Sekilas Info

PARIWISATA

Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku Dinilai Belum Serius Tangani Pariwisata

indonesiakaya.com Lokasi Gong Perdamaian Dunia di Kota Ambon.

satumalukuID- Direktur PT Sandy de Lima Tour, Hellen de Lima menilai Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Provinsi Maluku, belum serius menangani wilayahnya sebagai salah satu tujuan destinasi wisata untuk turis nusantara maupun mancanegara.

Penilaian tersebut didasarkan hasil eksplorasi lokasi-lokasi Wisata di Ambon maupun Maluku. Selama ini,  menurut Hellen, pihaknya terus melakukan survei lokasi-lokasi yang bisa dijadikan objek wisata. Ini dilakukan dalam rangka menyambut kunjungan wisatawan asing dari kapal-kapal pesiar yang akan masuk Ambon maupun ke Maluku Tengah dan wilayah Maluku umumnya.

Dikatakan, walau kedatangan Kapal Pesiar sudah sekitar 10 kali namun Pemerintah Daerah hingga kini belum dapat menyiapkan Ambon dan Maluku jadi destinasi pariwisata dengan memiliki daya tarik sebagai destinasi unggulan. Padahal banyak potensi alam maupun tradisi budaya yang dimiliki.

Hellen mencontohkan, Museum Negeri Siwalima. Pada ruang promosi baju daerah, yang ada hanya baju Maluku Tengah. Sementara ruangan yang besar malah digunakan untuk baju-baju daerah provinsi lain.

Selain itu, sudah hampir 10 tahun gedung Museum Siwalima direnovasi tapi belum selesai sampai sekarang. Serta pondok souvenir sudah kumuh tidak dipelihara kebersihan dan penataannya.

“Turis mancanegara akhirnya hanya bisa masuk ke gedung kecil,” ujar Hellen.

Lokasi lain seperti Gong Perdamaian, dimana petugas Dinas Pariwisata memungut Rp5.000 per orang tetapi tidak memperhatikan apa fasilitas yang dinikmati.

Kemudian tidak ada pemandu disitu akibatnya museum foto di ruangan bawahnya tidak diketahui wisatawan, sehingga tidak dapat memberi kesan yang baik dan informasi bagi turis.

Hellen juga menyebutkan Pantai Namalatu di Latuhalat, secara alamiah berpotensi namun tidak ada daya tarik atau sesuatu yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.

“Alhasil terkadang kami harus mengadakan beberapa pertunjukan dan even dengan biaya yang cukup mahal. Padahal itu harusnya menjadi perhatian dari dinas berwenang dan terkait dari pihak Pemda,” tambahnya.

Hal yang sama juga terlihat di pantai Hunimua Negeri Liang, Maluku Tengah, yang sebenarnya ada daya tarik namun pengelolaannya belum baik dan tidak profesional.

“Kami yang ingin melakukan survey juga disuruh bayar dengan nada kasar. Padahal kami sebagai pelaku pariwisata yang mendatangkan wisatawan akan memberi pemasukan PAD," ungkapnya.

Dia berharap petugas Dinas Pariwisata Provinsi perlu diberi pendidikan pariwisata dan pemahaman tentang Sapta Pesona wisata.

Menurut Hellen, tujuan survei antara lain soal kesiapan destinasi yang layak artinya objek wisata ini layak dikunjungi atau tidak oleh wisatawan asing. Jika objek wisata tersebut layak, apakah dia bisa membawa kesan baik ataukah tidak.

Karena itu, ia mengharapkan, pemerintah daerah perlu tingkatkan kerjasama dengan pihak ketiga apabila mau pariwisata Maluku dikenal di pasar wisata nasional maupun internasional. Sebab banyak potensi alam dan tradisi budaya terdapat di Maluku namun belum ditangani secara baik dan profesional.

Sejauh ini kurang lebih 10 kali kapal pesiar yang masuk ke Ambon namun sejumlah objek wisata tidak dipersiapkan secara baik.

“Sementara untuk daya tarik harus disiapkan oleh kami dengan biaya yang sangat mahal,” ungkap Hellen yang juga mantan Sekjen KOI itu. (vonny litamahuputty/NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!