Sekilas Info

ANGKA KEMISKINAN

Turunkan Angka Kemiskinan, Anggota DPR RI Minta Potensi Maluku Dikembangkan dengan Riset Inovatif

istimewa Anggota Komisi VII dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Saadiah Uluputty, saat rapat dengar pendapat dengan Menteri Riset Dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

satumalukuID - Kekayaan dan potensi Maluku seharusnya dikembangkan dengan riset inovatif. Ini yang belum dilakukan di daerah ini. Maluku butuh pendekatan riset dan inovasi teknologi agar sumber daya yang tersedia terkelola secara baik.

Penegasan tersebut disampaikan anggota Komisi VII dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Saadiah Uluputty, saat rapat dengar pendapat dengan Menteri Riset Dan Teknolog (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Anggota legislatif dari daerah pemilihan Maluku ini mencontohkan, teknologi untuk mengolah produk cengkeh, pala dan kayu putih menjadi minyak atsiri.

Jika harga jual cengkeh dan pala masing masing Rp.100.000/kg dan Rp.70.000/kg, maka lanjut Saadiah, penghasilan dari cengkeh dan pala adalah sebesar Rp.2.95 triliun dan Rp.825 miliar.

Artinya, kata politisi PKS ini, jika produk ini dijual tanpa diolah, penerimaan yang diperoleh sebesar Rp.3,03 yrilyun per tahun. Tetapi jika diolah menjadi minyak atsiri maka akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp.1,14 trilyun dari minyak pala dan fuly. Dari cengkeh bisa mencapai 2,97 trilyun.

Karenanya Saadiah optimis, riset dan inovasi atas sumber daya Maluku akan memberi nilai tambah dan berdampak mensejahterakan masyarakat.

"Apalagi angka kemiskinan di Maluku masih cukup tinggi. Dibutuhkan upaya serius untuk menurunkannya. Salah satunya ada inovasi teknologi untuk mengelolah kekayaan alam Maluku”, tandas Saadiah.

Pada rapat tersebut, Komisi VII DPR RI menyoroti Riset BRIN yang belum fokus serta nilai tambahnya rendah bagi kesejahteraan masyarakat.

Saadiah dan sejumlah anggota Komisi VII mendorong agar Kemenristek memastikan, fokus riset betul–betul terarah.

Saadiah juga menyentil, nilai tambah riset yang dihasilkan tidak kompetitif. Dia memaparkan, riset yang digawangi BRIN sebaiknya dibawa ke kerangka kerja pembangunan ekonomi dan teknologi tepat guna yang bisa menjadi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.

“Pak Menteri, pastikan riset ke depan berbasis pada pada Prioritas Riset Nasional”, imbau Saadiah.

Kemenristek diminta Saadiah, perlu melakukan identifikasi potensi untuk penelitian dan inovasi. Jawab wujud inovasi riset dengan merilis antara lain pemanfaatan teknologi tepat guna untuk pengolahan produk dalam negeri.

"Kemenristek seharus mendorong lembaga perguruan tinggi dan universitas untuk ikut menggulungi riset secara serius. Kita punya soal pada hilirisasi hasil riset di perguruan tinggi. Tantangan ini harus diurai. Efektifitas riset di Universitas harusnya ditingkatkan," paparnya.

Sementara saat menyoroti Pusat Unggulan Iptek (PUI), Saadiah menyarankan Kemenristek memperjelas keberadaan lembaga PUI di daerah. Di daerah tidak ada, sementara sangat butuhkan.

"Harusnya penguatan koordinasi antara pusat dan daerah untuk memastikan kehadiran PUI di daerah, termasuk di Maluku," demikian Saadiah.

Penulis: Embong
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!