Sekilas Info

PENTAHBISAN GEREJA

Peresmian Gereja Taman Hoea Jadi Ajang Silaturahim Tiga Negeri Gandong Ulath, Oma dan Buano

John Nikita S Peresmian Gereja Taman Hoea Negeri Ullath di Pulau Saparua, menjadi ajang silaturahim anak, cucu, dan cicit dari tiga gandong moyang penghuni Negeri Oma di Pulau Haruku, dan Negeri Buano di Pulau Seram.

satumalukuID - Peresmian gedung Gereja Taman Hoea menjadi ajang silaturahim anak, cucu, dan cicit dari tiga gandong (saudara kandung) moyang penghuni Negeri Ullath di Pulau Saparua, Negeri Oma di Pulau Haruku, dan Negeri Buano di Pulau Seram.

Konon, tiga gandong tersebut merantau dari Malaka dan masing-masing memilih satu tempat untuk menetap. Hikayat tersebut dituangkan ke dalam sebuah lagu berjudul "Tiga Nenek Moyang Ade Kaka (Tiga Wanita Kakak Beradik)" ciptaan Zeth Telehala (almarhum).

Baca Juga:

"Sio mama, dengar beta mau carita, tiga dara di zaman dulu kala. Waktu kecil, ibu bapa pelihara, sudah besar tinggal (-kan) kampung dan halaman. Dari Malaka....tiga orang beradik kaka, naik perahu dan tujuan datang ke Maluku. Di Tanjung Sole perceraian dan perjanjian, waktu tiap moyang telah mendapat tempat diam," demikian penggalan lirik lagu tersebut.

Ullath dan Oma beragama Kristen, sementara Buano, yang tertua di antara mereka, beragama Islam.

Persaudaraan tiga negeri bersaudara kandung itu terlihat jelas dari kehadiran utusan Buano dan Oma pada acara peresmian Gereja Taman Hoea.

Sehari sebelum peresmian mereka datang dan disambut di Baileo (tempat pertemuan adat) Beilohy Amalatu di samping kanan gereja, saling sapa dengan kata "Gandong-e".

Penulis: John Nikita S/ant
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!