Sekilas Info

JEJAK MALUKU DEPOK

Jejak Orang Maluku di Depok, Tahun 1750 Ada Marga Pattimukay jadi Pemimpin Jemaat Gereja

sumber foto: www.soedira.com Suasana Jalan Pemuda Kota Depok belasan tahun lalu saat belum seramai sekarang. Tampak Gereja GPIB Imannuel yang juga adalah salah satu situs sejarah di Kota Depok.

satumalukuID - Kota Depok yang berdempetan dengan wilayah Jakarta Selatan, saat ini sudah terkesan sesak.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Depok pada Tahun 2018, kota kecil ini dihuni 2.330.333 jiwa dengan rincian 1.173.102 kaum laki-laki dan 1.157.231 perempuan.

Di antara jutaan orang-orang Depok yang berasal dari berbagai suku bangsa, terselip juga warga asal Maluku. Mereka tinggal tersebar di 11 kecamatan yang ada.

Lantas sejak kapan warga asal Maluku mulai menetap di Kota Depok? Kemungkinan sejak awal berdirinya Kota Depok.  Konon, kota Depok sendiri berawal dari tanah partikelir yang dimiliki Cornelis Chastelein.

Cornelis Chalestein awalnya bekerja di VOC. Namun pada akhir abad ke-17, dia keluar dari VOC dan membeli enam bidang tanah di wilayah Jatinegara, Kampung Melayu, Karanganyar, Penjambon, Mampang dan Depok. Namun, Depok menjadi wilayah yang lebih dimaksimalkan oleh Chastelein, karena dia melihat Depok sebagai daerah yang asri dan bisa dikembangkan menurut visi kerohaniannya.

Memang kabarnya, ketika pertama kali Cornelis Chastelein membuka Kawasan partikelir di Depok, dia menggunakan jasa warga-warga (yang saat itu disebut sebagai budak) dari bagian timur nusantara untuk mengelola lahan. Dan di antara mereka, ada juga yang berasal dari Maluku.

Namun, jejak itu hilang dan tak berbekas karena saat mewariskan wilayah partikelir yang dibelinya, Cornelis Chastelein memberi nama baru untuk para pekerjanya dari berbagai nusantara itu.

Chastelein memberi sedikitnya 12 nama marga untuk para budak yang dia bebaskan. Mereka jugalah yang mewarisi harta dan kekayaan milik Chastelein hingga saat ini.

Adapun ke-12 marga itu, adalah Bacas, Isakh, Jonathan, Jacob, Joseph, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel dan Zadokh.

Menurut Dr. van Fraassen, seorang antropolog dan Guru Besar di Universitas Leiden, terdapat kemungkinan yang besar bahwa nama-nama tersebut adalah nama tambahan baptisan mereka yang baru berdasarkan rekomendasi Cornelis Chastelein. Sayangnya, kini hanya tersisa sebelas marga saja karena marga Zadokh telah habis. Hal ini karena keturunan penerusnya kebanyakan adalah perempuan.

Jadi jelas, susah melacak adanya keturunan orang Maluku di antara Kaoem Depok sekarang ini. Karena itu tadi, mereka diberi nama marga baru.

Kendati begitu, salah satu warisan dari Cornelis Chastelein yakni Gereja GPIB Immanuel Depok setidaknya bisa mengungkap jejak orang Maluku. Apalagi ini merupakan salah satu gereja tertua di Depok.

Pada mulanya, gereja di Jalan Pemuda Depok Lama ini dibangun secara sederhana, terbuat dari kayu dan bambu. Namun, akibat pelapukan yang terjadi pada tahun 1715 dan 1792 gereja ini direnovasi.

Lantas, pada tahun 1834, sebuah gempa besar terjadi meruntuhkan seluruh bangunan sehingga akhirnya gereja ini didirikan kembali dengan komponen batu-batuan pada tahun 1854. Seiring berjalannya waktu, gereja ini mengalami pemugaran kembali pada tahun 1980 dan 1998 untuk menjadikan bangunan ini lebih luas dan bergaya modern.

Gereja GPIB Imannuel merupakan salah satu situs sejarah. Setidaknya, di gereja ini terdapat 12 pintu yang diberinama mewakili ke-12 nama marga yang diwariskan Chastelein. Ada juga lonceng gereja yang usianya sudah ratusan tahun.

Juga di gereja ini, terkuak adanya jejak Orang Maluku di Depok. Ini bisa dilihat dari nama pemimpin jemaat pada prasasti yang ada.

Tahun 1750, ada nama Johannes Pattimukay sebagai Hamba Tuhan yang melayani di Djemaat Masehi Depok. Marga Pattimukay merupakan salah satu marga yang berasal dari Negeri Waai, Pulau Ambon, Maluku Tengah. Dia merupakan pimpinan jemaat kedua setelah didahului oleh Saprima Lucas yang mulai menjadi gembala bagi jemaat masehi Depok pada 1713.

Setelah Johannes Pattimukay, selanjutnya hamba-hamba Tuhan yang bertugas melayani jemaat umumnya adalah orang-orang Belanda. Nanti pada 1942 hingga 1945, kembali muncul orang Maluku yang menjadi pimpinan jemaat, yakni Ds. W.H Tutuarima. Marga Tutuarima dikenal sebagai marga asal Pulau Saparua, Maluku Tengah.

Tahun 1948, Jemaat Masehi Depok kemudian bergabung ke Gereja Protestan di Indonesia Barat (GPIB). Dan sejak itu, muncul nama-nama orang Maluku menjadi pimpinan jemaat. Mereka di antaranya Pdt M. Sitaniapessy (1951 – 1954), Pdt F.J Limahelu ((1954 – 1962), Pdt C.Ch. Hursepunny (1962 – 1965) dan Pdt A.F Siwabessy ( 1974 – 1975).

Sejak tahun 1980 sampai sekarang, tetap saja ada orang Maluku yang menjadi pemimpin jemaat GPIB Depok. Ada Pdt JanTuasuun (1993 – 1997), Pdt Alexius Letlora (2013 – 2018), dan saat ini Pdt Ny Yvonne Taroreh – Loupatty. Itu belum ditambah lagi dengan pendeta-pendeta yang tidak menjabat ketua majelis jemaat namun ikut melayani.

Memang, tidak menutup kemungkinan bisa saja jejak orang Maluku di Depok sudah dimulai jauh dari tahun-tahun yang sudah dipaparkan. Karena tidak semua orang Maluku beragama Kristen dan masih banyak orang Maluku yang beragama Kristen tidak berprofesi sebagai Pendeta. Sayangnya, sampai sekarang belum ada fakta lain yang membuktikannya. Apalagi jika mau merunut hingga tahun 1700-an.

Namun, lepas dari jejak masa lalu, orang Maluku yang tinggal di Depok dari tahun ke tahun semakin bertambah jumlahnya. Hampir semua perumahan baru di Depok, pasti ada orang Maluku. Dan, semua tetap hidup dengan nilai-nilai yang diwarisi sebagai orang Maluku.

Penulis: Petra Josua
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!