Sekilas Info

SOSOK INSPIRATIF

Athyo, Perupa Asal Kepulauan Kei yang Ciptakan Rebab dari Batok Kelapa

satumalukuID - Terdengar alunan musik yang jarang sekali terdengar di telinga ketika saya tiba di Puritan Caffe, di kawasan Desa Poka, Kota Ambon, sore ini, Minggu (5/1/2020).

Terlihat di atas panggung caffe, seorang lelaki asyik memainkan alat musik gesek yang baru saya lihat sore ini. Bentuknya unik dan terbuat dari bahan utama kayu.

Sekira lima lagu dibawakan oleh pria tersebut, dengan tiga alat musik berbeda. Lagunya pun baru pertama kali saya dengar. Nampak para tamu yang hadir dengan seksama memperhatikan dan menikmati alunan musik yang dia bawakan.

Setelah dia tampil, saya langsung mengajaknya berkenalan sebab tertarik dengan alat musiknya yang sangat unik. Lelaki sederhana dengan rambut panjang ini, lebih senang dikenal dengan nama Athyo. Dia enggan menggunakan nama aslinya dan lebih suka langsung berbincang soal alat musik buatannya.

"Semua alat musik yang saya mainkan hari ini merupakan hasil karya sendiri. Semuanya terbuat dari bahan-bahan alami, seperti batok kelapa, serta kayu bekas yang telah terendam di laut. Dengna teredam di laut, sama saja kayu itu telah mengalami pengawetan alami dari kadar air laut," tuturnya.

Pria asal Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara ini menuturkan bahwa profesi sebenarnya adalah seorang perupa. Namun sejak tahun 2016 dia menyadari jika Maluku tidak memiliki alat musik jenis rebab.

"Selama ini yang kita tahu di Maluku hanya memiliki alat musik seperi tifa, dan suling. Padahal banyak daerah lain di Indonesia memiliki alat musik jenis rebab, yang diadopsi dari kebudayaan luar atau daerah lain di Indonesia," jelasnya.

Menurut Athyo, di Makassar sendiri mereka memiliki alat musik jenis rebab yakni Kesok-kesok yang diadopsi dari kesenian dan kebudayaan Sunda.

"Alat musik jenis rebab banyak kita jumpai di daerah Sumatera maupun Sunda. Karena itu saya pikir kenapa tidak membuat alat musik rebab yang diadopsi dari tradisi daerah lain, tanpa ada penyatuan pemikiran maupun alat-alat musik tersebut," ujarnya dengan semangat.

Dari situlah dia mulai membuat alat musik rebab menggunakan kearifan lokalnya di Kei. Bahan alami yang banyak tersedia adalah batok kelapa. Batok kelapa ini menjadi komponen terpenting, dan dipilih dengan baik, sebab jika bentuknya tidak sempurna akan mempengaruhi bunyi.

Karya pertamanya dia beri nama Hanarun. Dia membutuhkan waktu selama dua tahun untuk pengerjaannya. Mengingat karya pertama, kata Athyo, dan momentum dia terjun ke dunia pembuatan alat musik, jadi beberapa kali dia harus membuat revisi sehingga dapat sempurna menjadi satu alat musik rebab.

Karya berikutnya dia namai Ai dan Nag, lalu disusul lima alat musik tiup yang disebutnya sebagai anak-anak dari tiga alat musik gesek tersebut.

"Mereka ini saya buat khusus untuk memainkan musik-musik sastra Maluku terkhusus Kei, sebab kami memiliki sastra yang jarang dinyanyikan," tuturnya.

Bagi dia, masing-masing alat musik ciptaannya memiliki cerita sendiri-sendiri. Sebab jika saya membuat sebuah karya maka hanya satu kali saja, karena itu mereka tidak saya jual.

"Mereka tidak saya jual, sebab seluruh pikiran dan perasaan saya tuangkan ke sana dan masih butuh banyak penyempurnaan," tuturnya.

Dia menambahkan, mungkin jika kedepannya sudah merasa puas dengan hasil yang ada, baru dia akan berpikir untuk menerima pesanan.

"Sebenarnya pernah ada yang ingin membeli alat musik saya ini. Pada kesempatan tampil di London, Inggris waktu itu, musisi asal negara ini, Famingos ingin membeli alat musik saya. Namun tidak saya jual," kisahnya.

Kedepan Athyo berharap dapat membuat pameran tunggal serta konser bersama seluruh hasil karyanya.

"Jika saya menambah beberapa karya lagi maka saya sudah dapat membuat pmersn tunggal mengenai alat musik dan lukisan yang saya buat. Selain ini saya berencana ingin menulis buku tentang hasil alat musik hasil karya saya, karena saya ingin orang tidak hanya sekedar melihat mereka sebagai alat musik, namun melihat mereka sebagai sebuah tokoh," pungkasnya.

Penulis: Tiara Salampessy
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!