GEREJA

Setelah Bergumul selama 11 Tahun, Jemaat GPM Hukuanakota di Pulau Seram Kini Miliki Gereja Batoi

Gereja Batoi di Jemaat GPM Hukuanakota yang baru diresmikan, Rabu (22/1/2020).

satumalukuID – Penantian panjang dan kerja keras Jemaat GPM Hukuanakota akhirnya berbuah sukacita. Mereka kini punya gereja baru yang diberi nama Batoi.

Peresmian Gereja Batoi ditahbiskan Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Athes J.S. Werinussa, Rabu (22/1/2020). Hingga selesai, pembangunan gedung gereja Batoi menelan anggaran sebesar Rp1,4 Miliar.

Kata Batoi diambil dari rumpun bahasa Alune yang berarti pertambahan, perkembangan atau kelimpahan.

Turut hadir dalam acara peresmian dan penahbisan gedung gereja Batoi adalah Bupati dan Wakil Bupati Kab. Seram Bagian Barat bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah [OPD], sejumlah basudara pela dari Tihulale dan anak-anak negeri Hukuanakota di rantau.

Pembangunan Gereja Batoi, sebagaimana dikisahkan Pdt Max Syauta, melalui rentang waktu yang cukup Panjang.

Proses pembangunan itu memperoleh momentum bersejarah saat peletakan batu pertama dan pembuatan fondasi, tanggal 19 Januari 2009. Saat itu, jemaat dipimpin oleh Pdt. Ny. M. Tuhuleruw sebagai Ketua Majelis Jemaat.

Sayang, semangat jemaat yang besar, tidak diimbangi dengan ketersediaan anggaran yang cukup. Alhasil pekerjaan itu terhenti.

Peralihan kepemimpinan jemaat kepada Pdt. H. Utra tahun 2014, pekerjaan pembangunan itu kembali dilanjutkan, tetapi hanya sampai pada tahap pengecoran fondasi.

Saat peralihan kepemimpinan jemaat kepada Pdt. William J. Hehakaya [2016], praktis proses pembangunan telah mandeg selama hampir 7 tahun. Tidak heran jika muncul rasa pesimisme dalam diri warga jemaat mewarnai pekerjaan pelayanan Pdt. William J. Hehakaya sejak awal. Apalagi profil fisiknya yang sama sekali bertolak belakang dengan gambaran dan idealisme umat tentang seorang Pendeta.

Pesimisme umat, tantangan pembiayaan, transportasi barang/material dan jumlah tenaga kerja asal jemaat yang sedikit sama sekali tidak menyurutkan semangat Majelis Jemaat dan Panitia Pembangunan untuk melangkah.

Upaya dana dilakukan secara simultan yang dikoorninir oleh Pdt. William J. Hehakaya, sambil berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memperoleh bantuan tenaga kerja. Baik di Ambon, Masohi dan Lease. Langkah-langkah itu perlahan-lahan diapresiasi oleh warga jemaat.

Mobilisasi material bangunan dipikul oleh warga jemaat dari Hunitetu menuju Hukuanakota menempuh jarak 8 km. Pada saat yag sama, sejumlah protes dilayangkan kepada pemerintah daerah karena akses jalan yang belum terbuka.

Bagaikan gayung bersambut, protes itu didukung oleh kalangan yang lebih luas, baik melalui media sosial maupun media cetak. Sejumlah kasus tentang penderitaan masyarakat di wilayah pegunungan kecamatan Inamosol menguak ke permukaan.

Sepanjang pertengahan tahun 2017-2019 tekanan karena kelanjutan pekerjaan dilalui dengan tertatih-tatih. Tetapi kabar baik datang kemudian. Jalan dari Hunitetu ke Hukuanakota kemudian dirintas/dibuka tahun 2018. Tetapi tidak mudah dilalui saat hujan karena longsor dan berlumpur.

Mobil atau motor yang memobilisasi material sering tertanam dalam lumpur. Warga jemaat selalu siap sedia untuk menarik/mendorong mobil keluar dari kubangan lumpur. Tak heran, kelancaran proses pembangunan baru terjadi pada 2 tahun terakhir yakni 2018-2019.

Pendeta William J Hehakaya bersama majelis Jemaat GPM Hukuanakota saat menjalani proses pentahbisa Gereja Batoi, Rabu (22/1/2020).

Penulis: m-5
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!